BILLA DESA MUALAF DI NTT YANG PERLU DIBELA

DSC04397
Ustad Ahmad Sholeh paling kanan, bersama warga muslim setempat

Oleh : Ahmad Soleh, Da’i Jama’ah Muslimin (Hizbullah), Office Manager Mi’raj Islamic News Agency (MINA)

Banyak hal saya dapatkan saat Safari Dakwah Ramadhan (SDR) Aqsa Working Group (AWG) dan Kantor Berita Mi’raj Islamic News Agency (MINA), Jum’at-Sabtu, 13-14 Ramadhan 1435/11-12 Juli 2014, ke Masjid Al-Ikhlas Desa Billa, Kecamatan Amanuban Timur, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur (NTT) berbatasan dengan Timor Leste.

Billa adalah dusun terpencil berjarak 280 km dari ibu kota Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Kupang. Jika diukur dari ibu kota Kab. Timor Tengah Selatan (TTS), Soe, berjarak 70 km ke arah Timur atau Tenggara dan 7 km dari ibu kota Kec. Amanuban Timur, Oe Ekam ke arah Selatan. Menurut keterangan Kepala Desa Billa, Isak Nitiono yang pernah nyantri di Cibanteng, Ciampea, Bogor, Jawa Barat, pada tahun 2012 penduduk Desa Billa berjumlah 636 kepala keluarga (KK) dan pada tahun 2014 berkurang menjadi 597 KK karena kematian dan perpindahan. Sementara penduduk yang beragama Islam pada tahun 2013, 93 KK.

Masih menurut Kepala Desa setempat, tanah Billa baru tergarap sekitar 15-25 % saja. Sisanya belum dapat dioptimalkan. “Kita kesulitan air”, alasan Isak. “Benar, bahwa pemerintah pusat dan pemerintah provinsi sejak 2007 telah mengucurkan bantuan hingga terbangun 3 titik mata air yaitu satu titik berjarak 4 km ke arah Selatan dan dua titik ke arah Timur berjarak 3 km dari kantor Desa Billa,” tambahnya.

Namun tiga mata air itu belum dapat dioptimalkan karena sarana untuk membagi air ke penduduk dan lahan-lahan, belum ada. Penduduk baru dapat memanfaatkan air tiga mata air tersebut untuk memasak dan kebutuhan lainnya dengan cara dipikul menempuh jarak cukup jauh dari rumah mereka.

Untuk dapat sampai ke Desa Billa, saya didampingi tiga orang panitia termasuk H. Mohammad Anwar Anis yang pernah bertugas di Lingkungan Penerangan Agama Islam Provinsi NTT dan membina para muallaf di provinsi tersebut sejak 1968 ini. Berangkat dari Kota Kupang pukul 05.25 WITA menuju ibukota TTS, Soe terlebih dahulu. Karena harus mengisi khutbah Jum’at dan menyosialisasikan AWG dan MINA, menggunakan mobil Suzuki APV milik perusahaan jasa pengiriman barang Tiki Jalur Nugraha Ekakurir (JNE) Kupang.  JNE Kupang merupakan satu dari pendukung program SDR ini.

Sepanjang perjalanan Kupang-Soe saya melihat tanah-tanah yang lebih tepat dikatakan bebatuan bertanah, lahan-lahan, dan tanaman-tanaman kering, selain sungai Noel Mina lebar yang kekeringan pula.

“Noel Mina berarti sungai minyak,” jelas Anwar. “Karena saat sungai ini melimpah, airnya seperti berminyak,” tambahnya di sela-sela istirahat dan pengambilan gambar sungai tersebut. Meski melewati hutan, jalan yang dilalui sudah beraspal walau sesekali harus melambat karena ada proyek pelebaran jalan dan pengaspalan, karena lebar jalan yang sudah ada hanya cukup untuk dua kendaraan berpapasan, sehingga impian untuk dapat istirahat dengan nyaman dalam kendaraan tak kunjung dapat dilakukan.

Rombongan merasakan udara yang dingin saat tiba di Soe pukul 09.15 Wita. Anwar segera melaporkan via ponselnya pada DKM Masjid Al-Ikhlas Soe, bahwa saya sudah tiba di Soe dan siap untuk mengisi khutbah Jum’at serta sosialisasi AWG dan MINA. Setelah menyosialisasikan AWG dan MINA ba’da shalat Jum’at, rombongan SDR menuju Desa Billa pukul 13.25 Wita dengan menggunakan Ford Ranger milik salah satu jamaah masjid Al-Ikhlas, Soe. Penggantian kendaraan dilakukan karena jalan menuju Desa Billa cukup terjal, tidak rata, berbatu walau dijumpai juga sisa-sisa jalan beraspal.

Sepanjang jalan Soe-Billa, saya dapati warung-warung sederhana dan penjual buah-buahan meskipun sangat berjauhan jaraknya dan sangat sulit menjumpainya. Sesekali juga saya temukan penjual bahan bakar minyak; bensin, di jarak 30 km atau 40 km dari Soe, itupun seharga Rp. 10.000,-/liter, atau per botolnya. Saat warung makanan kecil sulit didapati, penjual buah-buahan pun jarang ditemukan, justru di tengah hutan menuju Billa ini dapat ditemukan penjual pulsa elektrik. Inilah bukti zaman komunikasi, walau pemilik ponsel yang tidak memiliki Genset pembangkit listrik harus mengisi strum batterainya ke Oe Ekam sejauh 3 km dengan berjalan kaki.

Menjelang tibad di Masjid Al-Ikhlas Billa, mobil Ranger yang kami tumpangi harus ikhlas turun melalui sungai karena belum ada jembatan yang menghubungkan dengan pemukiman sekitar masjid tersebut. Alhamdulillah sungai itu sedang mengering, walau didapati beberapa bagian masih berair yang digunakan untuk mandi dan mencuci motor oleh penduduk sekitar.

Billa yang kebanyakan penduduknya bekerja sebagai petani dan berkebun ini begitu antusias menyambut kunjungan silaturahmi rombongan SDR ke masjid mereka yang sederhana itu, saat jam dinding menunjukkan pukul 17.25 Wita. Dengan senyuman penduduknya yang khas, mereka segera menghampiri saat kami turun dari Ranger. Tangan mereka –baik Muslim maupun muslimahnya- segera diulurkan kepada kami tanda meminta untuk berjabat tangan. Segera kami sambut tangan mereka –yang muslimin- dengan penuh semangat dan rasa haru, adapun terhadap muslimatnya saya hanya menyambutnya dengan isyarat tangan di dada. Ternyata di tempat terpencil seperti Billa ini ada juga orang, saudara-saudari yang hidup mempertahankan keislamannya.

Anak-anak Ikhlas yang Menakjubkan

Imam Masjid Al-Ikhlas, ust. Didin yang pernah nyantri di Tasikmalaya Jawa Barat, mempersilahkan rombongan memasuki masjid. Setelah mengambil posisi masing-masing segera Anwar, yang sudah beberapa kali berkunjung ke masjid ini,  menyambut waktu yang disediakan ust. Didin untuk memperkenalkan rombongan SDR, di hadapan puluhan anak-anak usia sekolah Dasar -satu orang sudah menginjak kelas satu Sekolah Menengah Pertama- dan beberapa muslimin dan muslimat yang menunggu sejak ba’da Jum’at.

“Bahkan sebagian telah kembali ke rumah masing-masing karena terlalu lama menunggu,” jelas ust. Didin. Saya begitu kagum saat Anwar menguji mereka untuk membacakan surat Al-Infithar, salah satu surat dalam Juz ‘Amma, Juz ke 30 dalam mushaf Al-Qur’an. Anak-anak yang mengenakan pakaian dan kerudung sederhana itu kalau tidak mau mengatakan usang, dengan serentak membacakan surat Al-Infithar tanpa melihat mushaf Al-Qur’an.

Benar ternyata, beberapa bulan lalu penulis menerima sms dari seorang pembina desa ini, kenal saat Idul Adha 1434 di Kupang, yang melaporkan bahwa mereka telah hafal Juz ‘Amma, bahkan ada yang telah dibawa ke kota Kupang untuk mengikuti lomba hafalan Al-Qur’an. Masya Allah, desa boleh terpencil tapi kecintaan terhadap al-Qur’an tidak boleh tertinggal, mungkin kalimat ini yang pantas ditujukan kepada anak-anak itu.

Kesederhaan Penduduknya

Tiba waktu Maghrib, rombongan dipersilakan untuk berbuka dengan hidangan ‘istimewa’. Ya, hidangan ‘istimewa’ bagi kami, minuman terbaik yang mereka miliki, namun bukan minuman cola bersoda, bukan pula sirup berwarna yang dalam iklannya dijumpai lambang bintang David, bukan, bukan itu, tapi kelapa muda yang baru mereka petik dan kupas, yang mereka hidangkan dengan alasnya terbuat dari daun ilalang -mirip topi petani- bagi saudara-saudaranya yang datang bersilaturahmi.

Rombongan SDR pun mengeluarkan buah-buahan yang dibeli di perjalanan untuk dinikmati bersama. Betapa nikmatnya saat kami melihat anak-anak unik itu membatalkan puasanya dan orang-orang tua yang telah hidup puluhan tahun mempertahankan keislamannya di tempat itu, berbuka bersama.

Setelah menunaikan shalat Maghrib berjamaah, kami segera diajak makan di masjid tersebut, karena mereka belum memiliki tempat khusus untuk para tamu. Sebelum menyantap nasi, perkedel sayur dan sayur pepaya muda, saya mencoba mencicipi bubur kacang hijau campur ubi jalar. Tadinya saya menyangka, bubur itu merupakan sayur berkuah untuk makan malam. Dengan penuh hati-hati bubur itu dikunyah dan pelan-pelan dirasakan. Keliru, ternyata saya salah menduga. Bubur ini tidak sampai ke drajat rasa asin atau pantas dikatakan sayur berkuah, namun jauh pula dari rasa manis. Natural, rasa santan alami. Tapi itulah hidangan terbaik yang mereka miliki untuk dihidangkan kepada tamu yang dihormatinya. Kami pun menyantap hidangan itu dengan penuh kesyukuran.

Setelah shalat tarawih berjamaah, saya diminta untuk menyampaikan motivasi dan taushiyah kepada jamaah yang berjumlah 60 orangan itu. Saat tanya jawab, diketahui bahwa pemahaman keislaman mereka perlu diperbaiki dan ditingkatkan. Bahkan ada jamaah yang mengakui, ia telah bersyahadat sejak 2001 namun tidak pernah melakukan shalat lima waktu, kecuali shalat Jum’at saja. “Beta harus bersyahadat lagi koh?” tanyanya pada saya. Di kalangan muslimahnya pun ada yang bertanya, “Ketika beta sedang datang bulan, beta boleh mendengarkan pengajian dalam masjid koh?” Itulah mereka saudara-saudara kita dipelosok, yang memerlukan bantuan, bukan hanya bantuan finansial, alat-alat dan ilmu pertanian, namun juga memerlukan pembinaan keagamaannya.

Saat makan sahur, kami menikmati hidangan yang tidak berbeda dengan makan malamnya. Alhamdulillah, semoga Allah memuliakan mereka dan memudahkan urusan dunia dan akhiratnya. Setelah menunaikan shalat Subuh hari Sabtu dan Anwar menyampaikan motivasi agar mereka giat bekerja selain semangat beribadah, karena mengejar acara yang sudah terjadwal, pukul 05.30 Wita rombongan SDR kembali menuju Kupang.(L/Ahso/R2)

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)

Comments: 0