Bom Bunuh Diri, Syahidkah?

(gambar: google)
(gambar: google)

Oleh: Rendy Setiawan, Jurnalis Mi’raj Islamic News Agency (MINA)

Budaya meledakkan diri di tempat yang ramai seolah menjadi hal yang biasa kita lihat dan dengar di berbagai media cetak maupun elektronik. Mayoritas para pelakunya justru dikait-kaitkan dengan golongan Islam, yang sebenarnya penulis sendiri tidak setuju dengan tuduhan itu, karena Islam tidak pernah mengajarkan radikal, teror dan saudara-saudaranya.

Akibat dari tuduhan itu, umat Islam dicap sebagai agama rasis, intoleran, bahkan suka memusuhi umat lain. Fenomena seperti sangat dan amat disayangkan. Mengapa? Satu hal yang tidak dipahami oleh para pelaku bom bunuh diri yang mengaku-ngaku Muslim itu adalah justru tindakannya bukan membuat orang kafir jera. Melainkan malah tambah mengintimidasi umat Islam dari berbagai berbagai sudut.

Semoga Allah Ta’ala menjaga aqidah kita dari kesalahpahaman yang demikian.

Jihad sebagai Ibadah

Sesungguhnya menunaikan jihad dalam pengertian dan penerapan yang benar adalah termasuk ke dalam ibadah yang mulia di dalam Islam. Sebab Allah telah memerintahkan kaum Muslimin untuk berjihad melawan musuh-musuh-Nya dengan jihad di jalan-Nya.

Allah Ta’ala berfirman:

يَـٰٓأَيُّہَا ٱلنَّبِىُّ جَـٰهِدِ ٱلۡڪُفَّارَ وَٱلۡمُنَـٰفِقِينَ وَٱغۡلُظۡ عَلَيۡہِمۡ‌ۚ (٧٣)

Artinya: “Hai Nabi, berjihadlah melawan orang-orang kafir dan orang-orang munafiq, dan bersikaplah keras kepada mereka…” (QS. At-Taubah [9]: 73)

Selain sebagai ibadah mulia di dalam Islam, jihad juga menjadi salah satu di antara tiga amalan yang amat dicintai oleh Allah Ta’ala.

Seperti disebutkan di dalam hadits. Bahwa suatu ketika, Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu bertanya kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, “Wahai Rasulullah, amalan apa yang paling dicintai oleh Allah?” Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Berbuat baik kepada orang tua.” Ibnu Mas’ud bertanya lagi, “Setelah itu apa wahai Rasulullah?” Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Shalat tepat waktu.” Ibnu Mas’ud bertanya lagi, “Setelah itu apa lagi?” Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Jihad di jalan Allah.” (HR Muslim)

Hadits di atas menjadi landasan kita bahwa jihad adalah salah satu amalan yang sangat dicintai Allah Ta’ala, maka untuk melaksanakannya pun harus terpenuhi dua syarat utama, yaitu: pertama ikhlas karena Allah dan kedua ittiba’ (mengikuti) contoh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Islam dan Jihad

Dua kata yang tidak bisa dipisahkan, juga tidak bisa diganti dengan kata yang lain adalah Islam dan Jihad. Itu karena memang Islam identik dengan jihad. Hanya salah satu kesalahan sebagian umat Islam adalah menganggap bom bunuh diri sebagai salah satu cara berjihad di jalan Allah Ta’ala. Padahal tidaklah demikian.

Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, ulama ternama yang wafat di akhir abad 20-an pernah ditanya tentang seseorang yang meletakkan sebuah bom di tubuhnya, kemudian meledakkannya di tempat ramai. Maka beliau menjawab:

“Orang yang meletakkan bahan peledak dalam tubuhnya dengan tujuan untuk meledakkannya bersama dirinya di komunitas musuh, adalah orang yang membunuh dirinya. Dia akan diadzab karena membunuh dirinya di neraka Jahannam dan kekal di dalamnya. Sebagaimana telah hal itu disebutkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tentang ancaman orang bunuh diri dengan sesuatu maka dia diadzab dengan sesuatu yang membunuhnya di neraka Jahannam”.

Alangkah aneh mereka yang melakukan perbuatan-perbuatan seperti ini, padahal mereka membaca firman Allah Ta’ala.

وَلَا تَقۡتُلُوٓاْ أَنفُسَكُمۡ‌ۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ بِكُمۡ رَحِيمً۬ا (٢٩)

Artinya: “…Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu …” (Qs. An-Nisa [4]: 29)

Kemudian mereka melakukan perbuatan itu, apakah mereka memetik sesuatu? Apakah musuh kalah?! ataukah musuh semakin keras kepada mereka yang melakukan bom bunuh diri ini. Akan tetapi barangsiapa yang melakukan hal ini dengan ijtihadnya menyangka bahwa ini adalah sarana pendekatan diri kepada Allah Ta’ala, maka kita memohon kepada Allah Ta’ala agar tidak menghukumnya, karena dia seorang jahil (bodoh).

Adapun pendalilan dengan kisah pemuda Ashabul Ukhdud, maka kisah pemuda ini didapatkan darinya umat yang masuk Islam, tanpa menewaskan musuh. Karena itu, ketika raja mengumpulkan orang-orang, dan mengambil sebuah panah dari tempat panah pemuda seraya mengatakan: Dengan nama Allah Ta’ala Tuhan pemuda ini, (hingga terbunuhlah pemuda itu) maka orang-orang semuanya berteriak: Tuhan yang benar adalah Tuhan pemuda ini. Maka dengan kematian pemuda ini didapatkan ke-Islaman sebuah umat yang besar.

Seandainya hal seperti ini terjadi maka sungguh kami akan mengatakan bahwasanya di sana ada tempat untuk berdalil dengan kisah ini, dan bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengisahkan kisah ini agar kita mengambil ibrah darinya.

Tetapi orang yang meledakkan diri-diri mereka jika membunuh sepuluh atau seratus musuh, maka hal itu tidak menambah musuh kecuali semakin marah kepada kaum Muslimin dan semakin gigih dengan apa keyakinan mereka.

Kesatuan Umat sebagai Solusi 

Lagi-lagi, salah satu permasalahan umat ini adalah belum banyak yang menyadari akan pentingnya sebuah persatuan di dalam Islam (al-jama’ah). Salah satu sikap dalam menghadapi berbagai keruwetan tersebut adalah tidak mencabut diri dari masyarakatnya, lalu menyepi dan menyendiri. Justru ia harus menggalang kekuatan dakwah dengan terus-menerus membangun kesadaran umat untuk kembali kepada sumber nilai Islam, Al-Qur’an dan Al-Hadits. Tidak dengan cara-cara di luar sunnah.

Dikarenakan al-Jama’ah, bertaunya kaum Muslimin secara terpimpin, sehingga tidak mudah ikut-ikutan, merupakan jalan keluar dalam menghadapi berbagai masalah dalam masyarakat. Maka kewajiban hidup berjama’ah tetap harus melekat pada setiap muslim. Termasuk yang hidup di wilayah non-Muslim sekalipun.

Begitulah kenyataan umat ini, masih banyak orang shalih di antara mereka, tapi seperti daun-daun kering yang berhamburan, tidak terhimpun dalam sebuah wadah yang bernama al-Jama’ah. Barang kali banyak orang hebat di antara mereka, tapi kehebatan itu hilang diterpa masa, seperti sebuah daun yang jatuh dari pohonnya. Ia terbang tanpa arah hingga terjerembab ke tanah. Atau seperti gundukan pasir yang sewaktu-waktu akan beterbangan saat badai datang menerpa. Banyak potensi yang tersimpan pada individu-individu muslim, tapi semuanya berserakan, tak menyatu dalam satu al-Jama’ah. Sehingga mudah melakukan hal-hal jahil, seperti bom bunuh diri tadi.

Inilah jalan panjang kebangkitan umat seperti yang diprediksikan Rasulullah Shallalahu ‘Alaihi Wasallam, yang harus dimulai dari sekarang. Caranya, himpun dedaunan yang berhamburan di tanah itu, anyamlan jalinan cinta, satukan kerja dalam satu simpul harmoni. Dengan demikian, hal semacam ini bisa diharapkan menjadi sebuah pohon peradaban yang teduh untuk menaungi segala aspek di bawahnya.

Al-Jama’ah, kesauan umat yang terpimpin, adalah salah satu cara paling tepat untuk menyederhanakan perbedaan-perbedaan pada individu muslim. Dalam ikatan satu Jama’ah, individu-individu yang memiliki kesamaan visi misi disatukan dalam sebuah simpul kesatuan. Meskipun banyak jamaah, tetap jauh lebih baik daripada tidak ada sama sekali.

Ada sebuah ungkapan sederhana, “Memetakan orang banyak melalui pengelompokan atau simpul-simpulnya jauh lebih mudah, ketimbang harus memetakan mereka sebagai individu.”

Memang, nyatanya itu bukan pekerjaan mudah. Ternyata, cinta tak gampang ditumbuhkan. Orang hebat tak selalu bersedia menyatu dengan orang hebat lain. Mungkin benar ungkapan yang mengatakan, “Seorang prajurit bodoh, kadang-kadang lebih berguna daripada dua jenderal yang hebat. Wallahu Ta’ala A’lam. (P011/P4)

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)