Bener Meriah dan Aceh Tengah Kurang Gencar Promosikan Pariwisata

Banda Aceh, MINA – Operator penerbangan mengungkapkan, jumlah penumpang pesawat rute Bandar Udara (Bandara) Rembele, Simpang Tiga Redelong, Kabupaten Bener Meriah, Aceh, mengalami tren penurunan selama delapan bulan terakhir, diakibatkan pemerintah daerah Bener Meriah dan Aceh Tengah kurang gencar melakukan promosi sebagai daerah destinasi wisata di dataran tinggi Aceh.

Tahun ini  jumlah penumpang dari Bandara Rembele ke Bandara Kualanamu rata-rata hanya mencapai 40 orang, sementara dari Kualanamu Medan ke Bandara Rembele rata-rata berjumlah 20 orang.

“Jumlah penumpang rata-rata dari Redelong ke Bandara Kualanamu sekitar 40 orang. Namun dari Kualanamu ke sini rata-rata cuma 20-an orang,” ujar Station Manager Wings Air Bandara Rembele, Erwanda, Selasa (4/9).

Selain destinasi wisata, katanya, wilayah tengah di Aceh tersebut juga dikenal sebagai daerah penghasil kopi terbaik dunia baik jenis arabika maupun robusta dengan kualitas ekspor, dan memiliki hamparan Danau Laut Tawar seluas 55 kilometer persegi pada ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut.

“Mungkin imbauan pemda setempat yang masih kurang, sebagai tujuan wisata di daerah sejuk ini akibat berselimut kabut,” ujar dia.

Data Badan Pusat Statistik Aceh dari Januari hingga Juni 2019 mencatat Bandara Rembele kehilangan 8.367 orang penumpang pesawat dari sebelumnya tercatat 17.901 orang di tahun 2018 menjadi 9.534 orang tahun ini.

Wings Air merupakan satu-satunya maskapai penerbangan dalam tiga tahun terakhir melayani penumpang dari Bandara Internasional Kualanamu di Deli Serdang, Sumatera Utara menuju Bandara Rembele dan sebaliknya.

“Kami informasikan ke masyarakat di wilayah tengah ini bahwa jika terbang dari Bandara Rembele bisa terkoneksi ke seluruh daerah menggunakan dari Lion Air Group, yakni Batik Air, Lion Air, Wings Air, dan Malindo Air,” kata Erwanda.

Humas Unit Pengelola Bandara Rembele, Iwan Mulia mengatakan pihaknya berharap pemerintah kedua kabupaten tersebut agar lebih gencar lagi dalam melakukan promosi pariwisata supaya penerbangan di bandara tersebut tetap bertahan.

“Selain sebagai daerah penghasil kopi, kedua wilayah ini juga mempunyai daya tarik tersendiri. Kita tahu ada objek wisata dan potensi wisata cukup bagus, seperti wisata pegunungan,” katanya pula.

“Kita berharap pemerintah di sini harus terus berbenah, dan mendatangkan wisatawan. Kami selaku operator bandara dan operator penerbangan, siap mendukung aktivitas wisatawan yang akan mendatangi daerah dataran tinggi Gayo ini,” ujar Iwan. (L/AP/P1 )

Mi’raj News Agency (MINA)