Berjodoh dengan Bidadari Bermata Jeli [Tadabbur Qs. Ad-Dukhan: 51-54]

Oleh Bahron Ansori, wartawan MINA

Adakah di antara kita yang sudah pernah melihat bidadari? Berbagai kalangan pernah mencoba mendeskripsikan seperti apakah bidadari itu. Hasilnya, semua hanya sesuai imajinasinya masing-masing saja. Namun, tidak bagi Allah Ta’ala. Dia-lah yang Maha Pencipta. Dia lebih tahu seperti apa Bidadari yang kelak akan dijodohkan-Nya kepada orang-orang mukmin saat di Surga-Nya kelak.

Bicara tentang bidadari, tergambar dalam benak kita bahwa ia adalah wanita cantik yang sempurna paras dan tubuhnya. Cantik lagi menawan hati bagi siapa saja yang melihatnya. Lalu bagaimana gambaran bidadari di dalam Surga yang Allah Ta’ala ciptakan?

Setidaknya ada beberapa ayat dalam Al Qur’an yang menerangkan tentang bidadari ini. Pertama, dalam Qur’an surat Ad-Dukhan ayat 51-54, Allah Subhana wa Ta’ala berfirman,

إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي مَقَامٍ أَمِينٍ فِي جَنَّاتٍ وَعُيُونٍ يَلْبَسُونَ مِن سُندُسٍ وَإِسْتَبْرَقٍ مُّتَقَابِلِينَ كَذَلِكَ وَزَوَّجْنَاهُم بِحُورٍ عِينٍ

“Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa berada di tempat yang aman, (yaitu) di dalam taman-taman dan mata air-mata air. Mereka memakai sutera yang halus dan sutera yang tebal, (duduk) berhadap-hadapan. Demikianlah. Dan kami jodohkan mereka dengan bidadari bermata jeli.” [Qs. Ad-Dukhan: 51-54].

Kedua, Allah Ta’ala berfirman dalam Qur’an surat Al-Waqi’ah ayat 22-23,

وَحُورٌ عِينٌ كَأَمْثَالِ اللُّؤْلُؤِ الْمَكْنُونِ

”Dan (di dalam surga itu) ada bidadari-bidadari bermata jeli, laksana mutiara yang tersimpan.” [Qs. Al-Waqi’ah: 22 – 23].

Ketiga, Allah Ta’ala juga berfirman dalam Qur’an surat At-Thur ayat 17-20,

إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَنَعِيمٍ فَاكِهِينَ بِمَا آتَاهُمْ رَبُّهُمْ وَوَقَاهُمْ رَبُّهُمْ عَذَابَ الْجَحِيمِ كُلُوا وَاشْرَبُوا هَنِيئاً بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ مُتَّكِئِينَ عَلَى سُرُرٍ مَّصْفُوفَةٍ وَزَوَّجْنَاهُم بِحُورٍ عِينٍ

“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada dalam surga dan kenikmatan, mereka bersuka ria dengan apa yang diberikan kepada mereka oleh Tuhan mereka; dan Tuhan mereka memelihara mereka dari azab neraka. (Dikatakan kepada mereka): `Makan dan minumlah dengan enak sebagai balasan dari apa yang telah kamu kerjakan`, mereka bertelekan di atas dipan-dipan berderetan dan Kami kawinkan mereka dengan bidadari-bidadari yang cantik bermata jeli.” [Qs. At-Thur: 17-20]

Penjelasan tentang bidadari Surga

Dalam ketiga surat di atas, semua bidadari yang bermata jeli itu Allah ciptakan untuk orang-orang yang bertakwa. Sungguh, betapa beruntungnya orang-orang yang bertakwa itu kelak di Surga.

Lafadz “bihurin `in” (bidadari bermata jeli) dalam ayat-ayat di atas diartikan sebagai wanita yang mempunyai bola mata yang sangat indah, cemerlang, dan memesona, yang sanggup menggetarkan hati siapapun yang memandangnya. Rasulullah SAW telah menjelaskan dengan gamblang bidadari surga ketika beliau berdialog dengan Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha (Ra), istri baginda Nabi SAW sendiri.

Diriwayatkan oleh Imam Attabrani dalam sebuah hadits dari Ummu Salamah ra, bahwa Ummu Salamah Ra berkata, “Ya Rasulallah, jelaskanlah padaku tentang firman Allah ‘yang bermata jeli.’”

Rasulullah SAW menjawab, “Bidadari yang kulitnya bersih, matanya jeli dan lebar, rambutnya berkilau bak sayap burung nazar.”

Ummu Salamah Ra berkata lagi, “Jelaskanlah padaku ya Rasulallah tentang firmanNya: ‘laksana mutiara yang tersimpan(QS. Al-Waqi’ah: 23).”

Rasulullah SAW menjawab, “Kebeningannya bak kebeningan mutiara yang tersimpan dalam cangkangnya di kedalaman lautan, tidak pernah tersentuh oleh tangan manusia.”

Ummu Salamah Ra kembali bertanya, “Jelaskanlah kepadaku tentang firman Allah: ‘di dalam Surga itu ada bidadari yang baik-baik  lagi cantik-cantik’ (QS. Ar-Rahman: 70).”

Nabi SAW menjawab, “Akhlaknya baik dan parasnya cantik jelita.”

Kembali Ummu Salamah Ra bertanya, “Jelaskan padaku tentang firman Allah: ‘Seakan-akan mereka adalah telur (burung unta) yang tersimpan dengan baik’ (QS. Ash-Shaffat: 49).

Rasulullah SAW menjawab, “Kelembutannya seperti kelembutan kulit yang ada pada bagian dalam telur dan terlindungi oleh kulit bagian luarnya.”

Ummu Salamah Ra bertanya lagi, “Ya Rasulallah, jelaskan padaku tentang firman Allah: ‘penuh cinta lagi sebaya umurnya’ (QS. Al-Waqi’ah : 37).”

Nabi SAW menjawab, “Mereka adalah wanita-wanita yang meninggal di dunia dalam usia lanjut dalam keadaan rabun dan beruban, lalu Allah menjadikan mereka wanita-wanita muda (gadis) yang umurnya sebaya (tidak pernah tua ditelan usia).”

Ummu Salamah Ra bertanya lagi, “Ya Rasulullah, manakah yang lebih utama, wanita dunia ataukah bidadari yang bermata jeli.”

Rasulullah SAW menjawab, Wanita-wanita dunia lebih utama (lebih baik) dari bidadari, seperti kelebihan yang nampak dari apa yang tidak terlihat.”

Ummu Salamah Ra bertanya, “Mengapa wanita-wanita dunia lebih utama dari bidadari di surga ya Rasulallah?”

Nabi SAW menjawab, “Karena shalat mereka, puasa mereka dilakukan semata-mata untuk Allah SWT. Allah meletakkan cahaya di wajah mereka, pakaian mereka dari kain sutera yang sangat halus, kulit mereka putih bersih, pakaiannya berwarna hijau, perhiasannya kemuning emas, sanggulnya terbuat dari mutiara dan sisirnya terbuat dari emas murni. Mereka (wanita-wanita dunia) berkata, “(di surga) Kami hidup abadi dan tidak mati, kami lemah lembut dan tidak jahat sama sekali, kami senantiasa mendampingi dan tidak beranjak sama sekali, kami ridha dan tidak pernah bersungut (dengki/iri/ghibah) sama sekali, berbahagialah orang yang memiliki kami dan kami memilikinya.”

Ummu Salamah Ra meneruskan pertanyaannya, “Salah seorang wanita di antara kami ada yang telah menikah dua, tiga atau empat dengan laki-laki dan ia meninggal dunia. Dia masuk surga kemudian mereka (laki-laki yang pernah menjadi suaminya) juga masuk surga, siapakah di antara laki-laki itu yang akan menjadi suaminya di surga?”

Nabi SAW menjawab, “Wahai Ummu Salamah, wanita itu disuruh memilih, dan dia pun memilih siapa di antara mereka yang paling baik akhlaknya, lalu dia berdoa ‘Ya Rabb, sesungguhnya lelaki inilah yang paling baik akhlaknya kepadaku tatkala aku hidup bersamanya di dunia, maka nikahkanlah aku dengannya’. Wahai Ummu Salamah akhlak yang baik itu akan pergi membawa dua kebaikan, kebaikan di dunia dan diakhirat.” (HR. Atthabrani).

Sikap seorang mukmin

Duhai jiwa, betapa indah bidadari bermata jeli itu. Sungguh, rasanya tak satupun lelaki dunia yang ingin memilikinya (menikahinya). Pelajaran penting bagi setiap lelaki muslim dari penjelasan beberapa ayat dalam tiga surat Qur’an di atas adalah mari berlomba untuk memantaskan diri di hadapan Allah Ta’ala dengan terus berikhtiar untuk menjadi pribadi-pribadi yang bertakwa.

Sungguh, janji Allah itu pasti, benar dan tak satupun terpungkiri. Tugas kita sebagai seorang hamba adalah bersungguh-sungguh menjalankan tugas layaknya seorang hamba seperti yang disebutkan dalam Qur’an surat Az-Zariyat ayat 56,

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ

“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”

Intinya, apapun profesi kita di dunia ini, semua harus diniatkan dalam rangka beribadah kepada Allah semata, bukan yang lainnya. Ibadah adalah kunci dalam menjalani kehidupan yang singkat ini. Jika orientasi hidup kita ditujukan untuk pengabdian penuh kepada Allah Ta’ala, maka bersyukurlah. Semoga kelak setiap lelaki mukmin diperistrikan dengan bidadari Surga, wallahua’lam.(A/RS3/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)