Berkata Baik atau Lebih Baik Diam

Berkata Baik atau Lebih Baik Diam (Foto: belajar.com)
Berkata Baik atau Lebih Baik Diam (Foto: belajar.com)

Oleh: Annisa Fithri Nurjannah, Mahasiswa Komunikasi Penyiaran Islam STAI Al-Fatah, Cileungsi, Bogor, Jawa Barat

Seperti yang kita ketahui bahwa berkata baik identik dengan pengucapan yang baik-baik, seperti berbicara tentang ilmu, mendiskusikan nasib umat, menyampaikan pesan perdamaian, dan lain sebagainya. Sedangkan lebih baik diam menggambarkan tidak mengeluarkan atau tidak berkata apa-apa.

Dalam hal ini kemampuan berbicara adalah salah satu kelebihan yang Allah berikan kepada manusia, untuk berkomunikasi. Maka ketika manusia diberi kemampuan untuk berbicara, pergunakanlah untuk berkata yang baik dan jangan sampai berkata buruk.

Bahaya yang ditimbulkan oleh mulut kita sangat besar sekali, dan hampir semua dosa itu bermuara dari mulut. Sedangkan diam adalah salah satu upaya jitu agar mulut tidak menimbulkan dosa, keji dan keburukan lainnya. Dengan demikian diam itu sangat dianjurkan bahkan sangat ditekankan dan agar seseorang mampu mengedalikan mulutnya.

Dalam hadits mengatakan bahwasanya,

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – « مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ » .

Artinya: “Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia mengatakan yang baik atau hendaklah ia diam.” (H.R. Bukhari)

Firman Allah juga menjelaskan,

مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

Artinya: “Tiada suatu kalimat pun yang diucapkan melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS Qaf [50]: 18).

Demikian pula, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda yang artinya, “Tidak ada yang menyungkurkan leher manusia di dalam neraka melainkan hasil lisan mereka.” (Dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’, no. 5136)

Siapa pun yang mengetahui hal itu dan mengimaninya dengan keimanan yang sebenarnya maka ia bertakwa kepada Allah berkenaan dengan lisannya, sehingga ia tidak berbicara kecuali kebaikan atau diam.” (Tafsir As-Sa’di)

Semoga Allah selalu menjaga lisan kita dari hal-hal yang tidak berguna, agar tidak menuai sesal dan kebangkrutan di hari akhir dengan tidak membawa amal sedikit pun dari jerih payah amal kita di dunia.

Disebutkan di dalam hadits:

عن أبي هريرة : أن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال أَتَدْرُونَ مَا الْمُفْلِسُ قَالُوْاالْمُفْلِسُ فِيْنَا يَا رَسُو لَ اللَّهِ مَنْ لاَ دِرْهَمَ لَهُ وَلاَ مَتَاعَ قَالَ رَسُو لَ اللَّهِ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمُفْلِسُ مِنْ أُمَّيِي مَنْ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلاَتِهِ وَصِيَامِهِ وِزَكَاتِهِ وَيَأتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَاَكَلاَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَيَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُحِذَ مِنْ خَطَايَاهُم فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرحَ فِي النَّارِ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu; bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut?

Para shahabat pun menjawab, ”Orang yang bangkrut adalah orang yang tidak memiliki uang dirham maupun harta benda.”

Beliau menimpali, ”Sesungguhnya orang yang bangkrut di kalangan umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa pahala shalat, puasa, dan zakat, tetapi ia juga datang membawa dosa berupa perbuatan mencela, menuduh, memakan harta, menumpahkan darah, dan memukul orang lain. Kelak kebaikan-kebaikannya akan diberikan kepada orang yang terzalimi. Apabila amalan kebaikannya sudah habis diberikan, sementara belum selesai pembalasan tindak kezalimannya, maka diambillah dosa-dosa orang yang terzalimi itu, lalu diberikan kepadanya. Kemudian dia pun dicampakkan ke dalam neraka.” (HR. Muslim dalam Shahih-nya, no. 2581)

Maka dari itu agar manusia terhindar dari perkataan yang buruk dan menjaga perkataannya, ada beberapa metode untuk belajar diam dan berkata baik:

Pertama, merasa malu kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Keyakinan merasa malu kepada Allah dalam perkataannya, perbuatannya, tingkah lakunya, tindak tanduknya dan seluruh keadaannya. Seorang hamba patut malu kepada Allah. Sungguh indah seseorang yang malu kepada Allah hingga perkataan dan ucapannya harus dijaga.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut ketika berbicara dengan Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu,

أَلاَ أُخْبِرُكَ بِمَلاَكِ ذَلِكَ كُلِّهِ. قُلْتُ بَلَى يَا نَبِىَّ اللَّهِ قَالَ فَأَخَذَ بِلِسَانِهِ قَالَ  كُفَّ عَلَيْكَ هَذَا. فَقُلْتُ يَا نَبِىَّ اللَّهِ وَإِنَّا لَمُؤَاخَذُونَ بِمَا نَتَكَلَّمُ بِهِ فَقَالَ  ثَكِلَتْكَ أُمُّكَ يَا مُعَاذُ وَهَلْ يَكُبُّ النَّاسَ فِى النَّارِ عَلَى وُجُوهِهِمْ أَوْ عَلَى مَنَاخِرِهِمْ إِلاَّ حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ.

“Maukah kuberitahukan kepadamu tentang kunci semua perkara itu?” Jawabku: “Iya, wahai Rasulullah.” Maka beliau memegang lidahnya dan bersabda, “Jagalah ini”. Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah kami dituntut (disiksa) karena apa yang kami katakan?” Maka beliau bersabda, “Celaka engkau. Adakah yang menjadikan orang menyungkurkan mukanya (atau ada yang meriwayatkan batang hidungnya) di dalam neraka selain ucapan lisan mereka?” (H.R. Tirmidzi no. 2616)

Kedua, diam adalah kaedah atau ciri utama dalam kehidupan, pikiran, sebelum kita berbicara. Biasakan dan latihlah diri kita untuk menjaga lisan dari perkataan-perkataan yang baik.

Oleh karena itu sebagian ahli hikmah berkata : ”Termasuk tanda kebodohan, perhatikan! termasuk tanda kebodohan, adalah berkata pada hal yang tidak bermanfaat”  termasuk tanda kebodohan adalah sifat ini. Engkau berkata pada hal yang tidak bermanfaat.

Hadits lain mengatakan,

إِنَّ رَجُلاً سَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيِّ الْمُسْلِمِيْنَ خَيْرً قَالَ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

Artinya: “Ada seorang laki-laki yang bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Siapakah orang muslim yang paling baik?’ Beliau menjawab, ‘Seseorang yang orang-orang muslim yang lain selamat dari gangguan lisan dan tangannya. (H.R Muslim no. 64)

Ketiga, mempersempit bergaul dengan hal-hal yang tidak bermanfaat atau menyendiri yang syar’i.

Sebab terakhir yang membantu kita untuk diam adalah dengan memperbanyak berdzkir kepada Allah, Umar Bin Khottob berkata ”mengingat manusia itu penyakit dan mengingat Allah adalah obat “.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wa Sallam sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Umar ia berkata kami menghitung Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wa Sallam dalam satu majelis 100 kali membaca “rabbighfirlii wa tub alayya innaka anta tawwaburrahiim.”

Seperti firman Allah SWT,

إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُوولًا

Artinya: “Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggung-jawaban.” (QS Al-Isra’ [17]: 36).

Oleh karena itu, dalam sebuah syair disebutkan, “Aku menulis dan aku yakin pada saat aku menulisnya tanganku kan lenyap, namun tulisan tanganku kan abadi bila tanganku menulis kebaikan, kan diganjar setimpal jika tanganku menulis kejelekan menunggu balasan.”

Sungguh beruntung orang yang banyak diam

Ucapannya dihitung sebagai makanan pokok

Tidak semua yang kita ucapkan ada jawabnya

Jawaban yang tidak disukai adalah diam

Sungguh mengherankan orang yang banyak berbuat aniaya

Sementara meyakini bahwa ia akan mati

Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata,

Seseorang mati karena tersandung lidahnya

Dan seseorang tidak mati karena tersandung kakinya

Tersandung mulutnya akan menambah (pening) kepalanya

Sedang tersandung kakinya akan sembuh perlahan.” (anj/P4)

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)