Catatan 32 Tahun Intifada Palestina

Oleh: Ali Farkhan Tsani, Redaktur Senior Kantor Berita MINA, Duta Al-Quds

 

Gerakan Perlawanan Islam Hamas menegaskan dalam peringatan 32 tahun Intifadhah Sabtu 14 Desember 2019, bahwa Israel tidak akan pernah tenang di tanah jajahan, Palestina.

Dalam pernyataan pers tersebut, Hamas menekankan, perlawanan batu yang dilakukan rakyat Palestina sejak 14 Desember 1987 hingga saat ini masih berlangsung bahkan semakin maju dan masiv.

Puluhan tahun berlalu rakyat Palestina masih kokoh dan mampu memainkan bola perlawanan. Penjajah Zionis takkan diberikan ketenangan kestabilan di atas tanah Palestina.

Menurut sumber Palinfo, Hamas menegaskan, perlawanan dan perjuangan kemerdekaan adalah hak sah yang dijamin undang-undang, norma dan hukum internasional. Termasuk perlawanan bersenjata yang mewakili pilihan strategis bangsa Palestina dalam melindungi dan mengembalikan hak-hak nasionalnya.

Tidak ada kekuatan besar atau penindasan mana pun yang dapat merampas hak-hak yang dijamin secara internasional dari Palestina ini.

Pecahnya aksi perlawanan intifadah batu (Intifada of the Stones) merupakan pintu gerbang yang menginspirasi setiap konfrontasi melawan penjajahan, Zionis Israel.

Ia menyerukan upaya bersama dan penyatuan senjata dalam menghadapi Israel ditengah upaya untuk melikuidasi hak-hak bangsa Palestina.

Kini kelompok-kelompok perjuangan di Palestina sedang menekankan pentingnya persatuan rakyat dan pembangunan proyek nasionalnya sebagai prioritas gerakannya.

Sudah mulai mengkristal di kalangan gerakan perlawanan terhadap penjajah bahwa menghadapi Zionis dan proyek destruktif lainnya, hanya bisa dihadapi dengan koalisi semua faksi dan kekuatan rakyat baik secara politis, militer maupun diplomasi.

Gerakan Kembali

Tahun ini aksi protes bergelombang tiap hari Jumat menegaskan dukungan penuhnya terhadap aksi kepulangan akbar di Jalur Gaza khususnya dan seluruh wilayah Palestina pada umumnya. Biasa disebut The Grand March of Return.

Aksi pemulangan merupakan bentuk pemenuhan janji para aktivis terhadap para pejuang, para korban syahid, selain sebagai pemenuhan terhadap janji mereka terhadap tuntutan para revolusioner hingga tujuan mereka tercapai.

Gerakan perlawanan Islam Hamas juga menegaskan penolakannya terhadap semua bentuk dan pola normalisasi dengan Zionis yang berbahaya pada tatatan kehidupan berbangsa yang sangat sensitif, mencakup semua bidang dan aspek kehidupan politik, ekonomi, budaya, dan olahraga.

Normalisasi bertentangan dengan kehendak bangsa yang menolak menjalin hubungan dengan penjajah Zionis atau menerima kehadiran mereka di Palestina. Normalisasi juga dianggap sebagai pelanggaran terhadap sikap politik historis negara-negara tersebut yang menolak penjajahan dengan segala bentuk hubungan apapun serta undang-undang keberadaannya.

Awal Intifadah Batu

Gerakan Intifada Batu, dimulai pada tanggal 8 Desember 1987, ketika Taleb Abu Zaid dan tiga rekannya sesama warga Palestina meninggal. Sebuah truk pengangkut tank Israel menabrak dua mobil yang mereka tumpangi.

Akibat tabrakan itu, 10 orang lainnya juga luka-luka, termasuk Jawad Abu Zaid, saudara kandung Taleb. Peristiwa ini kemudian sangat dikenang dalam sejarah konflik Israel-Palestina.

Mohammad Abu Zaid, putra Taleb, tidak pernah melupakan peristiwa itu. Ketika keluarganya diberitahu soal kematian Taleb, orang-orang sudah tumpah ke jalan. Kerumunan massa memuncak saat pemakaman jenazah, jumlahnya mencapai 10 ribu orang.

Jenazah Taleb dimakamkan di Jabalya, kamp pengungsi Palestina terbesar di Gaza. Begitu juga tiga jenazah lain korban tabrakan itu. Tidak lagi sekadar seremoni melepas yang mati, pemakaman telah menjadi sebuah demonstrasi. Demonstran menyerang pos polisi kamp, sementara tentara Israel menembaki dan melemparkan gas air mata ke mereka. Demikian catatan Husein Abdulsalam pada laman Tirto.id.

Dalam sepuluh hari, demonstrasi menjalar ke Tepi Barat. Sedangkan pada 16 Desember 1987, para pedagang Palestina di Yerusalem bagian timur menutup toko mereka sebagai simbol pemogokan.

Dalam demonstrasi, baik orang dewasa maupun anak-anak memblokade jalan, membakar ban, serta, yang paling ikonik, melempari tentara dan penduduk Israel dengan batu dan bom molotov. Inilah Intifada Batu pertama perlawanan rakyat Palestina terhadap pendudukan Israel atas wilayahnya.

Menghadapi Intifada pertama, pasukan Israel menghadangnya dengan penindasan brutal dan sadis. Kekerasan ekstrem dari tentara Israel mengakibatkan lebih dari 1.200 kematian, termasuk 230 anak-anak, dan ribuan lainnya terluka.

Pimpinan Israel memerintahkan tentaranya untuk mematahkan tulang-tulang demonstran yang tidak bersenjata. Israel juga menjatuhkan hukuman kolektif pada penduduk Palestina, termasuk jam malam, penutupan sekolah-sekolah dan universitas-universitas Palestina, penghancuran rumah-rumah Palestina, tanah dan pepohonan, dan pemotongan pasokan air dan bahan bakar.

Israel menggunakan penangkapan massal dan kriminalisasi semua bentuk ekspresi politik, termasuk bendera Palestina, untuk berusaha menekan perlawanan.

Selama Intifada, Palestina memiliki tingkat penahanan tertinggi di dunia. Lebih dari 170.000 warga Palestina ditangkap, seringkali karena tindakan sekecil berpartisipasi dalam pawai atau membawa bendera Palestina, dengan penyiksaan yang secara rutin digunakan terhadap para tahanan.

Sekitar 20% warga Palestina di bawah pendudukan, termasuk 40% pria, telah melalui penjara-penjara Israel, dan memiliki catatan keamanan karenanya.

Israel saat ini menahan lebih dari 5.000 warga Palestina sebagai tahanan politik, termasuk 460 yang ditahan dalam penahanan administratif, yang melanggar hak-hak universal yang menjamin pengadilan yang adil bagi semua orang. Sistem penangkapan dan penahanan Israel bukan hanya tidak bermoral, tetapi juga ilegal.

Intifada Batu sempat terhenti setelah penandatanganan Kesepakatan Oslo Palestina-Israel pada September 1993 yang mengarah pada pembentukan Otoritas Palestina, dan yang memungkinkan ribuan Diaspora Palestina pulang ke rumah untuk pertama kalinya sejak mereka dipaksa keluar dari Palestina pada tahun 1948.

Namun, negosiasi Oslo 1993 gagal dilaksanakan oleh Israel sendiri. Maka secara tak terhindarkan, pada September 2000 bangkitlah Intifada Kedua, yang dikenal sebagai Intifada Bersenjata dan Bom (Intifada of the Gun and Bomb). Hingga kini, meluas menjadi Intifada di setiap tempat.

“Israel tidak memiliki hak untuk eksis dan perlawanan Palestina bukanlah terorisme,” begitu hasil rapat umum solidaritas Gaza pada 15 November 2019.

Palestina memiliki hak yang diberikan Allah untuk mengadakan perlawanan dan pertahanan diri, dan bahwa Israel tidak memiliki hak untuk ada. (A/RS2/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)