Berapa Harga Nafas Kita?

Oleh Bahron Ansori, wartawan MINA

Dalam hidup ini seringkali kita dihadapkan pada berbagai kompleksnya permasalahan. Permasalahan satu belum selesai, datang lagi masalah lain. Semua masalah silih berganti menghampiri. Tak sedikit diantara manusia yang dengan mudah mengeluh dalam menghadapi masalah.  Bahkan, tak sedikit yang rela mengakhiri hidupnya hanya karena tak mampu melerai masalah yang dihadapinya.

Karena banyaknya masalah pula banyak di antara kita pada akhirnya menjadi futur alias kurang bersyukur (kufur nikmat). Pertanyaannya, seberapa  besar masalah-masalah yang kita hadapi dan terima jika dibanding kasih sayang yang diberikan Allah kepada kita?

Saya ingin mengajak Anda untuk merenung sejenak, dan membandingkan antara ujian-ujian yang Allah titipkan dengan nikmat-nikmat-Nya yang diberikan dengan melimpah. Salah satu contoh nimat dari Allah Ta’ala yang telah diberikan-Nya kepada setiap makhluk hidup termasuk manusia adalah nikmat NAFAS.

Coba tahan nafas Anda selama beberapa detik saja. Apa yang terjadi? Saya yakin setelah Anda menahan untuk tidak bernafas beberapa detik, lalu Anda bernafas, pasti dada Anda akan terasa sesak, seolah-olah terhenti. Artinya, betapa pentingnya nafas bagi seorang manusia. Singkatnya, tanpa nafas, Anda dan saya hanya mayat yang siap dikuburkan.

Sekali bernafas, kebanyakan manusia memerlukan 0,5 liter udara. Bisa ditebak, bila per orang dalam setiap menitnya bernafas sebanyak 20 kali, itu artinya udara yang dibutuhkan sebanyak 10 liter. Dalam sehari, setiap orang memerlukan sekitar 14.400 liter udara. Wow, dahsyat sekali bukan?

Pertanyaan selanjutnya, berapa harga nafas seorang manusia jika dirupiahkan? Seperti diketahui, udara yang dihirup manusia terdiri dari beraneka gas semisal oksigen dan nitrogen. Keduanya, secara berurutan antara 20% dan 79% mengisi udara yang ada disekitar manusia. Bila perbandingan oksigen dan nitrogen dalam udara yang manusia hirup sama, maka setiap kali bernafas manusia membutuhkan oksigen sebanyak 100 ml dan 395 ml lainnya berupa nitrogen. Artinya, dalam sehari manusia menghirup 2880 liter oksigen dan 11.376 liter nitrogen.

Jika harga oksigen yang dijual saat ini adalah Rp 25.000 per liter dan biaya nitrogen per liternya Rp 9.950 (harga nitrogen $ 2.75 per 2,83 liter, data nilai tukar dollar pada 9 November 2009), maka setiap harinya manusia menghirup udara yang sekurang-kurangnya setara dengan Rp 176.652.165. Dengan kata lain, bila manusia diminta membayar sejumlah udara yang dihirup berarti setiap bulannya harus menyediakan uang sebesar 5,3 Miliar rupiah. Dalam setahun, manusia dapat menghabiskan dana 63,6 Miliar.

Udara yang melimpah ruah di alam adalah bukti kasih sayang Allah yang tak terkira. Sekumpulan udara tersebut diberikan Allah kepada manusia dengan cuma-cuma. Tak sepeser pun Allah meminta dari manusia bayaran atas nikmat yang amat penting tersebut. Oleh karenanya, sudah sepantasnyalah manusia bersyukur kepada Sang Pencipta. Dia-lah Rabb yang mengurus kita di siang dan di malam hari sebagaimana firman Allah, “katakanlah: ‘Siapakah yang dapat memelihara kamu di waktu malam dan siang hari selain (Allah) Yang Maha Pemurah?’…” (QS Al Anbiyaa’ 21: 42).

Sudah berapa lamakah kita hidup di bumi Allah ini? Berapa rupiah biaya yang harus kita keluarkan untuk hidup selama itu jika udara yang kita hirup harus dibayar? Sungguh, betapa lemahnya makhluk bernama manusia ini, dan sedikit pun tidaklah pantas untuk berlaku SOMBONG di bumi ini. Jika Allah menggunakan rumus dagang kepada manusia, maka orang yang paling kaya sekalipun di permukaan bumi ini tidak akan pernah sanggup melunasi biaya nafas hidupnya. Jadi, masihkah kita tak hendak bersyukur?

Jujur, kita masih terlalu congkak dengan segala titipan dari-Nya. Kita seringkali tak sadar dan tak mau menyadari jika semua yang kita miliki hari ini termasuk tubuh kita adalah titipan dari Allah. Kita juga seringkali lupa bahwa Allah hanya meminjamkan segala fasilitas hidup ini kepada kita. Ingat, meminjamkan, bukan memiliki. Fasilitas-fasilitas yang Allah berikan itu 100% gratis. Tidak pernah Allah meminta bayaran atas semua fasilitas yang diberikan-Nya. Fasilitas yang saya maksud itu adalah semua panca indera yang dimiliki, akal, hati, bahkan fisik itu sendiri diberikan secara gratis.

Tapi, pernahkah kita mengapresiasi semua pemberian Allah itu dengan berusaha mensyukuri segala nikmat yang telah dilimpahkan-Nya? Syukur nikmat memang tidak mudah, tapi juga tidaklah sesulit yang dibayangkan.

Allah Bukan Pedagang

Andai Allah adalah pedagang yang selalu berhitung untung dan rugi, tentu setiap manusia takkan pernah mampu membayar semua hutangnya. Sungguh, nikmat Allah itu tak pernah mampu dihitung oleh manusia, seperti dalam firman-Nya yang artinya,

وَإِن تَعُدُّواْ نِعْمَةَ اللّهِ لاَ تُحْصُوهَا إِنَّ اللّهَ لَغَفُورٌ رَّحِيمٌ

“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs. An-Nahl 16:18)

Allah juga yang telah memberikan kita segala keperluan yang kita butuhkan. Seperti dalam firman-Nya yang artiya, “Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dari segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah kamu dapat menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).” (QS. Ibrahim 14:34)

Karena itu, tak pantas kita mengufuri segala nikmat yang telah Allah limpahkan ini. Bersyukurlah. Jangan sampai Allah bertanya, Maka ni’mat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” Wallahua’lam. (R02/P001)

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)