Bilamanakah Kekuasaan Akan Berakhir? (Oleh: Imaam Yakhsyallah Mansur)

Tulisan ini ditujukan kepada siapapun yang memegang amanah jabatan dan kekuasaan agar berhati-hati mengemban amanahnya. Amanah kekuasaan itu hanya sementara dan akan dipertanggungjawabkan bukan hanya di dunia, tapi juga di hadapan Allah, Tuhan Yang Mahakuasa.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَإِذَا أَرَدْنَا أَنْ نُهْلِكَ قَرْيَةً أَمَرْنَا مُتْرَفِيهَا فَفَسَقُوا فِيهَا فَحَقَّ عَلَيْهَا الْقَوْلُ فَدَمَّرْنَاهَا تَدْمِيرًا (١٦) وَكَمۡ اَهۡلَكۡنَا مِنَ الۡقُرُوۡنِ مِنۡۢ بَعۡدِ نُوۡحٍ‌ؕ وَكَفٰى بِرَبِّكَ بِذُنُوۡبِعِبَادِهٖ خَبِيۡرًۢا بَصِيۡرًا‏ (١٧) /الاسرا ( ١٧ـــــ١٦)

Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya. Dan berapa banyaknya kaum sesudah Nuh telah Kami binasakan. Dan cukuplah Tuhanmu Maha Mengetahui lagi Maha Melihat dosa hamba-hamba-Nya. (QS. Al Isra: 16-17)

Dalam kehidupan di dunia ini, tidak ada sesuatu yang abadi. Kejayaan dan kehancuran adalah sebuah sunatullah. Al-Quran dan kitab-kitab terdahulu mengisahkan negeri-negeri yang mencapai kejayaan, pun sebaliknya, kitab-kitab itu mengabarkan negeri-negeri yang hancur, berikut sebab-sebab yang menyertainya.

Sebagai warga Negara Indonesia yang cinta dengan negerinya, tentu setiap kita menginginkan kehidupan yang aman, tenteram, damai dan sejahtera, jauh dari kemiskinan dan kesengsaraan. Negeri yang seperti itu disebut dengan istilah Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur (negeri yang jaya dan mendapat ampunan dari Tuhan-Nya) dalam Al-Quran.

Untuk mewujudkan itu semua, tentu setiap warga negara, terutama para pemimpinnya harus dapat memenuhi persyaratan-persyaratan menuju negeri yang jaya, aman dan sejahtera, serta menjauhi hal-hal yang membuat suatu negeri bisa mundur, bahkan hancur tinggal cerita.

Beberapa kisah telah diceritakan, bagaimana sebuah negeri yang menikmati kejayaan dan kesuksesan, akan tetapi hancur-lebur, luluh-lantak, yang tertinggal hanya puing-puing dan sejarah pilu. Ada kisah kaum Nabi Nuh, Nabi Hud, Kaum Tsamud (Nabi Shaleh), Kaum Nabi Luth, Kaum Madyan (Nabi Syu’aib), Pengikut Fir’aun, Ashabus Sabt (Yahudi), Ashabur Rass, Ashabul Uhdud, Ashabul Qaryah, Kaum Tuba’, dan Kaum Saba (Yaman).

Sementara di negeri kita tercinta, kita bisa membaca kisah kejayaan kerajaan Majapahit, Sriwijaya, Samudera Pasai, Mataram, Banjar, Gorontalo, Ternate, Tidore (berhasil melawan Portugis) dan lainnya. Mereka begitu kuat dan perkasa di zamannya, tetapi saat ini, itu semua tinggal cerita. Lantas, bagaimana dengan kondisi negara kita Indonesia tercinta saat ini?

Dalam konteks Indonesia hari ini, kita saksikan banyak berita di media massa, sesama anak bangsa saling caci-maki, aksi demonstasi terjadi hampir setiap hari, bahkan sesama anak bangsa tega menganiaya, menyiksa, bahkan menghilangkan nyawa. Kita berharap hal ini segera dapat dihentikan, diakhiri dan dicari solusi terbaik sehingga peristiwa serupa tidak terjadi lagi di kemudian hari.

Menurut beberapa intelektual Muslim, setidaknya ada tiga tanda utama kekuasaan akan berakhir, suatu negeri mengalami kemunduran dan menuju kehancuran:

Pertama, kekuasaan akan hancur jika dipimpin oleh orang-orang yang zalim dan suka bermegah-megah. Kezaliman itu akan menghilangkan nilai-nilai luhur masyarakat, menghina nilai-nilai keagamaan dan penindasan kepada yang lemah.  Jika masyarakat yang lain tidak ada yang berani mengingatkan, akibatnya  penyimpangan yang terus terjadi menjadikan negara hancur secara pasti.

Buya HAMKA dalam tafsir Al-Azhar mengatakan, perilaku zalim seorang penguasa bisa dilihat dari penyalahgunaan wewenang dan jabatan, membuat peraturan dan undang-undang yang hanya menguntungkan pribadi dan kelompoknya, perlakuan hukum yang diskriminatif, tindakan korupsi, menutup-nutupi kesalahan dan perbuatan buruk lainnya.

Kerakusan mereka karena keinginan terhadap harta dan popularitas menjadikan mereka ragu untuk menegakkan kebenaran, sehingga yang terjadi adalah perilaku yang menghancurkan peradaban. Jika hal itu terjadi di negeri manapun, maka sebenarnya bangsa itu sedang menuju kehancuran.

Prof. Quraish Shihab dalam tafsir Al-Misbah menyatakan, jika para pemimpin yang berkuasa hidup bermewah-mewahan, maka itu bukan tanda kemakmuran dan kemajuan subuah negeri, tetapi hakikatnya adalah tanda kehancuran negeri itu. Jika para pemimpin sudah cinta dengan kemewahan, maka kekayaan negara yang hanya dikuasai oleh segelintir orang, perputaran ekonomi dikendalikan oleh kartel-kartel jahat yang hanya mengejar keuntungan materi saja, maka itu semua dapat merusak pondasi sistem kemasyarakatan. Mereka melupakan tanggung jawab yang mereka emban.  Dari situlah awal mula timbulnya konflik yang disebabkan kesenjangan dan kecemburuan sosial.

Maka, suatu negeri akan kuat dan jaya apabila memiliki pemimpin yang amanah. Kemimpinan yang amanah merupakan jangkar bagi perjuangan untuk menegakkan keadilan dan kebenaran. Ia berani memberantas kemunkaran, dan membersihkan kezaliman di negerinya. Orientasi pembangunannya bukan sekadar kemegahan dunia, tetapi revolusi mental, spiritual dan akhlak mulia dari seluruh rakyatnya.

Faktor kedua, yang menyebabkan hancurnya kekuasaan adalah karena lemahnya persaudaraan, minimnya rasa cinta, tipisnya kasih sayang, hilangnya semangat gotong-royong dan pudarnya semangat saling berbagi dan lunturnya sifat altruisme (mendahulukan orang lain) antar anggota masyarakat.

Jika di negeri itu masyarakatnya bermental individualis, egois, hedonis, dan budaya konsumerisme melanda penduduknya, maka dari sanalah, perpecahan bermula, api permusuhan akan menyala dan kriminalitas merajalela. Berikutnya, yang terjadi adalah tindakan anarkis, kekacauan, penjarahan main hakim sendiri, dan akhirnya disintegrasi tak terelakkan lagi.

Allah menghadirkan manusia di muka bumi dengan membawa tugas untuk memakmurkan bumi. Oleh karena itu, siapa pun harus sadar perannya sebagai permakmur kehidupan di muka bumi, bukan menjadi perusak alam, perusak tatanan sosial masyarakat.

Jika penduduk suatu negeri menolak peringatan dari para penyeru kebenaran, bahkan berusaha menghancurkan orang-orang yang melakukan amar makruf nahi munkar, maka yang rugi bukan hanya satu orang atau kelompok tertentu saja, namun juga seluruh negeri. Mereka akan mendapatkan kehancuran sebagaimana Allah peringatkan dalam berbagai kisah Al-Quran.

Rasulullah Muhammad SAW menyebutkan Hubb al-dunya (cinta harta duniawi) sebagai fitnah terbesar bagi umatnya. Beliau bersabda:

إِنَّ لِكُلِّ أُمَّةٍ فِتْنَةً وَفِتْنَةُ أُمَّتِى الْمَالُ /رواه مسلم

“Setiap umat memiliki fitnah dan ujian, dan fitnah terbesar bagi umat ku adalah harta dunia” HR. Muslim.

Faktor ketiga, kehancuran  sebuah kekuasaan  juga  disebabkan  karena  hilang  dan  pudarnya nilai-nilai keagamaan. Peran agama yang begitu penting menjadi suatu pondasi bagi terbentuknya  suatu  peradaban  yang  bermoral.

Hilangnya peran sentral agama sebagai penopang peradaban menurut  Hamka  menyebabkan dekadensi  moral  dan  akhlak. Kebobrokan moral  dan  juga  dekadensi  akhlaq  membuat  perilaku  yang sewenang-wenang  terhadap  masyarakat  lainnya. Itu hakikatnya merupakan  bentuk  dari  penolakan  mereka  terhadap  nilai-nilai  keagamaan. Itulah yang merupakan  penyebab  utama kehancuran  negara  secara nyata.

Nilai-nilai keagamaan merupakan suatu prinsip yang membentuk pola pikir dan gaya hidup. Sehingga apabila kepercayaannya tidak berlandaskan pada  syariat  agama,  maka  tentu  tindakan  yang  terwujud  adalah  kejahatan  dan kezaliman.

Agar kehancuran tidak terjadi pada bangsa kita, maka hendaknya ada yang harus memiliki Uluu Baqiyyah (orang-orang yang masih memiliki keutamaan), yang mampu tampil menumpas Al-Fasad (kerusakan dan kejahatan), seperti korupsi, manipulasi, eksploitasi, koptasi, dan kapitalisasi. Harus ada orang-orang yang hadir untuk mencegah kemungkaran dan memerintah kebaikan. Para pemimpin, penasihat dan pembantu-pembantunya adalah tokoh-tokoh yang jujur, bersih, jauh dari gaya hidup mewah dan rakus kekuasaan.

Bangsa Indonesia memiliki falsafah Bhineka Tunggal Ika, dengan dasar negara, yaitu Pancasila. Itu semua diramu dan dirangkum dengan sempurna oleh para pendiri negara ini dengan dibuatnya Undang-Undang Dasar 1945. Ini adalah modal berharga bangsa ini untuk terus dapat merawat persatuan, merajut toleransi, demi membangun negeri ini mencapai kejayaan dan kesejahteraan. Wallahu a’lam bis Shawab. (A/Im/P2)

*KH Yakhsyallah Mansur juga menjadi Pimpinan Jaringan Ponpes Al-Fatah se Indonesia.

Mi’raj News Agency (MINA)