Berselisih Hanya Akan Melemahkan Kekuatan

Oleh: Ali Farkhan Tsani, Wartawan Kantor Berita MINA (Mi’raj News Agency)

Allah mengingatkan kita orang-orang beriman di dalam ayat:

وَأَطِيعُواْ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُ ۥ وَلَا تَنَـٰزَعُواْ فَتَفۡشَلُواْ وَتَذۡهَبَ رِيحُكُمۡ‌ۖ وَٱصۡبِرُوٓاْ‌ۚ إِنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلصَّـٰبِرِينَ التفسير

Artinya: Dan taatilah Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berselisih, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan kekuatanmu hilang dan bersabarlah. Sungguh, Allah beserta orang-orang sabar. (QS Al-Anfal [8]: 46).

Di dalam Tafsir Ath-Thabari dijelaskan, ayat ini berisi perintah kepada orang-orang beriman agar mentaati Allah dan Rasul-Nya serta jangan bertengkar di dalamnya. Perselisihan di antara orang-orang beriman hanyalah akan menyebabkan kegagalan, menjadi lemah dan pengecut.

Perselisihan juga hanya akan membawa pada kelemahan dan akan menjurus kepada kehancuran. Sehingga kaum Muslimin akhirnya dapat dikalahkan oleh musuh-musuh Islam.

Pertikaian juga dapat menyebabkan kaum Muslimin menjadi gentar dan hilang kekuatannya. Untuk itu, kaum Muslimin diperintahkan untuk bersabar, karena Allah selalu bersama orang-orang yang sabar.

Selanjutnya, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memberikan petunjuk agar kita terhindar dari perselisihan, di antaranya melalui sabdanya :

  مَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَهُوَ مُبْطِلٌ بَنَى اللهُ لَهُ بَيْتًا فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ مَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَهُوَ مُحِقٌّ بَنَى اللهُ لَهُ بَيْتًا فِي أَعْلَى الْجَنَّةِ

Artinya: “Barangsiapa menghindari perbantahan padahal ia posisinya adalah salah, maka Allah akan membangunkan rumah baginya di taman surga. Dan barangsiapa menghindari perbantahan, padahal posisi dirinya benar, maka Allah membangunkan rumah untuknya di dalam surga yang tinggi”. (HR Abu Dawud, Ibnu Majah dan At-Tirmidzi).

Menghindari atau mengalah dalam perbantahan, bukan berarti kalah dalam kebenaran. Namun untuk menghindari debat kusir yang akan memperuncing perbedaan.

Seorang ulama besar, ahli agama, Imam Asy-Syafi’i mengatakan mengenai mengalah dalam perdebatan, dalam prinsipnya yang mashur, “Pendapatku boleh jadi benar tetapi berpeluang salah, sedangkan pendapat orang lain bisa jadi salah namun berpeluang benar.”

Begitulah debat kusir hanya akan menimbulkan banyak kerugian, membuang-buang waktu yang berharga, karena membahas suatu hal yang terkadang tidak ada ujungnya. Di samping itu debat kusir juga dapat mengeraskan hati dan menjadi ajang saling membalas. Padahal tujuan dakwah adalah menasihati dan yang namanya nasihat itu menghendaki kebaikan pada saudaranya, bukan untuk berbalas keburukan apalagi cacian.

Berdebat kusir juga hanya akan menimbulkan permusuhan di antara kaum Muslimin itu sendiri. Padahal kita diperintahkan agar menjadi saudara seiman.

Di dalam Al-Maktabah asy-Syamilah al-Haditsah disebutkan, Nabi Sulaiman ‘Alaihis Sallam memberikan nasihat kepada anaknya:

يَا بُنَيَّ، إِيَّاكَ وَالْمِرَاءَ، فَإِنَّ نَفْعَهُ قَلِيلٌ، وَهُوَ يُهِيجُ الْعَدَاوَةَ بَيْنَ الْإِخْوَانِ

Artinya: Wahai anakku, tinggalkanlah perdebatan, karena manfaatnya sedikit. Dan ia membangkitkan permusuhan di antara orang-orang yang bersaudara.”

Karena itu, hendaklah kita lebih meningkatkan jiwa persatuan dan kesatuan umat Islam berlandaskan keimanan kepada Allah. Sebagaimana allah mengingatkan di dalam firman-Nya:

وَٱعۡتَصِمُواْ بِحَبۡلِ ٱللَّهِ جَمِيعً۬ا وَلَا تَفَرَّقُواْ‌ۚ وَٱذۡكُرُواْ نِعۡمَتَ ٱللَّهِ عَلَيۡكُمۡ إِذۡ كُنتُمۡ أَعۡدَآءً۬ فَأَلَّفَ بَيۡنَ قُلُوبِكُمۡ فَأَصۡبَحۡتُم بِنِعۡمَتِهِۦۤ إِخۡوَٲنً۬ا وَكُنتُمۡ عَلَىٰ شَفَا حُفۡرَةٍ۬ مِّنَ ٱلنَّارِ فَأَنقَذَكُم مِّنۡہَا‌ۗ كَذَٲلِكَ يُبَيِّنُ ٱللَّهُ لَكُمۡ ءَايَـٰتِهِۦ لَعَلَّكُمۡ تَہۡتَدُونَ

Artinya: “Dan berpegang teguhlah kamu sekalian kepada tali Allah (agama Islam) dengan bersatu-padu dan janganlah kamu bercerai-berai dan kenanglah nikmat Allah kepada kamu ketika kamu bermusuh-musuhan (semasa jahiliah dahulu), lalu Allah menyatukan di antara hati kamu (sehingga kamu bersatu-padu dengan nikmat Islam), maka menjadilah kamu dengan nikmat Allah itu orang-orang Islam yang bersaudara dan kamu dahulu telah berada di tepi jurang neraka (disebabkan kekufuran kamu semasa jahiliah), lalu Allah selamatkan kamu dari neraka itu (disebabkan nikmat Islam juga). Demikianlah Allah menjelaskan kepada kamu ayat-ayat keterangan-Nya, supaya kamu mendapat petunjuk hidayah-Nya”. (QS Ali Imran [3]: 103).

Melalui ayat ini, Allah hendak mengingatkan akan makna pentingnya hablullaah atau tali Allah, yakni Al-Quran, yang datang dari langit atau sisi Allah dan diturunkan untuk umat manusia di muka bumi ini.

Itulah cara kita kaum Muslimin memegang tali Allah atau Al-Quran itu dengan bersatu padu atau berjama’ah, dan melarang perpecahan. Karena sesungguhnya al- jama’ah atau persatuan merupakan keselamatan dan perpecahan merupakan kebinasaan.

Karena itu, persatuan dan kesatuan umat Islam akan mendatangkan ridha Allah, sebaliknya perpecahan hanya akan mendatangkan murka-Nya. Seperti disebutkan di dalam hadits:

إنَّ اللهَ يَرْضَى لَكُمْ ثَلَاثًا وَيَكْرَهُ لَكُمْ ثَلَاثًا, يَرْضَى لَكُمْ أَنْ تَعْبُدُوْهُ وَلَا تُشْرِكُوْ بِهِ شَيْئًا وَأَنْ تَعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللهِ جَمِيْعًا وَلَا تَفَرَّقُوْا وَأَنْ تَنَاصَحُوْا مَنْ وَلَّاهُ اللهُ أَمْرَكُمْ وَيَكْرَهُ لَكُمْ قِيْلَ وَقَالَ وَكَثْرَةَ السُّؤَالِ وَإضَاعَةَ الْمَالِ

Artinya: “Sesungguhnya Allah meridhai kalian tiga hal dan membenci kalian tiga hal. Dia meridhai kalian untuk (pertama) menyembah-Nya dan tidak menyekutukan sesuatu pun dengan-Nya, (kedua) berpegang teguhlah kalian dengan tali Allah seraya berjama’ah dan tidak berpecah-belah, (ketiga) memberikan nasihat kepada para pemimpin kalian. Dia (Allah) pun membenci tiga hal bagi kalian, yaitu (pertama) menceritakan sesuatu yang tidak jelas sumbernya, (kedua) banyak bertanya (tapi tidak untuk diamalkan), dan (ketiga) menghambur-hamburkan harta”. (HR Muslim, Malik dan Ahmad. Lafadz Malik dan Ahmad).

Semoga kita dapat menghindari perselisihan dan perdebatan yang hanya akan melemahkan kekuatan kita orang-orang beriman. Aamiin. (A/RS2/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)