Catatan Perjalanan Jamaah Haji dari KBIH Al Fatah

Oleh: Amir Perjalanan Haji 1443 H KBIH Al Fatah, Hayatdin

Menunaikan ibadah haji adalah impian setiap ummat Islam. Namun kondisi dan situasi seringkali menjadi kendala. Sangatlah bersyukur jika ada yang bisa menunaikannya. Perjalanan haji ini tentu saja memerlukan kesiapan materi dan fisik karena memang ibadah ini dilakukan harus dengan dukungan keduanya.

Untuk itu, dalam rangka tahadduts bin ni’mah, saya akan berbagi pengalamam saat menjalankan ibadah haji tahun ini bersama jamaah haji lainnya dari Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH) Al Fatah.

Sejak mulai keberangkatan dari tanah air, hingga selesai melakukan prosesi ibadah haji yaitu dari tanggal 8-13 Dzulhijjah.

Biasanya jamaah haji Indonesia akan berangkat dengan dibagi beberapa gelombang. Gelombang pertama berangkat menuju Madinah. Tinggal di Madinah selama 9 – 10 hari dengan aktifitas melaksanakan arbain, yaitu sholat wajib lima waktu selama delapan hari.

Para jamaah mendapatkan kesempatan beribadah sebanyak mungkin di masjid Nabawi. Di sela-sela kegiatan ibadah yang wajib para jamaah bisa berziarah ke makam Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasslam setiap saat tanpa dibatasi.

Para jamaah pun bisa ke Raudhah, yang memiliki arti taman surga. Umat Islam meyakini bahwa berdoa di sana pasti akan dikabulkan. Namun untuk masuk ketempat ini, diperlukan izin dan antre serta hanya diperbolehkan pada waktu tertentu. Jika bisa masuk dan shalat fardhu di dalamnya tentu sangat beruntung.

Kemudian para jamaah bisa juga berziarah ke berbagai tempat yang bersejarah lainnya di masa-masa awal Islam, serta tempat di mana Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wassalam pernah melakukan aktifitas dakwah lainnya. Tentu dalam waktu 8-9 hari di Madinah tidak cukup untuk mengunjugi seluruh kota Madinah Al Munawarah.

Selanjutnya para jamaah bergerak ke Makkah untuk bersiap melaksakanakan serangkaian ibadah haji. Perjalanan Makkah-Madinah atau Madinah-Makkah ditempuh 6-8 jam sejauh 420 km. Sepanjang perjalanan kita akan merasakan bagaimana sulitnya Nabi Muhammad hijrah dengan berjalan kaki di tengah gurun, gunung-gunung tandus yang berbatu, gersang dan panas.

Setiba di Makkah jamaah melakukan serangkain ibadah yaitu umrah wajib dan shalat wajib lima waktu, hingga menunggu tiba waktu untuk melaksanakan ibadah haji.

Tanggal 8 Dzulhijjah selepas shalat shubuh di Masjidil Haram adalah awal keberangkatan jamaah menuju Mina dengan berjalan kaki sejauh 6 km yang ditempuh selama 2 jam. Di Mina para jamaah menginap semalam. Selain melaksanakan shalat wajib lima waktu dengan qashar di Mina jamaah haji juga mempersiapkan fisik dengan beristirahat cukup untuk perjalanan  selanjutnya.

Sehabis shalat subuh menunggu waktu duha, para jamaah bergerak dengan berjalan kaki ke Arafah  sejauh 14 km yang ditempuh selama 6 jam. Wukuf. Tiba di Masjid Namirah di Arafah, para jamaah menunggu untuk mendengarkan khutbah Arafah dan sholat jama’ qashar dzuhur dan ashar. Di masjid ini kita bisa berdzikir, berdoa dan beristirahat hingga matahari tenggelam, selanjutnya  bergerak dengan berjalan kaki ke Mudzalifah sejauh 4 km selama 4 jam dengan suasana  malam.

Di Mudzalifah, para jamaah bermalam dan memungut sebanyak 71 krikil untuk nafar syani atau 28 untuk nafar awal. Jika berniat nafar syani jamaah kembali lagi ke Mina dengan berjalan kaki atau berkedaraan sebelum waktu dzuhur dan menginap sampai tanggal 13 dzuhijjah. Kemudian kembali ke Makkah.

Namun sebelum ke Makkah jika sempat mampir ke Masjid Khaif. Ini adalah Masjid yang pernah dijadikan tempat shalat oleh 70 Nabi.

Selepas subuh kemudian para jamaah berjalan kaki ke Jamarat sejauh 4 km yang ditempuh selama 4 jam untuk melempar jumrah aqabah. Setelah Jumrah Aqabah dilanjut menuju Makkah untuk tawaf ifadah juga tawaf tamattu serta bertahalul.

Maka selesailah rangkaian haji dengan menapaktilasi hajinya Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam. (A/R7/P1)

 

Mi’raj News Agency (MINA)