Berhati-hatilah Terhadap Fitnah

Oleh: Mustofa Kamal, Mahasiswa Sekolah Tinggi Shuffah Al-Qur'an Abdullah bin Mas'ud (STISA-ABM) Lampung. (Foto: Dok. Pribadi)

Oleh: Mustofa Kamal, Mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Shuffah Al-Qur’an Abdullah bin Mas’ud (STISA-ABM) Lampung.

Allah Ta’ala telah memberikan warning dalam firman-nya pada Surat Al-Anfal (8) Ayat 25,

وَٱتَّقُوا۟ فِتْنَةًۭ لَّا تُصِيبَنَّ ٱلَّذِينَ ظَلَمُوا۟ مِنكُمْ خَآصَّةًۭ ۖ وَٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلْعِقَابِ

Dan peliharalah dirimu dari pada fitnah (siksaan) yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.

Arti fitnah menurut ayat di atas dijelaskan oleh para umala adalah perilaku seperti: murtad (keluar dari Islam), syirik, perang saudara, kekejaman, kakacauan, ujian dan cobaan, serta perkataan jelek. Fitnah juga bisa dikatakan teguran, fitnah juga bisa berarti bencana.

Fitnah (murtad) keluar dari Islam dan berlaku sirik.

Allah Taala berfirman dalam QS. Al-Baqarah:193

وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لَا تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ لِلَّهِ فَإِنِ انْتَهَوْا فَلا عُدْوَانَ إِلا عَلَى الظَّالِمِينَ (193) }

Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) agama itu hanya untuk Allah belaka. Jika mereka berhenti (dari memusuhi kalian), maka tidak ada permusuhan (lagi) kecuali terhadap orang-orang yang zalim.

Yang dimaksud dengan fitnah dalam ayat tersebut diatas adalah ialah syirik (mempersekutukan Allah). Demikianlah menurut apa yang telah dikatakan oleh Ibnu Abbas, Abul Aliyah, Mujahid, Al-Hasan, Qatadah, Ar-Rabi’, Muqatil ibnu Hayyan, As-Saddi, dan Zaid ibnu Aslam.

Orang yang berbuat syirik maka telah keluar dari Islam dan orang yang keluar dari Islam adalah Murtad, dan Allah memerintahkan untuk memerangi kemusyrikan sehingga tidak ada lagi fitnah atau perilaku kesyirikan tersebut, sehingga Allah melanjutkan dalam firman: وَيَكُونَ الدِّينُ لِلَّهِ. Dan (sehingga) agama itu hanya untuk Allah belaka.

Yakni hanya agama Allah-lah menang lagi tinggi berada di atas agama lainnya, seperti pengertian yang terkandung di dalam Hadits Sahihain:

عَنْ أَبِي مُوسَى الْأَشْعَرِيِّ، قَالَ: سُئِل النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الرَّجُلِ يُقاتل شُجَاعَةً، وَيُقَاتِلُ حَميَّة، وَيُقَاتِلُ رِيَاءً، أَيُّ ذَلِكَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ؟ فَقَالَ: “مَنْ قَاتَلَ لِتَكُونَ كَلِمَةُ اللَّهِ هِيَ الْعُلْيَا فهو فِي سَبِيلِ اللَّهِ”

Melalui Abu Musa Al-Asy’ari yang menceritakan: Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam pernah ditanya mengenai seorang lelaki yang berperang karena keberaniannya, seorang lelaki yang berperang karena fanatiknya, dan seorang lelaki yang berperang karena riya (pamer), manakah di antaranya yang termasuk ke dalam perang di jalan Allah? Nabi Shalallahu’alaihi Wasallam menjawab, “Barang siapa yang berperang demi meninggikan kalimah Allah, maka dia adalah orang yang berperang di jalan Allah.”

Di dalam kitab Sahihain disebutkan pula hadis berikut:

“أمرْتُ أنْ أقاتلَ النَّاسَ حَتَّى يَقُولُوا: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، فَإِذَا قَالُوهَا عَصَمُوا مِنِّي دِمَاءَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ إِلَّا بِحَقِّهَا، وَحِسَابُهُمْ عَلَى اللَّهِ”

Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka mengatakan tidak ada Tuhan selain Allah; apabila mereka mau mengucapkannya, berarti mereka memelihara darah dan harta bendanya dariku, kecuali karena alasan yang hak, sedangkan perhitungan mereka (yang ada di dalam hati mereka) diserahkan kepada Allah.

Fitnah adalah cobaan

firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

{وَجَعَلْنَا بَعْضَكُمْ لِبَعْضٍ فِتْنَةً أَتَصْبِرُونَ وَكَانَ رَبُّكَ بَصِيرًا…}

…Dan Kami jadikan sebagian kalian cobaan bagi sebagian yang lain. Maukah kalian bersabar?. Dan adalah Tuhanmu Maha Melihat.(QS. Al-Furqan: 20)

Yaitu Kami uji sebagian kalian dengan sebagian yang lain, dan Kami cobai sebagian kalian dengan sebagian yang lain agar Kami mengetahui siapa orang yang taat dan siapa orang yang durhaka (di antara kalian).

Kita hidup dalam ruang lingkup sosial, tentu dengan beraneka ragam cobaan dan ujian, lalu apakah kita tetap pada koridor ketaatan kepada Allah, yakni tetap bersabar, dan tetap Istiqomah dalam ketaatan ataukah berputus asa?.

Terkadang kita diberi cobaan dengan kepahitan, atau dengan rasa manis kehidupan. Tatkala dicoba dengan kepahitan lalu berkeluh kesah dan menjauh dari Allah, atau tatkala diberi manisnya hidup lalu kita lupa kepada Allah dan menjauh dari Allah. Maka orang-orang yang tetap sabar dalam ketaatan dan tetap mendekatkan diri kepada Allah, itulah orang yang berhasil melewati ujian.

Terkadang orang diuji dengan hal-hal yang membahayakan, ia ingat Allah dan berdoa minta perlindungan, namun setelah diberi keamanan lupa kepada Allah. Terkadang juga diuji dengan kepintaran juga menjauh dari Allah bahkan berprilaku sombong. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Az-Zumar: 49

فَإِذَا مَسَّ ٱلْإِنسَـٰنَ ضُرٌّۭ دَعَانَا ثُمَّ إِذَا خَوَّلْنَـٰهُ نِعْمَةًۭ مِّنَّا قَالَ إِنَّمَآ أُوتِيتُهُۥ عَلَىٰ عِلْمٍۭ ۚ بَلْ هِىَ فِتْنَةٌۭ وَلَـٰكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُونَ

Maka apabila manusia ditimpa bahaya ia menyeru Kami, kemudian apabila Kami berikan kepadanya nikmat dari Kami ia berkata: “Sesungguhnya aku diberi nikmat itu hanyalah karena kepintaranku”. Sebenarnya itu adalah ujian, tetapi kebanyakan mereka itu tidak mengetahui.

Fitnah adalah siksaan

Allah berfirman dalam QS. As-Saffat: 63

إِنَّا جَعَلْنَـٰهَا فِتْنَةًۭ لِّلظَّـٰلِمِينَ

Sesungguhnya Kami menjadikan pohon zaqqum itu sebagai siksaan bagi orang-orang yang zalim.

Qatadah mengatakan bahwa ketika disebutkan pohon zaqqum, maka orang-orang yang sesat merasa keheranan dan mengatakan, “Teman kalian ini memberitakan bahwa di dalam neraka terdapat pohon, padahal api itu membakar pohon.” Maka Allah menurunkan firman-Nya:

{إِنَّهَا شَجَرَةٌ تَخْرُجُ فِي أَصْلِ الْجَحِيمِ}

Sesungguhnya dia adalah sebatang pohon yang keluar dari dasar neraka yang menyala. (QS. Ash-Shaffat: 64)

Dengan kata lain, dapat disebutkan bahwa pohon zaqqum itu hidup dari api dan diciptakan dari api.

Mujahid mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Sesungguhnya Kami menjadikan pohon zaqqum itu sebagai siksaan bagi orang-orang yang zalim. Abu Jahal la’natullah mengatakan bahwa sesungguhnya zaqqum itu adalah buah kurma yang dicampur dengan mentega, lalu kita santap sebagai makanan.

Adanya berita tentang pohon zaqqum yang ada di neraka adalah ketentuan Allah Subhanahu wata’ala, lalu iman atau tidakkah manusia. Siapa saja diantara mereka yang membenarkannya berarti telah beriman dan siapa saja diantara mereka yang mendustakannya tidak percaya berarti mereka telah kufur.

Itulah ujian, itulah cobaan tentang keimanan, terkadang sesuatu yang difirmankan oleh Allah tidak bisa dicerna dengan akal dan penafsiran namun harus diterima dengan keimanan.

Makna ayat tersebut di atas semakna dengan firman-Nya:

{وَمَا جَعَلْنَا الرُّؤْيَا الَّتِي أَرَيْنَاكَ إِلا فِتْنَةً لِلنَّاسِ وَالشَّجَرَةَ الْمَلْعُونَةَ فِي الْقُرْآنِ وَنُخَوِّفُهُمْ فَمَا يَزِيدُهُمْ إِلا طُغْيَانًا كَبِيرًا}

Dan Kami tidak menjadikan mimpi yang telah Kami perlihatkan kepadamu, melainkan sebagai ujian bagi manusia dan (begitu pula) pohon kayu terkutuk dalam Al-Qur’an. Dan Kami menakuti mereka, tetapi yang demikian itu hanyalah menambah besar kedurhakaan mereka. (QS. Al-Isra: 60)

Orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah maka ia tidak akan percaya terhadap apa-apa yang di firmankan Allah. Ia akan mempolitisir ayat, akan mengoreksi dan akan membuat penafsiran sendiri seperti Abu Jahal dalam memaknai ayat tersebut.

Maka fitnah (siksaan) pasti akan ditimpakan kepada mereka (orang-orang kafir) baik ketika hidup di dunia terlebih lagi kelak di akhirat.

Fitnah adalah kesesatan

Allah Subhanahu wata’ala berfirman dalam QS. Al-Ma’idah: 41,

۞ يَـٰٓأَيُّهَا ٱلرَّسُولُ لَا يَحْزُنكَ ٱلَّذِينَ يُسَـٰرِعُونَ فِى ٱلْكُفْرِ مِنَ ٱلَّذِينَ قَالُوٓا۟ ءَامَنَّا بِأَفْوَٰهِهِمْ وَلَمْ تُؤْمِن قُلُوبُهُمْ ۛ وَمِنَ ٱلَّذِينَ هَادُوا۟ ۛ سَمَّـٰعُونَ لِلْكَذِبِ سَمَّـٰعُونَ لِقَوْمٍ ءَاخَرِينَ لَمْ يَأْتُوكَ ۖ يُحَرِّفُونَ ٱلْكَلِمَ مِنۢ بَعْدِ مَوَاضِعِهِۦ ۖ يَقُولُونَ إِنْ أُوتِيتُمْ هَـٰذَا فَخُذُوهُ وَإِن لَّمْ تُؤْتَوْهُ فَٱحْذَرُوا۟ ۚ وَمَن يُرِدِ ٱللَّهُ فِتْنَتَهُۥ فَلَن تَمْلِكَ لَهُۥ مِنَ ٱللَّهِ شَيْـًٔا ۚ أُو۟لَـٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ لَمْ يُرِدِ ٱللَّهُ أَن يُطَهِّرَ قُلُوبَهُمْ ۚ لَهُمْ فِى ٱلدُّنْيَا خِزْىٌۭ ۖ وَلَهُمْ فِى ٱلْـَٔاخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمٌۭ

Hai Rasul, janganlah hendaknya kamu disedihkan oleh orang-orang yang bersegera (memperlihatkan) kekafirannya, yaitu diantara orang-orang yang mengatakan dengan mulut mereka: “Kami telah beriman”, padahal hati mereka belum beriman; dan (juga) di antara orang-orang Yahudi. (Orang-orang Yahudi itu) amat suka mendengar (berita-berita) bohong dan amat suka mendengar perkataan-perkataan orang lain yang belum pernah datang kepadamu; mereka merubah perkataan-perkataan (Taurat) dari tempat-tempatnya. Mereka mengatakan: “Jika diberikan ini (yang sudah dirubah-rubah oleh mereka) kepada kamu, maka terimalah, dan jika kamu diberi yang bukan ini maka hati-hatilah”. Barangsiapa yang Allah menghendaki kesesatannya, maka sekali-kali kamu tidak akan mampu menolak sesuatupun (yang datang) daripada Allah. Mereka itu adalah orang-orang yang Allah tidak hendak mensucikan hati mereka. Mereka beroleh kehinaan di dunia dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar.

Kesesatan itu adalah lebel bagi orang-orang yang lambat kepada kebaikan tapi bersegera kepada kejelekan kepada kemaksiatan (kekafiran), label buat munafik, lebel buat orang-orang Yahudi yang biasa merubah kalimat-kalimat Allah dan menyimpangkannya, dan yahudi yang biasa menebar berita palsu.

Karena kesesatannya Allah akan mengumpulkan mereka orang munafik dan orang kafir dalam satu majelis yakni majelis neraka, firman Allah dalam QS. An-Nisa:140

..إِنَّ ٱللَّهَ جَامِعُ ٱلْمُنَـٰفِقِينَ وَٱلْكَـٰفِرِينَ فِى جَهَنَّمَ جَمِيعًا…

Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam Jahannam.

Itulah sebagian dari penjabaran tentang fitnah, maka setiap penyimpangan adalah fitnah (berakibat fitnah) bisa saja fitnah itu berupa musibah, cobaan, teguran, kesesatan atau juga siksa, maka takutlah akan fitnah atau berhati-hatilah terhadap fitnah yang tidak hanya menimpa orang-orang yang berbuat dzalim di antaramu saja.

Karena dampak dari pada kedzaliman dan kemaksiatan itu akan merata, dan tugas kita adalah beramar ma’ruf dan nahi mungkar.

Banyak orang yang berbuat kebaikan. Tapi ketika ada sekelompok orang yang berbuat kedzaliman kemungkaran dan kemaksiatan dan orang-orang yang berbuat baik itu membiarkan saja dan tidak mencegahnya, maka lambat atau cepat fitnah akan melanda.

Ingat fitnah itu bisa berwujud peperangan, bencana, dan kekacauan. Kalau ketiganya itu telah terjadi itulah teguran dari Allah agar kita bisa kembali kepada jalan yang benar.

Maka jalan keluarnya marilah kita tetap beriman dan bertaqwa dengan segala aplikasinya, pasti akan aman. Allah Ta’ala berfirman dalam QS. Al-A’raf: 96

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ ٱلْقُرَىٰٓ ءَامَنُوا۟ وَٱتَّقَوْا۟ لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَـٰتٍۢ مِّنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلْأَرْضِ وَلَـٰكِن كَذَّبُوا۟ فَأَخَذْنَـٰهُم بِمَا كَانُوا۟ يَكْسِبُونَ

Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.

Semoga kita semuanya bisa mengambil hikmah dibalik terjadinya segala macam fitnah dan kita mendapat keselamatan atas pertolongan Allah, Aamiin. (A/mus/B03/P2).

Mi’raj News Agency (MINA).