Bom Curah AS Ditemukan di Yaman

Shana’a, 6 Syawwal 1437/11 Juli 2016 (MINA) – Sisa-sisa serpihan bom curah (cluster bomb) buatan Amerika Serikat (AS) ditemukan di ibukota Yaman, Shanaa, Human Rights Watch (HRW) melaporkan seperti disebutkan pada media Stars and Stripes, Sabtu (9/7/2016).

Bom tandan dengan kode CBU 58A/B, berisi sekitar 650 bom di dalamnya, menunjukkan dibuat tahun 1978 di Pabrik Amunisi Milan, Tennessee, Amerika Serikat. Sisa-sisa sekarang diamankan di dalam kompleks kepolisian setempat.

Potongan bom kluster yang tidak sempat meledak itu menyasar atap apartemen Shakir Ghaleb Ahmad, seorang pekerja toko roti.

“Saya bangun dan melihat darah di tubuh saya. Semua kaca pecah dan menimpa saya dan isteri saya, seolah-olah hari kiamat telah tiba,” ujar Ahmad.

Ia saat itu berada di ruangan lain, puterinya yang berusia tiga tahun dan isterinya segera diungsikan ke tempat yang lebih aman. Dia sendiri masih menghadapi masalah luka parah di tubuhnya.

Ia menceritakan bahwa pagi itu seusai shalat shubuh, dirinya sedang bersiap-siap untuk bekerja.

Tiba-tiba, sebuah pesawat perang dari koalisi yang dipimpin Arab Saudi menjatuhkan bom tandan buatan Amerika ke kantong padat penduduk.

Beruntung dirinya lolos dari kematian walau harus terluka parah. Namun ia harus menghabiskan selama 15 hari dirawat di rumah sakit, hingga dokter mengeluarkan pecahan peluru yang menerjang hati dan paru-parunya.

Sebelumnya pada 6 Januari lalu, sebuah bom curah juga meledak di perumahan penduduk, dan menimbulkan korban dari kalangan sipil.

“Tidak ada yang tahu mengapa daerah kami menjadi sasaran,” Taher Al-Khadami, imam masjid, mengatakan baru-baru ini.

Dia menunjuk tempat di lantai dalam masjid, beberapa langkah dari pintu gerbang.

Di situlah ia menemukan Essa Al-Furasi, seorang remaja dengan T-shirt berlogo tim kesayangannya, Real Madrid, terkapar akibat pecahan bom di dekat pintu gerbang masjid.

“Kami mendengar ledakan, dan ketika kami keluar Essa telah terkapar di tanah,” ujarnya. “Saya segera angkat tubuhnya ke mobil, dengan darah yang terus keluar, tapi dia masih bernapas.”

Namun akhirnya, Essa meninggal setelah tiba di rumah sakit.

Bom melukai dua orang lainnya, mengakibatkan 20 mobil terbakar dan 26 rumah penduduk rusak, menurut keterangan polisi.

Dalam wawancara, warga mengatakan tidak ada benteng militer, bangunan strategis, atau unit militer di daerah mereka.

“Jika bom telah dijatuhkan ke sekitar daerah anak-anak saat akan ke sekolah, itu akan menjadi bencana besar,” kata Jenderal Ahmed Abdullah Al-Tahiri, komandan polisi di daerah itu.

“Ini adalah hadiah dari Arab Saudi dan Amerika,” katanya sambil menatap sisa-sisa bom yang disimpan di kompleks unitnya.

Bom cluster diketahui telah digunakan di berbagai konflik, termasuk dalam perang Vietnam, Irak, Suriah dan Libya.

Sejauh ini, sejumlah 119 negara telah bergabung dengan konvensi internasional yang diadopsi pada tahun 2008 untuk melarang penggunaannya. (T/P4/R05)

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)