Data Penting Israel Bobol, Peretas Tuntut Pembebasan Tahanan Palestina

Ilustrasi peretas melaksanakan serangan sibernya.(Sumber: BING AI Image Generator)

Jakarta, MINA – Kelompok Peretas (hacker) internasional telah meluncurkan situs web khusus untuk menyebarkan informasi yang diperoleh dari pembobolan baru-baru ini ke dalam basis data penting dan sensitif Israel, Surat kabar Ibrani “Haaretz” melaporkannya pada Selasa (17/4).

Haaretz melaporkan, situs tersebut telah memuat ribuan dokumen yang dilaporkan diperoleh dengan menyusup ke sistem yang terkait dengan Kementerian Pertahanan Israel, Asuransi Nasional, Kementerian Kehakiman, dan fasilitas penelitian nuklir Dimona.

Kebocoran tersebut dilaporkan dikaitkan dengan kelompok peretas baru yang dijuluki ‘NetHunt3rs’, yang menuntut pembebasan 500 tahanan Palestina dengan imbalan menyembunyikan keseluruhan informasi yang berhasil diungkapkan.

Surat kabar Ibrani itu juga mengklaim bahwa kelompok peretas yang membocorkan data keamanan Israel baru-baru ini, termasuk yang terafiliasi kelompok peretas berasal dari Iran.

Mengkonfirmasi hal tersebut, Dr. Mohammad Reza Ebrahimi, Penasihat Kebudayaan Kedutaan Besar Republik Islam Iran di Jakarta kepada MINA, Rabu (17/4) malam, membenarkan adanya aktivitas kelompok peretas dari Iran yang membobol data keamanan Israel.

Baca Juga:  Kedubes Iran Gelar Tahlilan Atas Wafatnya Presiden Raisi

Dia mengatakan, meski tidak secara resmi, serangan siber yang dilancarkan kalangan muda ini merepresentasikan semangat pemuda Iran membela negaranya dan membela rakyat Palestina yang masih tertindas.

“Saya rasa (kelompok peretas yang melakukan serangan siber ke Israel) ini ingin menunjukkan bahwa setelah kejahatan anti-manusia yang dilakukan Zionis di Gaza, generasi muda yang mencintai kebebasan di seluruh dunia melakukan serangan dunia maya untuk menghukum rezim Zionis. Dari Iran hingga seluruh belahan dunia,” ujar Reza Ebrahimi.

Retas Sistem Pertahanan dan Data Keamanan Penting

Pihak berwenang Israel pertama kali mengklaim bahwa peretasan terjadi secara eksklusif di “situs yang tidak sensitif”, namun Haaretz menemukan data administratif Kementerian Keamanan Israel telah berhasil diretas dan dicuri.

Berdasarkan hasil penyelidikan yang dilakukan Haaretz dilaporkan bahwa data-data yang bocor tersebut mencakup data penting dan sensitif dari portal administratif, seperti informasi identifikasi karyawan, tender pertahanan, serta rincian sistem teknologi militer Israel, termasuk kendaraan lapis baja dan sistem fotografi satelit.

Baca Juga:  Militan Irak Targetkan Serang Pelabuhan Israel dengan Drone

Dalam insiden terpisah, kelompok peretas berhasil memperoleh informasi tentang pegawai kementerian dan dokumen-dokumen resmi lainnya.

Selain itu, kelompok peretas lainnya “Eagle Claws” mengaku telah meretas Institut Asuransi Nasional dan mencuri 8 juta rekening bank dan alamat tempat tinggal warga Israel.

Meskipun Institut Asuransi Nasional Israel menyangkal pelanggaran sistem, kelompok tersebut menerbitkan sebuah video yang diduga menunjukkan pengumpulan data pribadi penduduk Israel.

Dalam perkembangan lainnya, kelompok peretas mengumumkan melalui aplikasi Telegram bahwa mereka telah mencuri informasi dari sistem komputer Kementerian Angkatan Darat Israel.

Mereka juga menerbitkan sebuah cuplikan video yang menjelaskan cara meretas berbagai sistem, yang menunjukkan bahwa mereka telah menawarkan informasi tersebut untuk dijual di berbagai forum dengan imbalan 50 bitcoin.

Mahkamah Siber

Dalam insiden terpisah, sistem Kementerian Kehakiman Israel telah disusupi, sehingga kelompok penyerang peretas dapat memperoleh ratusan gigabyte data, termasuk informasi tentang pegawai kementerian dan dokumen-dokumen resmi lainnya.

Baca Juga:  Pejuang Al-Qassam Kembali Hancurkan Tank Merkava Israel di Jabaliya

Meskipun Kementerian Kehakiman membantah terjadinya serangan tersebut, ada laporan informasi sensitif yang dipublikasikan di Internet yang diyakini berasal dari Kementerian Kehakiman.

Kelompok Peretas tersebut juga meluncurkan operasi “Mahkamah Siber”, berusaha meniru proses peradilan Mahkamah Internasional terhadap Israel.

Mereka mengklaim bahwa kelompok dunia maya lain telah bergabung dengan mereka untuk mempermalukan Israel dan menggalang dukungan internasional sebagai pembalasan atas kekalahan perang di Gaza.

Sebagaimana pantauan MINA, setidaknya ada 10 kelompok peretas yang sudah ikut bergabung dari beberapa negara di antaranya dari Afrika Selatan, Pakistan, Palestina (Gaza), Sudan, dan Bangladesh.

Menurut Haaretz, materi yang bocor disebarluaskan melalui situs web khusus yang disebut ‘Mahkamah Siber’, yang didefinisikan sebagai versi WikiLeaks yang pro-Palestina.

Meskipun Israel jarang mengakui insiden ini, surat kabar tersebut juga menyatakan bahwa serangan dunia maya terhadap Israel “meningkat tajam (…) sejak pecahnya perang di Gaza”.(L/R1/P2)

 

Mi’raj News Agency (MINA)

 

Wartawan: Rana Setiawan

Editor: Rana Setiawan