CERITA KUBURAN MASSAL ROHINGYA HINGGA PERDAGANGAN MANUSIA

Beberapa mayat etnis Rohingya Muslim telah dikantongi untuk dievakuasi ke rumah sakit provinsi Songkhla, Jumat 1 Mei 2015. (Foto: dok. Phuketwan.com)
Beberapa mayat etnis Rohingya Muslim telah dikantongi untuk dievakuasi ke rumah sakit provinsi Songkhla, Jumat 1 Mei 2015. (Foto: dok. Phuketwan.com)

Oleh: Rudi Hendrik, jurnalis Mi’raj Islamic News Agency (MINA)

Penemuan 26 mayat Muslim Rohingya dari 32 kuburan yang digali di sebuah kamp perdagangan manusia di distrik Sadao, provinsi Songkhlai, Thailand Selatan, adalah “puncak gunung es”.

Chris Lewa, Direktur Arakan Project, sebuah LSM yang bekerja mengamati nasib etnis Rohingya di Myanmar selama lebih dari satu dekade, berkeyakinan kuat akan hal itu.

“Jika mereka mencari di kawasan hutan sepanjang perbatasan Malaysia, mereka akan menemukan ratusan mayat,” kata Lewa yang sudah lama mengamati penderitaan Muslim Rohingya.

Jumat, 1 Mei 2015, ratusan tentara, polisi dan tim penyelamat bergerak ke lokasi kamp atas dasar laporan warga yang menemukan kuburan massal, di mana kamp telah ditinggal pergi oleh kelompok pedagang manusia sejak sepekan sebelumnya.

Lewa mengungkapkan, di kamp ada tawanan hingga 1.000 orang, sebagian besar Muslim Rohingya. “Beberapa kamp bahkan ada yang lebih besar,” katanya.

Lewa mengungkapkan, dirinya telah melihat gambar penampungan yang terletak 300 meter utara dari perbatasan dengan Malaysia.

“Kami melihat jajaran panjang gubuk bambu dengan selembar terpal sebagai atap. Sekitar 100 orang dapat ditempatkan di setiap gubuk. Tahun lalu, beberapa orang yang saya wawancarai mengatakan kepada saya, mereka ditahan bersama 1.500 orang lainnya,” ujarnya.

Bersama dengan ditemukannya kuburan massal itu, juga ditemukan seorang yang masih hidup. Korban hidup yang ditemukan hari Jumat itu bernama Anuzar, warga Bangladesh 28 tahun.

Dia ditinggalkan di atas tanah dalam kondisi kurus kelaparan dan menggigil. Di dekatnya tergeletak dua mayat. Dia ditinggalkan untuk mati kelaparan.

Anuzar dibawa ke rumah sakit setempat, di mana ia diwawancarai oleh wartawan media Phuketwan , sebuah situs berita Thailand Selatan yang fokus pada nasib warga Rohingya.

Ribuan warga Rohingya dikirim ke pantai Thailand dalam upaya keluar dari kemiskinan dan penganiayaan di Myanmar.

Anuzar bercerita dari ranjang rumah sakit, ia telah diculik di Cox Bazar, sebuah kota pantai di selatan Bangladesh, dan ia dipaksa naik ke perahu bersama warga Bangladesh lainnya dan beberapa etnis Rohingya.

Kamp pedagang manusia yang sebelumnya menawan ribuan tawanan migran Muslim Roingya, Bangladesh dan Malaysia, Jumat 1 Mei 2015. (Foto: dok. ndphr.net)
Kamp pedagang manusia yang sebelumnya menawan ribuan tawanan migran Muslim Rohingya, Bangladesh dan Malaysia, Jumat 1 Mei 2015. (Foto: dok. ndphr.net)

Ia kemudian dikirim ke kamp di Thailand Selatan, di mana para penyelundup manusia menyuruhnya untuk menghubungi keluarganya dan memberitahu mereka untuk membayar uang tebusan bagi pembebasannya.

“Saya tidak pernah bisa menghubungi mereka dan meminta mereka untuk membayar,” katanya kepada Phuketwan.

“Kami adalah orang-orang yang tidak bisa membayar uang tebusan sehingga mereka membuat kami (seperti ini) dan benar-benar tidak peduli apakah kami hidup atau mati.” katanya pula.

Dia menambahkan, sekarang ia telah diselamatkan, perhatian utamanya adalah supaya ibu dan kakaknya tahu dirinya masih hidup.

Anuzar mengatakan, ia ditahan di kamp yang terkadang terdapat lebih 1.000 orang selama sembilan bulan.

“Sebagian besar dari kita dipukuli atau disiksa,” tambahnya. “Di kamp, ​​kami tidak pernah bisa mendapatkan cukup makanan atau air. Mandi jarang terjadi.”

Ia mengatakan, ia yakin, setidaknya ada 30 orang Rohingya dimakamkan di kuburan dangkal yang mengelilingi kamp, ​​bersama 10 warga Bangladesh.

“Saya tahu (setidaknya) tiga Bangladesh – Usaman, Belawa dan Sahid – di antara mereka,” ungkapnya.

Anuzar mengatakan, delapan broker yang menguasai segala sesuatu di kamp melarikan diri bersama migran yang masih hidup, beberapa hari sebelum penggerebekan Jumat.

“Ada orang Rohingya, beberapa warga Malaysia,” katanya.

Phuketwan mengatakan, di saat wawancara, seorang polisi penjaga berdiri dengan penuh perhatian di sisi Anuzar, menyadari bahwa kesaksiannya suatu hari nanti bisa digunakan untuk membawa para broker ke pengadilan.

Direktur Arakan Project mengatakan, penyelundupan orang Rohingya dan Bangladesh menuju Malaysia melalui Thailand Selatan merupakan proses yang kompleks dan terus berkembang.

“Kami telah menemukan kasus orang yang diculik, beberapa di Bangladesh dan beberapa di Arakan,” katanya kepada Anadolu Agency.

Arakan adalah wilayah di Myanmar bagian barat, di mana Muslim Rohingya dan Budha Rakhine tinggal.

Kekerasan meletus antara kedua komunitas pada Juni 2012, memaksa banyak Muslim Rohingya melarikan diri untuk selamat.

Tim penyelamat menggotong mayat yang ditemukan di kuburan massal Rohingya di kamp pedagang manusia di distrik Sadao, Provinsi Songkhlai, Thailand Selatan, Sabtu 2 Mei 2015. (Foto: dok. FreeMalaysiaToday.com)
Tim penyelamat menggotong mayat yang ditemukan di kuburan massal Rohingya di kamp pedagang manusia di distrik Sadao, Provinsi Songkhlai, Thailand Selatan, Sabtu 2 Mei 2015. (Foto: dok. FreeMalaysiaToday.com)

Mereka membayar penyelundup untuk mengangkut mereka dengan perahu reyot di Laut Andaman menuju Thailand dan Malaysia. Setibanya di sana, mereka berniat melanjutkan perjalanan ke luar – Australia, Eropa, kadang-kadang Turki – di mana mereka kemudian akan mengirim uang untuk keluarganya dengan harapan mereka bisa bersatu kembali di kemudian hari.

Sayangnya, para penyelundup menyadari peluang bisnis yang sedang berkembang dan bukan hanya puas dengan pengisian sejumlah besar uang untuk transportasi, mereka mulai menangkap para migran yang mereka angkut dan menahannya di kamp-kamp sampai uang tebusan dibayar.

Para penyelundup kemudian mulai memaksa para migran Bangladesh ke perahu, mengangkutnya ke lokasi yang bertentangan dengan keinginan mereka, dan menahan mereka untuk tebusan juga.

“Ketika mereka diculik, seringkali karena perekrut di Cox Bazar atau di tempat lain ingin mendapatkan uang dengan menempatkan mereka di laut,” kata Lewa.

“Penyelundupan dan perdagangan merupakan proses yang kompleks dengan banyak langkah. Kadang-kadang orang-orang akan melalui tangan orang ketiga yang berbeda, bahkan sebelum mereka mencapai titik mendarat.”

Tapi akhir-akhir ini, meningkatnya jumlah operasi oleh otoritas Thailand, mendorong geng perdagangan manusia untuk beradaptasi

Pemerintah Thailand berada di bawah tekanan Amerika Serikat dan Uni Eropa untuk aktif memerangi perdagangan manusia.

“Para pedagang sekarang menggunakan kamp lepas pantai di kapal,” kata Lewa.

“Seorang pemuda mengatakan kepada saya, ia telah ditahan selama 40 hari di perahu sekitar lima jam dari pantai (Thailand). Selama ini, ia mengatakan, ia melihat 34 orang dibuang ke laut setelah mereka meninggal.”

Lewa mengatakan, menurut informasi yang telah diterimanya, sekarang ada sangat sedikit kamp di Thailand dengan tidak lebih dari 800 orang di dalamnya.

Menurut data yang dikumpulkan oleh Arakan Project, sekitar 68.000 warga Rohingya dan Bangladesh telah meninggalkan negaranya dengan kapal yang dikendalikan oleh penyelundup sejak Oktober 2014.

Pada Ahad 3 Mei 2015, Phuketwan mengutip “sumber terpercaya” yang mengatakan, ada sebuah kamp perdagangan manusia kedua yang tidak jauh dari lokasi kamp yang digerebek pada Jumat.

“Mungkin ada lebih 50 kuburan di kamp kedua, ada kamp-kamp lain dengan jumlah lebih kecil dari mayat yang tersebar pemakamannya di dekat perbatasan,” kata sumber yang tidak ingin disebutkan namanya.

Menurut laporan Phuketwan, penduduk desa di Thailand Selatan yang mendapat keuntungan dari perdagangan manusia yang menghebohkan dunia tersebut, menutup mata untuk itu.

Menurut Lewa, banyak penduduk desa yang tinggal di sekitar kamp-kamp tampaknya tahu keberadaan para penyelundup.

Dia mengatakan, informasi itu telah diterima dari orang-orang yang sebelumnya telah ditahan di sana. (T/P001/R11)

Sumber: Anadolu Agency

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)

Comments: 0