Bupati Bojonegoro : Empat Ciri Pemimpin yang Baik

Jakarta, 10 Safar 1438/10 November 2016 (MINA) – Bupati Bojonegoro, Suyoto menjelaskan empat ciri utama pemimpin yang baik bagi masyarakat.

Hal itu disampaikannya saat diskusi bertemakan ‘Human Right City dan Upaya Perwujudannya di Indonesia’ yang diselenggarakan oleh Pusat Kajian Terorisme dan Konflik Sosial Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (UI) bersama International NGO Forum on Indonesian Development (INFID) di ruang Auditorium Gedung H F. Psikologi UI, Kamis (10/11).

“Ciri pertama adalah, ketika seorang pemimpin berbicara di hadapan publik, maka ia harus berbicara secara umum yang bisa dipahami semua kalangan. Jangan sampai memiliki sifat meninggikan kelompok satu dan merendahkan kelompok lainnya,” kata Kang Yoto, biasa ia disapa.

Ia kemudian bercerita bahwa dahulu, pada tahun pertama menjabat sebagai bupati, orang-orang Nahdhatul Ulama (NU) menganggap bahwa mereka akan tersisihkan karena saya berasal dari keluarga Muhammadiyyah. “Tapi ketika saya mejabat sebagai bupati, saya berpikir bagaimana menyatukan antara NU dan Muhammadiyyah yang merupakan dua kelompok besar di Indonesia ini agar tidak saling sikut,” ujar dia.

Bahkan, kata Kang Yoto, perseteruan dua kelompok ini lebih besar dan lebih hebat dari perseteruan antara umat Muslim dan umat Kristiani. “Namun pada akhirnya, kelompok di Bojonegoro menjadi kelompok yang homogen tapi plural, tidak seperti di Jogja yang plural tapi homogen,” tegas dia.

Menurut dia, pemimpin yang baik selain bisa berbuat adil juga bisa mengyomi semua warganya. Pemimpin harus memosisikan diri sebagai sopir bus umum membawa penumpang tanpa membeda-bedakan satu dengan yang lainnya.

“Ini ciri yang kedua,” kata dia.

Kang Yoto melanjutkan bahwa ciri ketiga, selain mengayomi, pemimpin juga harus pandai dalam melakukan pendekatan kultural, sehingga ia akan semakin dekat dengan rakyatnya. “Itulah cara saya bersosialisasi dengan masyarakat,” ujar dia.

Di akhir penyampaiannya, ia mengungkapkan ciri yang keempat. Menurut dia, pemimpin tidak cukup hanya membangun fasilitas umum untuk memenuhi kebutuhan rakyatnya, karena tidak semua orang mau dan bisa menggunakannya.

“Ada yang malu, ada yang tidak paham cara memakainya. Maka kita sebagai pengayom masyarakat harus menjemput bola, yaitu mendekati setiap personal masyarakat. Keterbukaan pemimpin terhadap warganya harus selalu ada, jangan sampai ada yang ditutupi, sehingga masyarakat tidak merasa dibohongi,” pungkas dia. (L/P011/P2)

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)