Catatan 39 Tahun Sabra Shatila : Darah Syuhada Tuntut Hak Kemerdekaan

Oleh : Ali Farkhan Tsani, Wartawan MINA (Mi’raj News Agency)

Sejarah tragis Sabra Shatila, 16 September 1982, peristiwa pembantaian berdarah oleh pendudukan Zionis Israel selalu diperingati warga Palestina untuk terus mengobarkan semangat perjuangan dan perlawanan terhadap penjajahan.

Sabra mengacu pada nama sebuah pemukiman miskin di pinggiran selatan Beirut Barat, Lebanon, bersebelahan dengan kawasan kamp pengungsi Shatila.

Shatila merupakan nama kawasan pengungsi yang dikelola oleh Badan PBB untuk Pengungsi Palestina UNRWA (The United Nations Relief and Works Agency for Palestine Refugees in the Near East ).

Pasukan tak berperikemanusiaan, penjajah Zionis Israel kala itu di bawah komando Menteri Pertahanan waktu itu, Ariel Sharon, membantai sekitar 3.500-8.000 warga sipil tak berdosa di Kamp Pengungsi Sabra-Shatila Beirut Barat, Lebanon.

Pembantaian berlangsung selama tiga hari berturut-turut, mulai tanggal 16 hingga 18 September 1982. Warga sipil terdiri dari anak-anak, bayi, wanita, dan orang tua dibantai dan dibunuh secara mengerikan.

Ribuan warga, bukan hanya mereka yang berkebangsaan Palestina. Namun juga ada yang warga Lebanon, Suriah, Iran, Bangladesh, Turki, Irak, Mesir, Aljazair, dan Pakistan ikut menjadi korban kebiadaban.

Si Tukang Jagal Ariel Sharon dan kepala stafnya, Rafael Etan, beserta pasukan bersenjata lengkap mengepung kamp pengungsi Sabra-Shatilla. Lalu bersama milisi Angkatan Lebanon Kristen di bawah komando Elie Hobeika menyerang, membunuh dan membantai ribuan pengungsi yang tidak bersalah dan tak bersenjata apapun di kawasan kamp pengungsian.

Wartawan Inggris Robert Fisk, yang mengunjungi kamp Shatila pada Sabtu pagi, 18 September 1982 kala itu, menggambarkannya sebagai “tindakan terorisme paling mengerikan dalam sejarah Timur Tengah modern.”

Sementara lainnya, Amnon Kapliuk menggambarkannya dalam penyelidikan sebagai “pembantaian paling kejam dan mengerikan sejak Perang Dunia II.”

Darah Syuhada

Pada peringatan Sabra dan Shatila tahun 2021 Gerakan Perlawanan Islam Hamas di Jalur Gaza memperingatkan, kejahatan pendudukan terhadap rakyat Palestina hanya bisa dihadapi dengan perlawanan.

Pernyataan Hamas seperti disebutkan Quds Press, Kamis (16/9), menekankan, warga dan pejuang Palestina hingga kini tidak akan pernah melupakan darah para syuhada Sabra Shatila.

“Kami akan terus mengejar para penjahat perang Zionis, tidak peduli apa, berapa lama, sampai kita membalasnya dan mendapatkan kembali hak-hak rakyat,” bunyi pernyataan.

Pembantaian Sabra dan Shatila menunjukkan bahwa pendudukan adalah musuh kriminal yang tidak percaya pada perdamaian, dan bahwa pendudukan hanya memahami bahasa kekerasan.

Hamas menegaskan, semua pembantaian yang dilakukan terhadap rakyat Palestina tidak akan mematahkan keinginan warga dan tidak akan menghalangi dari perjuangan perlawanan dan pembebasan hingga mencapoai tujuan mendirikan negara Palestina merdeka dengan Yerusalem sebagai ibukotanya.

Semangat syuhad Sabra Shatila tercermin dalam puisi Taufik Ismail, Palestina Bagaimana Bisa Aku Melupakanmu. Di antara bait-baitnya berbunyi :

Ketika pabrik tak bernama 1000 ton sepekan memproduksi dusta,
menebarkannya ke media cetak dan elektronika,
mengoyaki tenda-tenda pengungsi di padang pasir belantara,
membangkangit resolusi-resolusi majelis terhormat di dunia,
membantai di Shabra dan Shatila, mengintai Yasser Arafat dan semua pejuang negeri anda,
aku pun berseru pada khatib dan imam shalat Jum’at sedunia:
doakan kolektif dengan kuat seluruh dan setiap pejuang yang menapak jalanNya,
yang ditembaki dan kini dalam penjara,
lalu dengan kukuh kita bacalah ‘laquwwatta illa billah!’

Palestina, bagaimana bisa aku melupakanmu.

Semangat Sabra Shatila

Ya, Sabra Shatila telah menjadi hari ketabahan luar biasa bagi bangsa Palestina hingga kini. Sama seperti ketabahan warga di Jalur Gaza saat serangan Zionis Israel berkali-kali menggempurnya, tapi tak pernah memadamkan perjuangannya.

Juga ketabahan warga di kawasan Al-Quds yang tidak leluasa shalat di Masjid Al-Aqsha dan Masjid Ibrahimi, warga Hebron dan Nablus yang terus mengadakan perlawanan terhadap rencana aneksasi. Termasuk warga Sheikh Jarah dan Jenin yang pantang mundur meninggalkan tanah air sahnya.

Kini, perjuangan membebaskan diri dari penjara-penjara pendudukan yang terkenal ketat dan sadis. Pun sanggup dijebol oleh sendok penggali terowongan puluhan meter panjang lorongnya.

Tentu saja itu semua bukan hanya tanggung jawab internal Palestina semata, yang ditinggalkan sebagian negara-negara kaya tetangganya, yang justru menjalin normalisasi dengan pendudukan. Namun ini merupakan perjuangan seluruh kaum Muslimin serta manusia yang mencintai kemanusiaan, perdamaian dan kemerdekaan hak-hak asasi manusia.

Palestina tak perlu berkecil hati, mundur diri atau apalagi putus asa dalam perjuangannya. Sebab masih banyak kaum Muslimin dan warga dunia yang masih punya hati nurani dan jiwa kemanusiaan. Dan kebenaran pasti akan menang, perjuangan pasti akan meraih kemerdekaannya.

Sungguh, kesabaran (shabran) yang luar biasa, disertai perjuangan tiada henti, sesuai dengan namanya yang saat ini diperingati ‘shabran wa syatiilaa”, akan meraih kemenangannya. Aamiin. (A/RS2/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)