Betapa Sayangnya Rasulullah Kepadamu

Oleh Rudi Hendrik, wartawan Mi’raj News Agency (MINA)

Allah Ta’ala berfirman,

إِن تُعَذِّبۡہُمۡ فَإِنَّہُمۡ عِبَادُكَ‌ۖ وَإِن تَغۡفِرۡ لَهُمۡ فَإِنَّكَ أَنتَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡحَكِيمُ

Artinya, “Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau, dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkaulah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (QS. Al-Maidah [5] ayat 118)

Kalimat ini merupakan pem­bersihan diri terhadap perbuatan orang-orang Nasrani yang berani ber­dusta kepada Allah dan rasul-Nya. Orang-orang Nasrani yang berani menjadikan bagi Allah tandingan, istri dan anak. Mahatinggi Allah dari apa yang mereka katakan itu dengan ketinggian yang setinggi-tingginya.

Di dalam sebuah hadis disebutkan bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam membacanya di malam hari hingga subuh, yakni dengan mengulang-ulang bacaan ayat ini.

قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ فُضَيْل، حَدَّثَنِي فُليَت الْعَامِرِيُّ، عَنْ جَسْرة الْعَامِرِيَّةِ، عَنْ أَبِي ذَرٍّ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: صَلَّى رَسُولُ اللَّهِ -صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-لَيْلَةً فَقَرَأَ بِآيَةٍ حَتَّى أَصْبَحَ، يَرْكَعُ بِهَا وَيَسْجُدُ بِهَا: {إِنْ تُعَذِّبْهُمْ فَإِنَّهُمْ عِبَادُكَ وَإِنْ تَغْفِرْ لَهُمْ فَإِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ} فَلَمَّا أَصْبَحَ قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَا زِلْتَ تَقْرَأُ هَذِهِ الْآيَةَ حَتَّى أَصْبَحْتَ تَرْكَعُ بِهَا وَتَسْجُدُ بِهَا؟ قَالَ: “إِنِّي سَأَلْتُ رَبِّي، عَزَّ وَجَلَّ، الشَّفَاعَةَ لِأُمَّتِي، فَأَعْطَانِيهَا، وَهِيَ نَائِلَةٌ إِنْ شَاءَ اللَّهُ لِمَنْ لَا يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا”.

Imam Ahmad mengatakan: telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Fudail, telah menceritakan kepadaku Fulait Al-Amiri, dari Jisrah Al-Amiriyah, dari Abu Zar radhiyallahu ‘anhu yang menceritakan bahwa di suatu malam Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam melakukan shalat, lalu beliau membaca sebuah ayat yang hingga subuh beliau tetap membacanya dalam rukuk dan sujudnya, yaitu firman-Nya, “Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau, dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkaulah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (Al-Maidah: 118). Ketika waktu subuh Abu Hurairah bertanya, “Wahai Rasulullah, mengapa engkau terus-menerus membaca ayat ini hingga subuh, sedangkan engkau tetap membacanya dalam rukuk dan sujudmu?” Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menjawab, “Sesungguhnya aku memohon kepada Rabb-ku akan syafaat bagi umatku, maka Dia memberikannya kepadaku, dan syafaat itu dapat diperoleh —insyaallah— oleh orang yang tidak pernah mem­persekutukan Allah dengan sesuatu pun (dari kalangan umatku).”

Apa yang dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menunjukkan betapa khawatirnya Beliau jika umatnya kelak mendapat siksa dari Allah Ta’ala. Perbuatan Nabi itu pun menunjukkan betapa sayangnya Beliau kepada umatnya.

Karakter kasih sayang itu telah dikabarkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam firman-Nya,

لَقَدْ جَاءكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُم بِالْمُؤْمِنِينَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ

Artinya, “Sungguh telah datang padamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaan yang kamu alami, dia sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, penyantun dan penyayang terhadap orang-orang yang beriman.” (QS. At-Taubah [9] ayat 128)

Di ayat lain Allah Ta’ala mengungkapkan,

مُّحَمَّدٌ۬ رَّسُولُ ٱللَّهِ‌ۚ وَٱلَّذِينَ مَعَهُ ۥۤ أَشِدَّآءُ عَلَى ٱلۡكُفَّارِ رُحَمَآءُ بَيۡنَہُمۡ‌ۖ

Artinya, “Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka.” (QS. Al-Fath [48] ayat 29)

Tidak hanya pada saat berinteraksi dengan umatnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menunjukkan besarnya rasa kasih sayangnya kepada mereka, tapi juga di dalam doa, sebagaimana yang dilakukannya pada suatu malam hingga waktu subuh.

Tidak hanya sayang kepada umat yang hidup di masa yang sama, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam juga sangat menyayangi umatnya yang akan datang di masa kemudian. Sebagaimana tersebut di dalam sebuah hadits sahih.

رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- صَلاَةً فَأَطَالَهَا قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّيْتَ صَلاَةً لَمْ تَكُنْ تُصَلِّيهَا قَالَ أَجَلْ إِنَّهَا صَلاَةُ رَغْبَةٍ وَرَهْبَةٍ إِنِّى سَأَلْتُ اللَّهَ فِيهَا ثَلاَثًا فَأَعْطَانِى اثْنَتَيْنِ وَمَنَعَنِى وَاحِدَةً سَأَلْتُهُ أَنْ لاَ يُهْلِكَ أُمَّتِى بِسَنَةٍ فَأَعْطَانِيهَا وَسَأَلْتُهُ أَنْ لاَ يُسَلِّطَ عَلَيْهِمْ عَدُوًّا مِنْ غَيْرِهِمْ فَأَعْطَانِيهَا وَسَأَلْتُهُ أَنْ لاَ يُذِيقَ بَعْضَهُمْ بَأْسَ بَعْضٍ فَمَنَعَنِيهَا

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam melakukan shalat yang amat panjang. Melihat hal tersebut para sahabat bertanya, “Tidak biasanya Anda melakukan shalat seperti itu.” Beliau menjawab, “Ya, benar. Shalatku itu adalah shalat raghbah (penuh harap) dan rahbah (takut kepadaNya), dalam shalatku itu aku memohon kepada Allah tiga perkara, Dia mengabulkan dua perkara sedangkan satunya lagi tidak dikabulkan. Aku memohon agar umatku tidak binasa oleh bencana kelaparan, maka Dia mengabulkan permohonan ini. Aku memohon agar umatku tidak dikuasai oleh musuh dari luar mereka, Dia pun mengabulkannya. Namun, ketika aku memohon agar umatku tidak merasakan kekejaman di antara sesamanya, Dia tidak mengabulkannya.” (HR. Tirmidzi, shahih)

Demikianlah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sangat berharap agar umatnya kelak tidak binasa. Rasulullah pun menunjukkan rasa bersedihnya karena Allah tidak mengabulkan satu permohonannya tentang umatnya.

Rasa sayang Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pun ditujukannya kepada umat yang belum berislam dan telah melukai dirinya di kala ia berdakwah.

Sepeninggal Abu Thalib dan Khadijah radhiyallahu ‘anha, gangguan kaum Quraisy terhadap Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam semakin meningkat. Hingga akhirnya, Beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memutuskan keluar dari Makkah untuk menuju Thaif. Beliau berharap penduduk Thaif mau menerimanya.

Harapan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam ternyata tinggal harapan. Penduduk Thaif menolak Beliau dan mencemoohnya, bahkan mereka berlaku buruk terhadap Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Kenyataan ini sangat menggoreskan kesedihan dalam hati Rasulullah. Maka beliau pun kembali ke Makkah dalam keadaan sangat sedih, merasa sempit dan susah perasaannya.

Kemudian datanglah pertolongan Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan datangnya Malaikat Jibril bersama Malaikat Penjaga Gunung.

Malaikat Jibril ‘Alaihissalam , berseru kepada Rasulullah dari atas awan, “Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla telah mendengar perkataan kaummu kepadamu dan penolakan mereka terhadapmu. Dan Allah Azza wa Jalla telah mengirimkan Malaikat Penjaga Gunung untuk engkau perintahkan melakukan apa saja yang engkau mau atas mereka.”

Malaikat Penjaga Gunung lalu memanggil Rasulullah, mengucapkan salam dan berkata, “Wahai Muhammad! Jika engkau mau, aku bisa menimpakan Akhsabain (kepada penduduk Thaif).”

Akhsabain adalah dua gunung besar di Makkah, yaitu Gunung Abu Qubais dan Gunung Qu’aiqi’an. Ada juga yang mengatakan Gunung Abu Qubais dan Gunung Al-Ahmar.

Lalu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menjawab, “(Tidak) namun aku berharap supaya Allah Azza wa Jalla melahirkan dari anak keturunan mereka orang yang beribadah kepada Allah semata, tidak mempersekutukan-Nya dengan apa pun jua.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Demikianlah, meski penduduk Thaif telah menyakiti fisik dan hati Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, tapi Beliau tetap tidak menginginkan Allah menghukum mereka, agar kelak dari keturunan mereka lahir generasi yang beribadah hanya kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Begitu besarnya kasih sayang Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam kepada umatnya, ia selalu mendoakan mereka di kala di dunia hingga di akherat kelak. Semoga kita menjadi umat yang juga sangat mencintai Allah dan Rasul-nya. Aamiin. (A/RI-1/P2)

 

Mi’raj News Agency (MINA)