Firman Allah:
إِنَّمَا ٱلۡمُؤۡمِنُونَ إِخۡوَةٌ۬ فَأَصۡلِحُواْ بَيۡنَ أَخَوَيۡكُمۡۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمۡ تُرۡحَمُونَ
Artinya: “Sesungguhnya orang-orang mu’min adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat”. (QS Al-Hujurat [49]: 10).
Secara redaksional disebutkan pada ayat tersebut, keterkaitan dan hubungan antar orang beriman begitu erat digambarkan menggunakan istilah ‘ikhwah’ bukan ‘ikhwan’. mengacu pada bersaudara Karena Allah.
Baca Juga: 7 Alasan Rakyat Palestina Yakin Indonesia Bantu Perjuangannya
Secara bahasa ‘ikhwah’ bermakna saudara sekandung yang mempunyai hubungan dan ikatan darah keturunan. Seolah-olah mengisyaratkan sebuah makna yang dalam bahwa ikatan persaudaraan sesama orang-orang beriman itu sama kuatnya dengan ikatan nasab (keturunan, saudara kandung), bahkan seharusnya lebih besar dari itu.
Di sinilah dikatakan bahwa keimanan seseorang akan terwujud pada persatuan dan persaudaraan dalam kehidupan sehari-hari tanpa memandang jabatan, ras, suku, bangsa dan dari manapun mereka.
Rasulullah mengingatkan eratnya hubungan antar orang beriman dengan perumpamaan yang indah:
أِنَّ الْمُؤْمِنَ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا وَشَبَّكَ أَصَابِعَهُ
Baca Juga: Amal Baik vs Amal Banyak: Rahasia Hidup Bermakna Menurut QS. Al-Mulk Ayat 2
Artinya: “Seorang mukmin bagi mukmin yang lain ibarat satu bangunan yang saling menguatkan antara satu dengan yang lainnya. Kemudian Rasulullah menggenggam jari-jemarinya.” (H.R. Bukhari dan Muslim dari Abu Musa Radhiyallahu ‘Anhu).
Pada hadits lain Nabi menyebutkan:
الْمُسْلِمُ أَخُوْ الْمُسْلِمِ لا يَضْلِمُهُ وَلا يُسْلِمُهُ وَمَنْ كاَنَ فِي حَاجَةِ أخِيْهِ كَانَ اللهُ فِي حَاجَتِهِ
Artinya: “Seorang Muslim adalah saudara bagi seorang Muslim yang lain, yang tidak boleh menganiaya saudara Muslimnya dan juga tidak boleh menyerahkan saudara Muslim itu kepada musuh. Dan barangsiapa meringankan seorang Muslim dari kesulitan maka Allah akan memenuhi kebutuhannya”. (H.R. Bukhari dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘Anhu).
Baca Juga: 9 Fakta Mengejutkan: Tanda-Tanda Zionis Israel Menuju Kehancuran
Pada hadits lain Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengatakan:
إِنَّ مِنْ عِبَادِ اللهِ لأُنَاسًا مَا هُمْ بِأَنْبِيَاءَ وَلاَ شُهَدَاءَ يَغْبِطُهُمْ الأَنْبِيَاءُ وَالشُّهَدَاءُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِمَكَانِهِمْ مِنْ اللهِ تَعَالَى . قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ تُخْبِرُنَا مَنْ هُمْ ؟ قَالَ: هُمْ قَوْمٌ تَحَابُّوا بِرُوحِ اللهِ عَلَى غَيْرِ أَرْحَامٍ بَيْنَهُمْ وَلاَ أَمْوَالٍ يَتَعَاطَوْنَهَا ، فَوَاللهِ إِنَّ وُجُوهَهُمْ لَنُورٌ وَإِنَّهُمْ عَلَى نُورٍ لاَ يَخَافُونَ إِذَا خَافَ النَّاسُ وَلاَ يَحْزَنُونَ إِذَا حَزِنَ النَّاسُ وَقَرَأَ هَذِهِ الآيَةَ – أَلاَ إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللهِ لاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُونَ
Artinya: “Sesungguhnya dari hamba-hamba Kami ada sekelompok manusia, mereka itu bukan para Nabi dan bukan para syuhada’. Para Nabi dan syuhada’ merasa cemburu kepada mereka karena kedudukan mereka di sisi Allah di hari kiamat. Para sahabat bertanya: Siapakah mereka wahai Rasulullah? Beliau menjawab: Mereka adalah suatu kaum yang saling mencintai karena Allah padahal tidak ada hubungan persaudaraan (saudara sedarah) antara mereka, dan tidak ada hubungan harta (waris), Maka demi Allah sesungguhnya wajah-wajah mereka bagaikan cahaya, dan sesungguhnya mereka di atas cahaya, mereka tidak takut ketika manusia merasa takut, dan tidak pula sedih ketika manusia sedih, kemudian beliau membaca ayat ini: “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” [QS Yunus, 10: 62]. (H.R. Abu Dawud dari Umar bin Khattab).
Begitulah, bersaudara karena Allah, persaudaraan bagi orang-orang beriman karena semata pertimbangan taat kepada Allah dan Rasul-Nya, bukan karena pandangan materi (materialisme), harta (kapitalisme) dan keduniaan.
Baca Juga: Kementerian Haji dan Umrah, Antara Harapan dan Kekhawatiran
Begitulah, ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya merupakan benteng yang kokoh untuk meneguhkan persatuan serta menghindari perpecahan. Sebab perpecahan hanya akan merapuhkan kekuatan dan persatuan umat. Dengan mendahulukan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya, maka akan lenyaplah benih-benih pertikaian yang berawal dari perbedaan cara pandang yang bersumber dari hawa nafsu.
Di sinilah konsekuensi pentingnya ukhuwwah dengan adanya sikap saling menyayangi, memberikan kedamaaian, keselamatan, saling menolong, dan menjaga persatuan. Dan inilah prinsip yang harus ditegakkan dalam sebuah masyarakat Muslim.
Bahkan, persaudaraan antara orang-orang beriman tidak berhenti di dunia, tidak berakhir di liang lahat, tidak sirna di ujung usia. Ia adalah ikatan yang dibawa sampai ke surga, dimuliakan di sisi Allah, duduk berdampingan di taman-taman-Nya, tersenyum, mengenang perjuangan di dunia fana.
Maka, katakan kepada samping ikhwanmu atau akhwatmu, “Jika engkau masuk surga lebih dulu, tolong panggil namaku. Sebut namaku di antara doamu yang bersinar, bisikkan kepada malaikat penjaga gerbang, ada sahabatku yang belum masuk, izinkan aku menjemputnya.”
Baca Juga: Israel Raya: Mimpi di Siang Bolong yang Menelan Negeri Lain
Dan katakan juga pada teman ikhwanmu atau akhwatmu, “Aku pun berjanji, jika aku yang lebih dulu melangkah ke pintu-pintu keabadian surga-Nya, aku akan mencari namamu,
di antara gugusan nama-nama para kekasih Allah, dan aku akan berkata, Ya Allah, dia saudaraku, jangan biarkan ia tertinggal.”
Itu semua karena kita saling bersaudara karena iman. Dengan sesama orang-orang beriman, mereka adalah teman seperjuangan, kawan dalam pengajian, rekan dalam usaha, sahabat dalam suka dan duka. Bersama teman-teman orang beriman, kita berjabat tangan, bergandeng tangan, dan tak pernah berlepas tangan.
Mereka saudara-saudara seiman, yang pernah menangis bersama dalam duka, tertawa dalam bahagia, bersama dalam suka, berkumpul bersama dalam doa, bergerak berjamaah dalam perjuangan, saling menasihati dalam kesabaran dan dalam kebenaran, serta sama-sama tersungkur dalam sujud kepada Tuhan semesta alam.
Betapa penting dan perlunya hidup bersaudara karena Allah, hingga karena inilah maka yang pertama kali Rasulullah lakukan ketika tiba di Madinah adalah mempersaudarakan antara orang-orang Muhajirin (mereka yang hijrah) dan Anshar (penduduk pribumi).
Baca Juga: Meneguhkan Janji Kemerdekaan Palestina Dari Sumud Nusantara ke Solidaritas Global
Merekalah contoh teladan yang indah dan agung tentang cinta, persahabatan, kasih sayang dan mengutamakan persaudaraan lebih dari segalanya.
Allah menyebut perikehidupan penuh kedamaian mereka di dalam ayat:
وَٱلَّذِينَ تَبَوَّءُو ٱلدَّارَ وَٱلۡإِيمَـٰنَ مِن قَبۡلِهِمۡ يُحِبُّونَ مَنۡ هَاجَرَ إِلَيۡہِمۡ وَلَا يَجِدُونَ فِى صُدُورِهِمۡ حَاجَةً۬ مِّمَّآ أُوتُواْ وَيُؤۡثِرُونَ عَلَىٰٓ أَنفُسِہِمۡ وَلَوۡ كَانَ بِہِمۡ خَصَاصَةٌ۬ۚ وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفۡسِهِۦ فَأُوْلَـٰٓٮِٕكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ
Artinya: “Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshar) mencintai orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshar) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung.” (QS Al-Hasyr [59]: 9).
Baca Juga: Ziarah ke Masjidil Aqsa Tanda Kedalaman Iman
Terlebih dalam perjuangan besar pembebasan Masjidil Aqsa dan kemerdekaan Palestina, maka nilai-nilai persaudaraan sangat penting untuk diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.
Karena kehidupan adalah perjuangan, dan perjuangan akan kokoh dengan persaudaraan. Persaudaraan pun akan abadi dengan keimanan. dan itulah hakikat bersaudara karena Allah. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Israel Bukan Negara, Tapi Proyek Penjajahan Abad Modern