Bijak Menyikapi Musibah

Oleh: Ali Farkhan Tsani, Da’i Pesantren Al-Fatah Bogor, Jawa Barat

Musibah beragam jenis dan waktunya. Kadang tidak kita duga sebelumnya. Seperti calon jamaah umrah yang saat ini tertunda karena larangan sementara Arab Saudi, sebab pencegahan masuknya virus corona.

Lalu, timbullah amarah, emosi jiwa, mengapa dilarang? Ini khan mau ibadah, sudah keluar biaya puluhan juta, sudah pamitan, slametan di kampung. Uang yang dikumpulkan bertahun-tahun, bahkan mungkin ada yang harus jual tanah, emas, atau malah ditambah hutang.

Sama seperti kasus terbawa arusnya siswa-siswi sebuah SLTP di sungai deras musim penghujan beberapa hari lalu. Hingga ada beberapa yang meninggal. Lalu marah-marah, ini gara-gara guru pembina, coba kemarin tidak usah susur sungai, coba seandainya tidak jadi. Atau banjir yang menenggelamkan barang-barang berharga di rumah. Coba begini, coba begitu.

Timbullah anda-andai lainnya, hingga seolah melupakan takdir Allah, ketentuan Allah lah yang berlaku. Bagi Allah semua serba mungkin dan semua bsia saja terjadi. Di luar prediksi manusia sekalipun.

Apa yang sudah terjadi, itulah qadarullah, ketentuan Allah, sudah tercatat di Lauhul Mahfudz, tak seorangpun bisa menghalanginya. Nangis darah sekalipun.

Sikap bijak terbaik adalah, kembalikan kepada Allah Sang Maha Kuasa Allah yang mengatur segala alam semesta. Itu semua juga hakikatnya adalah ujian kesabaran kita, seperti Allah sebutkan di dalam ayat-Nya:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِنَ اْلأَمْوَالِ وَاْلأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِيْنَ

Artinya : “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepada kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS Al-Baqarah [2] : 155).

Ayat ini adalah pemberitaan dari Allah kepada orang-orang beriman, bahwa Allah akan menguji mereka dengan perkara-perkara supaya Allah mengetahui siapa orang-orang yang sabar.

Orang beriman tentu akan bersabar tatkala ditimpa musibah, yakni tetap dalam taat kepada Alah, bahkan semakin mendekat kepada Allah, memperbanyak beristighfar. Serta merendahkan diri serendah-rendahnya di hadapan Sang Pencipta. Bahwa tidak ada daya dan upaya kecuali dari Allah, “Laa haula walaa quwwata illaa billaahil ‘aliyyil ‘adzim”.

Maka, sikap terbaik bagi kaum Mukminin tatkala mendapatkan musibah adalah apa yang disebutkan pada ayat berikutnya:

الَّذِيْنَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُوْنَ. أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُوْنَ

Artinya : “(orang-orang yang sabar yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka mengucapkan: ‘Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.’ (Sesungguhnya kami milik Allah dan sesungguhnya kami kepada-Nya kami kembali). Mereka itulah yang mendapat keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Al-Baqarah [2] : 155-157).

Inilah yang disebut dengan ucapan Istirja’ yaitu ucapan:

إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهَ رَاجِعُوْنَ

Artinya : “Sesungguhnya kami milik Allah dan sesungguhnya kepada-Nya kami kembali.”

Pada ayat lain Allah menyatakan:

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيْبَةٍ فِي اْلأَرْضِ وَلاَ فِي أَنْفُسِكُمْ إِلاَّ فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللهِ يَسِيْرٌ. لِكَيْ لاَ تَأْسَوْا عَلَى مَا فَاتَكُمْ وَلاَ تَفْرَحُوا بِمَا ءَاتَاكُمْ وَاللهُ لاَ يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُوْرٍ

Artinya : “Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS Al-Hadid [57]: 22-23).

Justru dengan adanya musibahd an ujian itu, Allah bermaksud menghapus dosa-dosa kita, seperti disebutkan di dalam hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam :

مَا يَزَالُ الْبَلاَءُ بِالْمُؤْمِنِ وَالْمُؤْمِنَةِ فِي جَسَدِهِ وَمَالِهِ وَوَلَدِهِ حَتَّى يَلْقَى اللهَ وَمَا عَلَيْهِ خَطِيْئَةٌ

Artinya : “Senantiasa cobaan menimpa seorang mukmin dan mukminah pada tubuhnya, harta dan anaknya, sehingga ia berjumpa dengan Allah dalam keadaan tidak memiliki dosa.” (HR Ahmad dan At-Tirmidzi).

Jangan kita terlalu bersedih, berduka, atau nestapa berkepanjangan tiada tara. Yakinkan diri dan mantapkan hati bahwa semua atas kehendak-Nya. Menunjukkan betapa dha’ifnya diri ini dan betapa Mahakuasanya Ilahi Robbi.

Semua kita jadikan sebagai pembelajaran dan perintah Allah, agar kita lebih meyakini Kekuassaan Allah, meningkatkan ketawakkalan hanya kepada-Nya, dan menjauhi sifat kesombongan sekecil apapun dalam diri. (T/RS2/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)