Ceramah di Brebes, UAS Berpesan agar Santri Miliki Akhlak dan Wawasan Luas

Brebes, MINA – Ustadz Dr Abdul Somad Lc MA berceramah di Pondok Pesantren Al Hikmah 1 Benda Kecamatan Sirampog Kabupaten Brebes, Jumat (15/7).

Penceramah yang akrab disapa UAS itu menekankan agar santriwan memiliki akhlak dan wawasan yang luas.

Dalam ceramahnya Abdul Somad berdiri di depan ratusan santriwan dan santriwati yang setia mendengarkannya. Ia sendiri diminta berceramah dalam acara Pengajian dalam rangka Haflatul Kubro tahun ajaran baru 2022/2023 pesantren Al Hikmah 1.

“Jangan merasa dimasukkan pesantren itu dibuang atau seperti anak angkat. Tapi tanamkan dalam pikiran kalian, menjadi santri adalah kebanggaan selama menjaga akhlak dan membuka wawasan,” katanya.

Menurutnya, ilmu di pesantren itu dapat menuntun kesuksesan dunia akherat. Belajar di pesantren dapat membedakan segala sesuatu mana kebaikan dan kebenaran.

“Pesan saya, gantungkan cita-citamu setinggi langit tapi tetap berpijak di bumi. Kalian gapailah cita-citamu menjadi Polri, TNI, pejabat sambil berdakwah. Karena dakwah adalah kewajiban semua muslim tanpa pandang jabatan,” ujar ustadz asal Sumatera Utara ini.

Ia pun berpesan agar para santri menjaga hubungan baik dengan Allah dan orangtua. Tidak hanya orangtua kandung, tetapi juga para orangtua di dalam pesantren yang mengajarkan ilmu agama.

“Bahagiakan orangtuamu dengan lulus dari pesantren. Mereka tidak minta perhiasan, rumah harta dunia mereka hanya minta kau mendoakan mereka kelak. Muliakan juga orangtua di pesantrenmu juga yaitu para kiai di sini mengajarkan pandai baca kitab,” terangnya.

Sebagai alumni pesantren, UAS juga menghibur dan membesarkan hati para santri, bahwa dengan masuk di pesantren, akan menemukan nilai hidup untuk berbagi dan mengenal karakter saudara luar daerah.

“Hikmahnya hidup di pesantren itu menumbuhkan mendidik saling berbagi.
Kalian nanti akan mengenal segala kebiasaan teman luar daerah. Dari bahasa dan tutur kata yang baru akan kaget, tapi padahal maksudnya baik. Di pesantren juga jangan kaget hidup berbagi makanan, tempat tidur bersama teman,” jelasnya.

UAS sempat curhat kondisi dirinya saat menyantri di Mesir dan Maroko. Bagaimana ia memiliki teman asal Madagaskar dan negara Afrika lainnya.

“Saya pernah satu pesantren dengan orang Madagaskar. Awalnya canggung, tapi setelah dia tau saya dari Indonesia barulah kami akrab. Karena ternyata sejarahnya ada sebagian Madagaskar keturunan orang Jawa,” pungkasnya. (L/B04/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)