Cara Tidur Rasulullah Dalam Prespektif Sunnah dan Ilmiah (Oleh: Imaam Yakhsyallah Mansur)

(Istimewa)

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْم

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَهُوَ ٱلَّذِى جَعَلَ لَكُمُ ٱلَّيْلَ لِبَاسًا وَٱلنَّوْمَ سُبَاتًا وَجَعَلَ ٱلنَّهَارَ نُشُورًا (الفرقان [٢٥]: ٤٧)

“Dialah yang menjadikan untukmu malam (sebagai) pakaian, dan untuk istirahat, dan Dia menjadikan siang untuk bangun berusaha.” (QS Al-Furqan [25]: 47)

Imam Abdurrahman As-Sa’di Rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan, tidur merupakan salah satu bukti kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta’ala sekaligus sebagai bentuk curahan kasih sayang kepada makhluk-makhluk-Nya.

Dengan tidur, manusia akan beristirahat dari segala aktivitasnya. Setelah itu, akan akan merasa tenang, tubuhnya kembali bugar sehingga dapat melakukan aktifitasnya lagi di hari selanjutnya.

Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam memberi contoh cara tidur yang efektif kepada umatnya. Bagi beliau, tidur bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan fisik dan psikis saja, tetapi juga sebagai kesempatan untuk mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Dengan menjalankan tidur ala Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, seorang Muslim mendapatkan manfaat bagi fisik (jasmani), psikis (ketenangan batin) juga pahala yang berlimpah, serta ampunan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Berikut beberapa cara tidur seperti yang dicontohkan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam:

  1. Tidur dalam Keadaan Suci (Memiliki Wudhu)

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam menganjurkan untuk tidur dalam keadaan berwudhu. Wudhu membawa keberkahan dan membersihkan jiwa. Dengan tidur dalam keadaan berwudhu, seorang Muslim memastikan kebersihan fisik dan spiritualnya sehingga sudah siap jika meninggal dunia dlaam tidurnya.

Hal ini berdasarkan hadits dari Al Baro’ bin ‘Azib, Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda,

إِذَا أَتَيْتَ مَضْجَعَكَ فَتَوَضَّأْ وُضُوءَكَ لِلصَّلاَةِ ، ثُمَّ اضْطَجِعْ عَلَى شِقِّكَ الأَيْمَنِ (رواه البخارى ومسلم)

“Jika kamu mendatangi tempat tidurmu maka wudhulah seperti wudhu untuk shalat, lalu berbaringlah pada sisi kanan badanmu.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

  1. Tidur Berbaring pada Sisi Kanan

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam tidur dengan berbaring pada sisi kanan. Hal itu memiliki makna mendalam, yaitu beliau mengajarkan untuk memulai dan mengakhiri setiap aktivitas dengan menggunakan sisi kanan, termasuk saat beristirahat.

Hal itu mencerminkan kepatuhan terhadap ajaran agama dan membawa keberkahan dalam setiap langkah kehidupan.

Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda,

ثُمَّ اضْطَّجِعْ على شِقِّكَ الأَيْمَنِ (رواه البخارى ومسلم)

“Lalu berbaringlah di atas rusuk sebelah kananmu.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Adapun manfaat tidur pada sisi kanan, sebagaimana disebutkan oleh Ibnul Qayyim dalam kitab Zaadul Ma’ad, “Tidur berbaring pada sisi kanan dianjurkan dalam Islam agar seseorang tidak kesusahan untuk bangun shalat malam. Tidur pada sisi kanan lebih bermanfaat pada jantung. Sedangkan tidur pada sisi kiri berguna bagi badan (namun membuat seseorang semakin malas).

Dalam sebuah jurnal kesehatan yang terbit di The Journal of American College of Cardiology dan New York Times 21 Februari 2011, para pakar kesehatan mengungkap, tidur posisi miring ke kanan lebih aman daripada miring ke kiri.

Hal tersebut bisa mengurangi risiko kegagalan fungsi jantung. Sebab, saat posisi tubuh miring ke kanan, membuat jantung yang berada di bagian kiri tidak tertindih oleh organ lain.

  1. Meniup Kedua Telapak Tangan, Membaca Surah Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Naas, Kemudian Mengusapkannya ke Seluruh Tubuh

Sebelum tidur, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam meniup kedua telapak tangan, kemudianmembaca surah Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Naas. Hal itu selain mendatangkan ketenangan pikiran, juga menjadi perlindungan dari gangguan makhluk ghaib.

Setelah membaca ketiga surah di atas, beliau mengusapkan kedua telapak tangan tersebut ke wajah dan bagian tubuh yang dapat dijangkau. Hal ini dilakukan sebanyak tiga kali. Hal itu sebagaimana dikatakan oleh Ibunda Aisyah Rahiallahu anha. Beliau berkata:

كَانَ إِذَا أَوَى إِلَى فِرَاشِهِ كُلَّ لَيْلَةٍ جَمَعَ كَفَّيْهِ ثُمَّ نَفَثَ فِيهِمَا فَقَرَأَ فِيهِمَا ( قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ ) وَ ( قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ ) وَ ( قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ ) ثُمَّ يَمْسَحُ بِهِمَا مَا اسْتَطَاعَ مِنْ جَسَدِهِ يَبْدَأُ بِهِمَا عَلَى رَأْسِهِ وَوَجْهِهِ وَمَا أَقْبَلَ مِنْ جَسَدِهِ يَفْعَلُ ذَلِكَ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ (رواه البخارى)

“Nabi Shallallahu ’alaihi Wasallam ketika berada di tempat tidur di setiap malam, beliau mengumpulkan kedua telapak tangannya lalu kedua telapak tangan tersebut ditiup dan dibacakan ’Qul huwallahu ahad’ (surat Al Ikhlash), ’Qul a’udzu birobbil falaq’ (surat Al Falaq) dan ’Qul a’udzu birobbin naas’ (surat An Naas). Kemudian beliau mengusapkan kedua telapak tangan tadi pada anggota tubuh yang mampu dijangkau dimulai dari kepala, wajah, dan tubuh bagian depan. Beliau melakukan yang demikian sebanyak tiga kali.” (HR. Al-Bukhari).

  1. Membaca Ayat Kursi Sebelum Tidur

Ayat Kursi (Surah Al-Baqarah, 2:255) memiliki keistimewaan besar. Rasulullah Shallallahu ’alaihi Wasallam mengajarkan untuk membacanya sebelum tidur. Ayat Kursi menjadi perisai dan perlindungan dari berbagai ancaman ketika seseorang dalam keadaan tidur.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu berkata,

وَكَّلَنِى رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – بِحِفْظِ زَكَاةِ رَمَضَانَ ، فَأَتَانِى آتٍ ، فَجَعَلَ يَحْثُو مِنَ الطَّعَامِ ، فَأَخَذْتُهُ فَقُلْتُ لأَرْفَعَنَّكَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – . فَذَكَرَ الْحَدِيثَ فَقَالَ إِذَا أَوَيْتَ إِلَى فِرَاشِكَ فَاقْرَأْ آيَةَ الْكُرْسِىِّ لَنْ يَزَالَ عَلَيْكَ مِنَ اللَّهِ حَافِظٌ ، وَلاَ يَقْرَبُكَ شَيْطَانٌ حَتَّى تُصْبِحَ . فَقَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – « صَدَقَكَ وَهْوَ كَذُوبٌ ، ذَاكَ شَيْطَانٌ »(رواه البخارى)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menugaskan aku menjaga harta zakat Ramadhan kemudian ada orang yang datang mencuri makanan namun aku merebutnya kembali, lalu aku katakan, “Aku pasti akan mengadukan kamu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam“. Lalu Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu menceritakan suatu hadits berkenaan masalah ini. Selanjutnya orang yang datang kepadanya tadi berkata, “Jika kamu hendak berbaring di atas tempat tidurmu, bacalah ayat Al Kursi karena dengannya kamu selalu dijaga oleh Allah Ta’ala dan syetan tidak akan dapat mendekatimu sampai pagi“. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Benar apa yang dikatakannya padahal dia itu pendusta. Dia itu syetan“. (HR. Al-Bukhari)

  1. Membaca Doa Sebelum Tidur

Rasulullah Shallallahu ’alaihi Wasallam selalu membaca doa sebelum tidur, memohon perlindungan dan rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Membiasakan diri dengan membaca doa sebelum tidur adalah ekspresi tawakkal (berserah diri) kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam setiap aktivitas.

Dari Hudzaifah bin Al-Yaman Radhiallahu anhu, ia berkata,

كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – إِذَا أَرَادَ أَنْ يَنَامَ قَالَ « بِاسْمِكَ اللَّهُمَّ أَمُوتُ وَأَحْيَا » . وَإِذَا اسْتَيْقَظَ مِنْ مَنَامِهِ قَالَ « الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا ، وَإِلَيْهِ النُّشُورُ »(رواه البخارى)

“Apabila Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam hendak tidur, beliau mengucapkan: ‘Bismika allahumma amuutu wa ahya (Dengan nama-Mu, Ya Allah aku mati dan aku hidup).’ Dan apabila bangun tidur, beliau mengucapkan: “Alhamdulillahilladzii ahyaana ba’da maa amatana wailaihi nusyur (Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah mematikan kami, dan kepada-Nya lah tempat kembali).” (HR. Al-Bukhari)

Doa tersebut mencakup permohonan ampunan, keselamatan, dan petunjuk-Nya.

  1. Tidak Begadang

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam menekankan pentingnya tidur pada waktu yang tepat. Beliau menghindari begadang kecuali dalam situasi darurat yang mendesak. Tidur pada waktu yang ditentukan membantu menjaga kesehatan tubuh dan memberikan waktu yang cukup untuk beribadah.

Diriwayatkan dari Abi Barzah Radhiallahu anhu, beliau berkata,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يَكْرَهُ النَّوْمَ قَبْلَ الْعِشَاءِ وَالْحَدِيثَ بَعْدَهَا(رواه البخارى)

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam membenci tidur sebelum shalat ‘Isya dan ngobrol-ngobrol setelahnya.” (HR. Al-Bukhari)

Ibnu Baththol menjelaskan, “Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam tidak suka begadang setelah shalat ‘Isya karena beliau sangat ingin melaksanakan shalat malam dan khawatir jika sampai luput dari shalat shubuh berjama’ah.”

Sementara itu, Umar bin Al Khattab sampai-sampai pernah memukul orang yang begadang setelah shalat Isya. Beliau mengatakan, “Apakah kalian sekarang begadang di awal malam, nanti di akhir malam tertidur lelap?!” (Syarh Al Bukhari, Ibnu Baththol, 3/278, Asy Syamilah)

Dengan mengikuti sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam dalam pola tidur, kita dapat merasakan keberkahan dan kehadiran Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam setiap aspek kehidupan sehari-hari.

  1. Tidur Siang (Qailulah)

Sunnah tidur siang menjadi hal yang dipraktikkan langsung oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam dan menjadi anjuran bagi umat Islam. Tidur siang dalam bahasa Arab juga disebut dengan qailulah.

Mengutip buku Al-Minah Al-‘Aliyah fii Bayani As-Sunan Al-Yaumiyah karya Syaikh Abdullah bin Hamoud Al Furaih, sebuah hadits riwayat Ath-Thabrani dalam ‘Al Awsath’ dari hadits Anas Radhiallahu anhu:

قَيْلُوا فَإِنَّ الشَّيَاطِيْنَ لاَ تَقِيلُ (رواه ابو نعيم)

“Istirahat sianglah (qailulah), sesungguhnya setan-setan tidak melakukan qailulah.” (HR Abu Nu’aim).

Para ahli fiqih berbeda pendapat dalam menentukan waktu tidur siang yang dimaksudkan dalam hadits di atas. Sebagian mengatakan waktunya adalah sebelum waktu zuhur dan ada yang berpendapat setelah waktu zuhur.

Tidur siang ini dilakukan dengan lama durasi waktu antara 10 sampai 20 menit. Walaupun singkat, namun dapat memberikan efek yang baik bagi tubuh.

Berikut ini adalah manfaat tidur siang sebagaimana diungkap para pakar kesehatan:

  1. Tidur siang dapat memberikan manfaat seperti meningkatkan kewaspadaan, meningkatkan kinerja kognitif, dan memberikan relaksasi pada tubuh setelah lelah bekerja, dan dapat meningkatkan kinerja memori.
  2. Dalam sebuah penelitian, tidur siang dengan durasi yang pendek belum tentu kalah efek positifnya dari tidur siang yang lama. Menurut presentasi Brooks dan kawan-kawan, 10 menit adalah durasi paling efektif saat tidur siang.
  3. Bagi remaja, tidur siang sangat memperkuat memori deklaratif atau ingatan mengenai informasi faktual seperti halnya nama, wajah, tanggal, dan hal-hal bersifat fakta yang lain.
  4. Penelitian lain menyebutkan bahwa tidur siang 30 menit selama tiga kali dalam seminggu akan menurunkan risiko penyakit kardiovaskular sebesar 37%.
  5. Menurut penelitian juga, tidur siang yang sehat juga dilakukan antara pukul 13.00-15.00 dan tidak lebih dari 45 menit. Jika berlebih justru menyebabkan pusing saat bangun tidur.

Imam Al-Ghazali mengatakan dalam Kitab Bidayatul Hidayah, menurut pandangan Islam, tidur siang merupakan sebuah kompensasi atas ibadah yang akan dilakukan pada malam harinya.

“Jadi ketika kita tidur siang dengan niat qailullah, tak ubahnya kita mengambil jatah tidur nanti malam, karena pada malam hari nanti kita hendak berjaga untuk beribadah kepada Allah,” jelas Imam Ghazali.

وَاللَٰهُ ‌أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

(A/R2/P2)

Mi’raj News Agency (MINA)