BUKU TITIK TEMU ISLAM-YAHUDI JADI PERBINCANGAN

Foto : Ahmad, (editor Mizan, sebelah kiri) / MINA
Ahmad (kiri). Foto: MINA

, 20 Muharram 1436/12 November 2014 (MINA) –  Sebuah mengenai titik temu - yang dibuat seorang Ulama Islam dan Rabbi menjadi  topik  perbincangan yang diangkat dalam dialog antar agama di Jakarta, Rabu.

Dalam dialog lintas agama tersebut, Imam Masjid New York AS asal Indonesia Syamsi Ali  tampil bersama Rabbi New York  Marc Schneier  setelah membuat buku bersama yang meyingkap kesamaan asal usul dua agama ini, hingga diberi judul “Anak-anak ” dan diterbitkan oleh Mizan untuk edisi Indonesia.

Tim editor Mizan, Ahmad, mengatakan buku ini merepresentasikan sikap kedua agama yang seharusnya dijalani umat manusia saat ini.  Dia menuturkan, umat Islam sudah semestinya mencontoh pada teladan Rasulullah dalam memperlakukan Yahudi di masanya.

Ahmad mengatakan, buku ini dikemas dengan baik dan mengedepankan cara Islam  sebenarnya dalam memperlakukan  agama lain, tidak hanya Yahudi.

“Dalam buku ini baik Imam Syamsi maupun Rabbi Schneier sama sekali tidak saling menyalahkan atas konflik yang terjadi, bahkan mereka berani terbuka dan jujur untuk mengakhiri kesalahpahaman,” kata Ahmad.

Syamsi Ali yang sudah puluhan tahun di AS mengungkapkan usahanya agar pesan-pesan kedamaian Islam bisa diterima dengan baik semua kalangan.  Dia menuturkan awal mula perjumpaan dengan Rabbi Marc yang tidak mujur, karena saat itu sang Rabbi merupakan orang yang fanatik terhadap Muslim.

“Dulu saat bertemu dalam sebuah forum, Rabbi ini tidak mau melihat saya, bahkan dia berpikir saya bukan Muslim, karena menurut dia Muslim itu adalah Arab sebagaimana yang dia tahu dari media-media, dan Muslim menurutnya adalah  jahat, tapi setelah saya sering muncul di televisi barulah dia  tahu siapa saya dan menelepon saya untuk minta bertemu,” katanya mengisahkan.

Rabbi asal New York tersebut menimpali  penuturan Syamsi dengan mengatakan dirinya dulu merupakan orang yang  punya pandangan buruk terhadap umat Islam, karena menurutnya Islam adalah agama yang tidak suka kedamaian. dan suka peperangan sebagaimana dicitrakan media-media yang sering dibacanya.  Namun, tahun demi tahun pikirannya mulai terbuka dengan dunia Islam.

Pertemuan mereka berakhir pada banyak kegiatan bersama yang dilakukan sejak saat itu, termasuk upaya  bersama menolak pembakaran Sinagog yang sempat santer di AS  beberapa waktu lalu.

“Saat ada umat Muslim di hina, beliaulah yang aktif membela,” kata Syamsi menunjuk pada Marc.

Kedua tokoh agama  itu menjelaskan lebih jauh tujuan dibuatnya buku “Sons of Abraham” adalah untuk memberikan pemahaman berbeda dan lebih luas dari akar-akarnya agar umat beragama saling memahami kesamaan asal usul mereka, “bahwa kita adalah anak-anak (keturunan Nabi) Ibrahim,” kata Marc.(L/P007/R04)

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)

Wartawan: Septia Eka Putri

Editor:

Ikuti saluran WhatsApp Kantor Berita MINA untuk dapatkan berita terbaru seputar Palestina dan dunia Islam. Klik disini.

Comments: 0