Catatan dari Gaza: Diari Tarneem Hammad (Bagian 1)

Tarneem Hammad bersama Beasty, kucing kesayangannya. (Foto: Tarneem Hammad/MEE)

Oleh: Tarneem Hammad, Instruktur Bahasa Inggris di Gaza, Palestina; penulis  di We Are Not Numbers

Ini adalah saat yang menakutkan lagi. Pada tanggal 7 Oktober 2023, Israel kembali mengumumkan perang terhadap Gaza, yang membuat seluruh wilayah terhenti dan memaksa penduduknya, yang tidak asing dengan serangan semacam itu, melakukan hal yang telah menjadi rutinitas untuk bertahan hidup.

Sebagian besar dari kami telah mengalami beberapa serangan militer, setidaknya lima agresi terjadi pada kurun periode Desember 2008-Januari 2009; November 2012; Juli 2014; Mei 2021; dan Agustus 2022. Namun, agresi terbaru dari rezim Zionis ini telah mengejutkan dan hampir menghancurkan kami.

Suaranya lebih keras, lebih ganas, dan sama sekali tidak terkendali. Kengerian yang kami alami selama enam bulan terakhir dan kami saksikan di bagian utara Gaza, khususnya, berada pada tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Sejak para pemimpin Israel mendeklarasikan kami sebagai “manusia hewan” dan mengobarkan perang terhadap seluruh kehidupan di Gaza, saya telah berjuang untuk menjaga kemanusiaan saya, bahkan kewarasan saya. Menulis buku diari ini adalah bagian dari upaya itu.

Baca Juga:  Israel Tangkap 20 Warga Palestina di Tepi Barat 

Ritual Perang

Saat itu adalah hari libur saya. Biasanya saya gunakan untuk mencuci pakaian. Namun, saya tersentak bangun karena suara gemuruh serangan rudal pada pagi hari Sabtu, 7 Oktober 2023.

Ibuku, yang mengira suara itu adalah badai yang tiba-tiba dan hebat, memasuki kamarku. Dia bermaksud mengambil cucian yang digantung di balkon agar tidak basah. Saya segera memintanya untuk menunda dan tidak membuka pintu balkon dulu.

Saat itu, kami mendengar keponakan kecilku, Mira, berteriak di luar. Dia bukan orang yang suka bangun pagi dan sering kali menolak pergi ke taman kanak-kanak dengan berteriak dan sedikit menangis. Namun kali ini, karena dicekam kecemasan dan kesusahan, kami bergegas keluar untuk mengambil Mira kecil.

Salah satu saudara laki-laki saya segera kembali dengan membawa kabar buruk. Sebuah rudal menghantam lingkungan kami, menewaskan seorang guru dan seorang gadis SMA dalam perjalanan menuju sekolahnya. Pada saat itu, kenyataan pahit muncul: perang kembali melanda Gaza.

Saya menolak untuk percaya bahwa itu adalah perang. Saya sangat berharap ini bukan perang.

Baca Juga:  Pesawat Tanpa Awak Zionis Israel Kembali Serang Rafah

Dalam beberapa hari pertama, bangun tidur terasa sangat menyakitkan. Saya akan baik-baik saja selama milidetik itu, dan kemudian hal itu akan menimpa saya seperti satu ton batu bata: “Saya tidak terbangun dari mimpi buruk, tapi saya terbangun dalam mimpi buruk. Dan saya masih belum mencuci pakaianku.”

Setelah beberapa hari, kami menyiapkan tas darurat kami, yang berisi barang-barang seperti paspor, tanda pengenal, dan dokumen penting lainnya, dan meletakkannya di dekat pintu. Itu adalah ritual yang lahir dari kebutuhan ketika awan gelap perang menggantung rendah di Gaza, sebuah ritual yang menyampaikan kebenaran tak terucapkan dan meresahkan bahwa melarikan diri dari kematian adalah satu-satunya pilihan kami.

Ritual perang lainnya adalah menjaga sebotol air tetap dalam jangkauan saat tidur, yang memberikan penyelamat jika seseorang terjebak di bawah reruntuhan selama berhari-hari.

Kamar-kamar juga dipilih dengan pertimbangan yang cermat, mungkin di tengah rumah atau di dekat sudut, area yang akan lebih melindungi kami dari pengeboman yang tiada henti.

Tidur berdampingan menjadi ritual lain, bukan hanya karena keluarga merasa nyaman dengan kehadiran satu sama lain, tetapi juga karena pemahaman yang suram, meski pragmatis, bahwa di kamar bersama, para penyintas dapat diselamatkan lebih cepat jika semua orang berada di tempat yang sama.

Baca Juga:  70 Persen Fasilitas Umum di Rafah Hancur Imbas Agresi Zionis

Hal yang lebih tragis lagi adalah keinginan yang umum diungkapkan di antara keluarga-keluarga yang berkumpul untuk hidup atau mati bersama, sehingga para penyintas tidak perlu berduka atas orang yang mereka cintai.

Saya sering berharap kami punya tempat perlindungan bom, tapi kami tidak pernah bisa membangunnya. Blokade ilegal Israel selama 17 tahun melarang jenis semen yang digunakan untuk pembangunan bunker tersebut memasuki Jalur Gaza. Tidak ada tempat yang aman bagi warga Palestina di Gaza: “Anda akan dibom atau menunggu untuk dibom.”

Seiring berlalunya waktu, seluruh keluarga dan garis keturunan dihapuskan dari catatan sipil. Kami mengembangkan ritual baru dengan memasukkan catatan tulisan tangan ke dalam tas darurat kami, menyebutkan nama kerabat yang harus diberikan tas tersebut jika, amit-amit, tidak ada di antara kami yang selamat.

Bersambung ke Bagian 2. (AT/RI-1/R1)

 

Sumber: Middle East Eye (MEE)

 

Mi’raj News Agency (MINA)

 

Wartawan: Rudi Hendrik

Editor: Rana Setiawan