BMKG Merespon Perubahan Iklim dan Antisipasi Bencana

Jakarta, MINA – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengambil langkah dengan menjalin kerja sama strategis dengan Japan International Cooperation Agency (JICA), terkait pembahasan kerja sama di bidang Klimatologi dan Geofisika dalam The Project of Capacity Development for the Implementation of Climate Change Strategies.

Proyek tersebut merupakan kerja sama JICA dengan beberapa instansi, termasuk BMKG di dalamnya, dengan pembahasan terkait kebijakan perubahan iklim. Proyek kerja sama ini sendiri telah ditandatangani oleh para pihak sejak 25 Januari 2018 silam.

“Kerja sama JICA dengan BMKG ini bertujuan menyediakan proyeksi iklim sebagai dasar saintifik pembuatan kebijakan, yang mana Deputi Bidang Klimatologi dan Kepala Pusat Perubahan Iklim dari BMKG berperan sebagai focal point,” jelas Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, sebagaimana dikutip MINA, Selasa (14/6).

Salah satu kesepakatan dalam proyek ini menyebutkan, peralatan dari Jepang yang dipakai selama proyek pada akhir kerja sama akan menjadi milik Pemerintah Indonesia (melalui mekanisme hibah)

Kerjasama tersebut dalam rangka merespon perubahan iklim dan dampaknya. Dunia, termasuk Indonesia tengah menghadapi berbagai ancaman bencana akibat dampak perubahan iklim, karena berdampak sangat luas pada kehidupan masyarakat.

Kenaikan suhu bumi tidak hanya berdampak pada naiknya temperatur, tetapi juga mengubah sistem iklim yang memengaruhi berbagai aspek pada perubahan alam dan kehidupan manusia.

Pada Bidang Geofisika, kerja sama yang dilakukan antara BMKG dan JICA yaitu membahas mengenai Earthquake and Tsunami Early Warning System. Berdasarkan kerja sama tersebut pula, pihak JICA telah memberikan beasiswa kepada enam pegawai Kedeputian Bidang Geofisika untuk melanjutkan bersekolah S2 di Jepang pada ajaran 2021-2022.

Dwikorita berharap, dengan dilaksanakannya program dan proyek kerja sama tersebut dapat membantu BMKG dalam mengembangkan SDM serta pengembangan terkait Earthquake and Tsunami Early Warning System secara teknis.

Sementara itu, terkait antisipasi bencana, lanjut Dwikorita, beberapa waktu lalu BMKG juga telah mendorong seluruh negara membangun ketangguhan secara total atau holistik usai pandemi COVID-19.

Tidak hanya tangguh secara ekonomi, namun juga ketangguhan secara sosial budaya dan lingkungan. Termasuk didalamnya ketangguhan bencana guna mengurangi risiko dan kerugian yang ditimbulkan. Terlebih, dunia tengah menghadapi berbagai ancaman bencana akibat dampak perubahan iklim.

“Untuk membangun ketangguhan secara total di level internasional, maka antar negara tidak bisa berupaya sendiri-sendiri atau saling bersaing. Sebaliknya, harus saling bahu membahu, gotong royong untuk mewujudkan hal tersebut,” ungkap Dwikorita.

Dwikorita memaparkan, sedikitnya ada lima rumusan cara yang dapat dilakukan untuk membangun ketangguhan holistik tersebut. Pertama, membangun sistem peringatan dini yang handal, untuk menghindari dampak dan mengurangi risiko bencana.

Menurutnya, negara-negara terkena dampak ekonomi akibat pandemi COVID-19 akan jauh lebih terpuruk jika sistem peringatan dini tidak dipersiapkan dengan baik.

Kedua, terkait kebutuhan anggaran dalam penguatan maupun pembangunan sistem peringatan dini tersebut, perlu adanya skema pembiayaan yang tepat dan tidak memberatkan bagi negara-negara berkembang, tertinggal, dan kepulauan. Systematic Observations Financing Facilities (SOFF) yang digagas oleh organisasi meteorologi dunia (WMO) merupakan salah satu contoh fasilitas pendanaan yang berkeadilan.

Ketiga, lanjut Dwikorita, kerja sama dan pelibatan semua elemen masyarakat mutlak diperlukan. Pemerintah, swasta, sektor, media, akademisi, dan komunitas, khususnya untuk layanan hidrometeorologi, harus ditingkatkan di tingkat regional dan/atau negara.

Hal itu, dapat dicapai melalui komunikasi dengan berbagai pemangku kepentingan dan dengan menyelaraskan seluruh aktivitas dengan tujuan yang berorientasi ke pembangunan yang berkelanjutan.

Sementara itu, rumus keempat yang bisa dilakukan adalah dengan membangun solidaritas global untuk berbagi kapasitas dan berbagi sumber daya guna mengatasi tantangan global tersebut.

Menurut Dwikorita, uluran tangan dengan semangat kemanusiaan dapat menjadi solusi untuk mencapai kualitas ketahanan total bersama, tangguh bersama, tumbuh bersama, dan sejahtera bersama di dunia pascapandemi.

“Indonesia siap berkontribusi demi kepentingan global melalui pelatihan, peningkatan literasi, peningkatan kapasitas SDM, maupun pembangunan/pengembangan teknologi bersama dengan negara-negara lain. Khususnya negara-negara berkembang dan kepulauan,” terangnya.

Sedangkan rumusan kelima adalah dengan mendorong peningkatan peran dan efektivitas kepemimpinan di tingkat lokal, nasional, regional, dan internasional dalam memperkuat manajamen bencana. Mulai dari prabencana, saat tanggap darurat hingga masa pemulihan.(R/R1/RS3)

 

Mi’raj News Agency (MINA)