Bukan Konflik dan Bukan 7 Oktober

Imam Shamsi Ali (Imam di Islamic Center of New York dan Direktur Jamaica Muslim Center).(Foto: Dok. Pribadi)

Oleh: Imam Shamsi Ali (Imam di Islamic Center of New York dan Direktur Jamaica Muslim Center)

Setiap kita membicarakan tentang masalah Palestina dan Israel begitu banyak hal yang perlu diklarifikasi dan diluruskan agar terhindar dari “penyesatan” yang sistematis dan terstruktur. Bahkan beberapa terminologi yang terpakai sengaja dipopulerkan untuk menyesatkan cara pandang (mindset) dunia internasional, termasuk umat Islam.

Saya mengambil satu contoh kata konflik. Dipahami bahwa konflik itu adalah dua pihak (two parties) yang berhadapan, baik secara fisik (perang) maupun nonfisik (perbedaan opini, pandangan, dan seterusnya).

Definisi ini jelas menjelaskan bahwa terminologi yang selama ini dibangun oleh dunia informasi, baik oleh institusi pemerintahan maupun nonpemerintahan termasuk dunia bisnis dan media, seolah yang terjadi antara Palestina dan Israel adalah “konflik”.

Jelas ini sesat dan menyesatkan. Realitanya adalah penjajahan. Ada “penjajah dan ada yang “terjajah”. Israel sebagai penjajah dan Palestina sebagai terjajah. Satu contoh dari sekian banyak terminologi yang saat ini dipopulerkan untuk menyesatkan opini dunia.

Termasuk juga perjuangan dan perlawanan atau resistensi bangsa Palestina yang kemudian dipopulerkan menjadi “violence” (kekerasan) bahkan terorisme.

Sementara pembunuhan massal yang dilakukan oleh penjajah Israel sejak 75 tahun silam dibungkus dengan istilah “self defense” (mempertahankan diri).

Baca Juga:  HNW Apresiasi Spanyol Atas Pengakuan Negara Palestina

Dengan pula opini dan cara pandang yang terbangun akhir-akhir ini sejak tanggal 7 Oktober 2023 adalah apa yang disebut “Serangan 7 Oktober”. Lebih jahat lagi serangan ini diperbusuk dengan menambahkan label “terrorist attack” (serangan terror).

Menjadikan perjuangan dan perlawanan bangsa Palestina untuk mendapatkan kembali negara dan hak-hak dasarnya dibalik menjadi “terorisme” dan kejahatan. Sementara pembunuhan massal dan penghapusan etnis dan genosida yang dilakukan oleh Israel dibungkus dengan “self defense”. Israel kemudian nampak menjadi “innocent” bahkan “victims” dari kejahatan itu.

Jadi seolah bangsa Palestina lah yang ternampakkan sebagai “penjahat”. Karenanya menjadi tanggung jawab kita semua umat Islam untuk mengubah dan meluruskan semua itu.

Apa yang terjadi pada tanggal 7 Oktober lalu tidak bisa dipisahkan dari semua peristiwa yang terjadi sejak sekelompok kecil Yahudi dari Eropa diberikan sebongkah tanah oleh penjajah Inggris di negara Palestina yang kemudian dideklarasikan sebagai negara Israel.

Sejak itu kekerasan demi kekerasan dan perlakuan yang tidak manusiawi kepada bangsa Palestina terjadi. Karenanya sejak itu pula perlawanan atau resistensi bangsa Palestina untuk mendapatkan kembali hak-hak asasinya terjadi.

Maka apa yang terjadi pada 7 Oktober hanya bagian dari rentetan perlawanan panjang bangsa Palestina untuk mendapatkan hak-hak dasar mereka.

Perlawanan dan resistensi itulah yang berusaha dibungkam dengan berbagai pelabelan, termasuk label “teror”.

Baca Juga:  Tank-tank Israel Kepung RS Al-Awda di Gaza Utara

Jadilah bangsa Palestina seolah bangsa teroris yang menakutkan. Sesungguhnya hal ini bukan baru. Bukankah hal yang sama pernah diperlakukan kepada PLO dan Pemimpinnya Yaser Arafat ketika itu?

Intinya adalah berbagai “label” yang dikaitkan kepada perjuangan dan resistensi bangsa Palestina tidak lepas dari berbagai tekanan sistematis untuk meredam pergerakan resistensi bangsa Palestina itu. Kita tahu jika label “radikal”, “ekstrimis”, hingga ke “terrorist” seringkali dipaksakan untuk tujuan dan kepentingan tertentu bagi pihak-pihak tertentu.

Karenanya dengan segala “penolakan” kita kepada semua itu, harusnya kita jeli dan mampu memilah-milah mana yang murni kejahatan dan mana yang dipopulerkan untuk kepentingan politik tertentu.

Semua upaya penyesatan itu menjadi bagian dari kejahatan yang dibentuk oleh kelompok tertentu yang punya kepentingan untuk meyakinkan bagi Israel tetap menjajah dan melakukan genosida.

Salah satu konsekuensi hat itulah sedang dipertontonkan saat ini, seolah hiburan bagi mereka yang tidak memiliki hati (heartless).

Saya hanya ingin mengingatkan kita semua, sekali lagi bahwa saat ini manusia sedang memamerkan kekejaman yang tak lagi terjangkau oleh nalar bahkan oleh rasa kemanusiaan.

Kekejaman itu ada pada beberapa sisi. Ada pelaku kekejaman (Israel). Ada yang membantu kekejaman itu secara langsung (Amerika, Jerman, Inggris, dan lainnya). Ada pula yang membantu secara tidak langsung dengan kerjasama politik dan diplomasi (beberapa negara Arab/Muslim). Dan apa pula yang membantu kekejaman ini dengan menonton tanpa melakukan apa-apa.

Baca Juga:  BBM di Rasil Malam Ini: Iran Pasca Tewasnya Presiden Raisi

Minimal kekejaman yang dipertontonkan saat ini adalah ketika kita diam dengan perlakuan jahat Israel itu. Belum lagi ada pihak yang kemudian mencari topeng dengan menggali kesalahan yang bisa ditimpakan kepada bangsa Palestina.

Ketika bangsa Palestina melakuan perlawanan dan ada kaum sipil yang menjadi korban seolah itulah sumber segala permasalahan yang terjadi saat ini.

Warga sipil Israel yang ditahan oleh pejuang Palestina saat ini dijadikan alasan untuk menuduh Palestina sebagai pihak penjahat.

Mereka lupa bahwa ribuan orang Palestina yang berada di penjara-penjara Israel, termasuk anak-anak dan perempuan. Karenanya kita perlu dan harus kembali membangun kesadaran bahwa masalah Palestina bukan konflik dua kelompok.

Tapi isunya adalah penjajahan; penjajah dan terjajah. Dan isu yang lebih kini adalah bahwa kekejaman; pembunuhan massal, penghapusan etnis dan genosida yang sudah di luar ambang nalar sehat manusia itu bukan sekedar dipicu oleh serangan 7 Oktober 2023 lalu.

Tapi memang itulah prilaku penjajah Israel yang tidak manusiawi dan tidak memiliki hati nurani. Dan ingat, hal ini sudah terjadi sejak 75 tahun lalu. Nothing is new! What a tragedy in a world claimed to be modern and civilized! []

 

Mi’raj News Agency (MINA)

 

Wartawan: Arina Islami

Editor: Rana Setiawan