Berbagi Dari “Sedekah Berkah”, Bubur Harisa Hingga Sembako

Seorang wanita berkendara sepeda motor sore itu, berhenti di depan sebuah papan gantungan, lalu turun dari kendaraannya sambil menenteng sebuah kantong keresek warna hitam berisi makanan, lantas menggantungkannya.

Tak lama kemudian datang pula seorang wanita pengendara sepeda, berbuat serupa – menggantungkan keresek warna putih di papan yang mirip “kapstok” yang sudah terisi beberapa bungkusan plastik tersebut.

Selang beberapa waktu kemudian seorang pria datang menghampiri papan gantungan, mengamati papan sejenak, lalu mengambil satu keresek, kemudian pergi. Di papan tersebut ada tulisan yang berbunyi: “Ambil Secukupnya”.

Itulah “Sedekah Berkah” – makanan untuk berbuka puasa – yang digagas oleh kelompok pengajian ibu-ibu “Mergo Tunggal” di dusun Ngentak, Depok, Sleman, Jogyakarta pada bulan Ramadhan kali ini.

Warga yang ingin bersedekah berbagi kebaikan dengan sesama yang kurang mampu bisa menggantungkan makanan di satu titik yang sudah ditentukan dan mereka yang membutuhkan, bisa mengambil makanan tersebut secara cuma-cuma.

Di Masjid Wakaf Asy Syafii Bayasut di Kelurahan Panjunan, Kota Cirebon ada tradisi buka puasa dengan bubur Harisa. Bubur yang selalu ada saat bulan Ramadhan ini dimasak oleh warga keturunan di kawasan itu. Dibagikan untuk berbuka puasa bagi warga setempat dan para musafir yang singgah di masjid itu.

Biasanya selesai asar, mulai ramai dan bubur siap dibagikan. Tradisi ini sudah berjalan selamat tiga generasi dibuat turun temurun oleh keturunan Syekh Muhammad Islam Bayasut.

Harisa, adalah bubur beras dengan komposisi bumbu dan toping ala Timur Tengah. Menurut Abdullah bin Islam, salah satu cucu Syekh Muhammad Islam Bayasut, bubur ini biasa disajikan dengan rempah dan toping potongan daging kambing.

Selain menyajikan bubur, di masjid itu tersedia minuman khas – kopi jahe dengan gula merah, sereh, dan bumbu-bumbu tradisonal lainnya.

Seorang wanita baya di Bandung, melakukan aksi unik yang menyentuh – lansia 84 tahun yang tidak mau disebut namanya itu menaruh beberapa bungkus mi instan di luar pagar, agar bisa diambil secara gratis oleh siapapun yang membutuhkan.

Hanya dua jam setelah dia menggantungkan sejumlah bungkus mie, sudah ada 16 orang termasuk driver ojol dan pedagang keliling yang mengambil mie instan gratis tersebut. “Insyaa Allah nanti lanjut beras….” kata si Oma.

Seorang ibu rumah tangga di Yogya,
Ardiati (53), menata kantong plastik berisi bahan makanan – beras, telor, minyak goreng – lalu saat subuh digantung di sebilah kayu di pinggir jalan depan rumahnya.

Di secarik kertas yang ditempel dekat kantong-kantong plastik itu tertulis ‘Gratis, sumonggo bagi yang membutuhkan’. Pada selembar kertas lagi tertulis, ‘Dengan senang hati, dipersilakan juga bagi yang mau ikut menambah/memberi di sini’.

Gerakan gantung sembako itu tercetus dari kepedulian dia pada sesama yang di-PHK atau dirumahkan akibat PSBB, yang pastinya tidak lagi punya penghasilan. Lama
kelamaan para tetangga tergerak ikut membantu dengan cara yang sama.

Di Surabaya warga Kampung Medokan Ayu Utara, juga menggantungkan makanan di dinding dan pagar rumah. “Awalnya saya memberikan paket sembako bagi para tetangga, terus kepikiran kenapa enggak dipajang di depan rumah biar warga yang membutuhkan tahu dan dapat ambil sendiri,” ujar penggagas ide ini, Deasy Prasetyo.

“Gagasan itu disambut hangat dan para tetangga mulai ikutan. Jumlah paket tergantung pada para donatur,” katanya sambil menambahkan aksi itu dilatarbelakangi rasa solidaritas lantaran maraknya PHK serta kesulitan mencari penghasilan di masa pandemi dan bulan puasa ini.

Salah seorang warga yang membutuhkan, Sulastri mengaku sangat terbantu oleh gerakan ini. “Ini pertama kali saya ambil paket dan senang rasanya dapat tertolong oleh aksi gotong royong warga ini,” ujarnya.

Banyak cara untuk berbagi dengan sesama, tanpa harus berfikir tentang besar kecilnya sadaqoh. Seperti tertulis dalam sebuah Hadis: “Jangan berpaling dari orang miskin meski yang bisa kamu berikan kepadanya hanya setengah kurma. Jika kamu mencintai orang miskin dan membawa mereka di dekatmu, maka Tuhan akan membawamu mendekati Dia pada hari kiamat”. (A/RS1/P1)