BMKG-BPPT Kembangkan Sistem Terbaru Teknologi Sensor Dini Bawah Laut

Jakarta, MINA – Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika () Dwikorita Karnawati mengatakan, fihaknya bersama Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi () tengah mengembangkan sistem deteksi kejadian tsunami melalui teknologi terbaru yaitu sensor bawah laut.

Dwikorita menjelaskan, teknologi deteksi melalui sensor di bawah laut yang dapat mengetahui kejadian tsunami disebabkan baik oleh gempa tektonik, longsoran bawah laut maupun longsoran gunung berapi seperti yang terjadi pada Gunung Anak Krakatau.

“Mulai 2018, BPPT bersama BMKG sedang menyiapkan sensor di bawah laut. Saat ini yang sedang uji coba itu baru Amerika dan Jepang, negara lain belum ada, Indonesia akan melakukan juga upaya itu,” katanya di kantor Kemenko PMK Jakarta, Selasa (22/1), demikian JPP melaporkan yang diterima MINA.

Menurutnya, pengembangan teknologi sensor bawah laut tersebut saat ini masih dalam tahap usulan, setidak membutuhkan waktu satu tahun untuk perancangan dan satu tahun untuk uji coba.

“Jadi paling tidak perlu dua tahun, Amerika sudah berapa tahun juga belum, jadi ini suatu tantangan,” ujar Dwikorita.

Dia menjelaskan, sistem deteksi tsunami yang terjadi di Indonesia saat ini dirancang sejak 10 tahun lalu, bencana Tsunami Aceh tahun 2004 lalu yang disebabkan oleh gempa tektonik.

Oleh karena itu, sistem deteksi tsunami yang ada sekarang hanya bisa mendeteksi tsunami yang disebabkan oleh Gempa Tektonik, belum bisa mendeteksi tsunami akibat longsoran bawah laut atau longsoran gunung api.

Dwikorita menerangkan, fenomena alam sudah berubah dan menunjukkan anomali. Sistem deteksi tsunami Indonesia saat ini sama seperti yang ada di Jepang dengan memberi peringatan akan terjadi tsunami dalam waktu tiga menit.

Sementara, gelombang tsunami yang terjadi di Palu tahun 2018 mencapai pantai hanya dalam kurun waktu dua menit. Teknologi sistem deteksi dengan sensor bawah laut diharapkan bisa mengatasi permasalahan tersebut dengan informasi yang diberikan secara langsung.

Sistem deteksi dini melalui sensor bawah laut bekerja mengukur perubahan tekanan hidrostatis laut secara seketika, sehingga informasi akan terjadinya tsunami bisa dikirimkan langsung ke pusat kontrol untuk disebarluaskan pada masyarakat.

“Namun teknologi bukan jaminan, karena sistem peringatan dini yang sangat penting adalah sistem kultural bagaimana kesiapan masyarakat dengan edukasi dan budayanya,” ujarnya.

Selama menunggu pengembangan teknologi peringatan dini tsunami, Dwikorita mengatakan, sebaiknya diisi dengan edukasi dan sosialisasi kewaspadaan terhadap tsunami, membangun budaya untuk tidak mendirikan rumah sangat dekat dengan jarak pantai.

Dia juga menganjurkan, penanaman vegetasi penahan tsunami untuk mengurangi laju gelombang guna meminimalkan daya rusak.

“Karena kita tidak bisa mengandalkan 100 persen pada teknologi, alam itu selalu lebih unggul dari teknologi sehingga manusia harus beradaptasi dengan alam,” kata Dwikorita. (R/Gun/R01)

 

Mi’raj News Agency (MINA)

Ikuti saluran WhatsApp Kantor Berita MINA untuk dapatkan berita terbaru seputar Palestina dan dunia Islam. Klik disini.