Cerita Sedih Jenasah Korban Virus Corona di Ekuador

Warga Ekuador di kota Guayaquil menunggui peti mati kerabatnya diambil oleh petugas yang tidak kunjung datang, 5 April 2020. (Foto: Getty Images)

Patricia Marin Gines mengatakan bau busuk itu tak tertahankan.

“Saya tidak tahan memandangnya,” katanya pada bulan April, merujuk pada ayahnya yang berusia 86 tahun, yang mayatnya terbaring di lantai kamar tidurnya di rumah mereka selama lebih dari dua hari. Pihak berwenang belum datang dan mengambilnya.

Jenasah seperti ayah Marin Gines menumpuk ketika pandemi COVID-19 mengamuk di Guayaquil, kota terbesar di Ekuador, awal tahun ini. Ratusan keluarga terpaksa menyimpan mayat kerabat mereka di rumah atau di jalan selama berhari-hari sampai seseorang dari kota bisa mengambilnya.

Guayaquil adalah salah satu hot spot virus corona paling pertama di Amerika Latin.

Lebih dari 10.000 kematian dicatat di Guayas, provinsi tempat kota Guayaquil berada, selama bulan Maret dan April, menurut data pemerintah.

Para pejabat mengatakan, kematian ini hampir 6.000 lebih banyak daripada biasanya yang dicatat dalam keadaan normal.

Namun masih belum jelas, berapa banyak yang meninggal karena COVID-19, penyakit menular yang disebabkan oleh virus corona baru. Banyak orang lain diyakini telah meninggal karena mereka tidak dapat memperoleh perawatan yang tepat karena sistem kesehatan kota yang hancur.

Situasi di Guayaquil sejak saat itu sebagian besar sudah stabil, karantina ketatnya mereda, tetapi kota itu terus merasakan dampak virus yang bertahan lama.

Kota yang sedang berduka

Di puncak pandemi di sini, kota ini – yang dikenal karena suasananya yang ramai dan meriah – adalah kota yang sedang berkabung.

Di pintu masuk ke salah satu kuburan Guayaquil, orang-orang mati-matian mencari orang yang mereka cintai yang hilang. Beberapa orang sudah ada di sana selama berhari-hari.

Pemandangan serupa terlihat di luar rumah sakit kota.

“Ayah saya (65) meninggal 20 menit yang lalu. Dia memiliki gejala COVID (-19) tetapi tidak pernah diuji,” kata Jaime, seorang warga Guayaquil, kepada Al Jazeera pada bulan April ketika dia duduk bersama dua orang lain di luar rumah sakit Los Ceibos, salah satu kota di provinsi itu.

Seorang pria lain datang dengan ayahnya yang sudah mati di kursi belakang. Memiliki gejala virus corona, dia meninggal di jalan, kata sang putra.

Menteri Kesehatan Ekuador Juan Carlos Zevallos justru menyalahkan, setidaknya sebagian penduduk kota itu tidak mengikuti rekomendasi dari pemerintah.

Tuduhan Zevallos dikecam oleh banyak orang.

“Virus itu diimpor dari Eropa. Karena ini adalah waktu liburan, ada acara sosial dengan orang-orang tanpa gejala. Ini berarti virus itu menyebar dengan sangat cepat. Sayangnya, orang-orang ini tidak mendengarkan apa yang dikatakan pemerintah dan tidak mengisolasi diri mereka untuk 14 hari, sehingga mereka cepat menginfeksi banyak orang,” katanya kepada Al Jazeera pada saat puncak krisis di Guayaquil pada bulan April.

Pemerintah Ekuador mengumumkan kasus positif pertama COVID-19 pada 29 Februari, seorang wanita berusia 71 tahun yang tiba di Guayaquil dua pekan sebelumnya dari Madrid. Meskipun dia merasakan demam dan sakit tubuh selama penerbangan, dia tidak diperiksa oleh staf medis di bandara. Dia pergi ke Babahoyo – satu kota satu setengah jam jauhnya – dan dua hari kemudian dia pergi ke reuni keluarga. Wanita itu meninggal tanpa mengetahui dia terinfeksi. Segera setelah itu, saudara perempuannya dan kemudian saudara lelakinya juga meninggal.

Antara 1 hingga 14 Februari, menurut media Ekuador, sekitar 20.000 orang tiba di Ekuador dari Spanyol, Italia, dan Amerika Serikat. Ekuador tidak memperketat pembatasannya pada mereka yang tiba di negara itu sampai pertengahan Maret.

Namun Zevallos menegaskan, tindakan diambil tepat waktu. “Ekuador, bersama dengan El Salvador, adalah salah satu negara pertama di Amerika Latin yang menutup bandara. Kami bertindak tepat waktu, tetapi orang-orang tidak mematuhi pengumuman kami,” katanya.

Terlepas dari siapa atau apa yang harus disalahkan, pandemi telah mengungkap sistem perawatan kesehatan negara yang tidak siap, dan ketidaksetaraan yang mendalam yang ada di kota-kota seperti Guayaquil. Banyak dari mereka yang terkena dampak virus corona di sini berasal dari keluarga yang bekerja hingga kelas bawah, tidak mampu membayar atau mendapatkan perawatan di rumah sakit swasta di kota. Yang lain sekarang menganggur karena dampak yang dahsyat akibat pandemi terhadap ekonomi yang bergantung pada minyak.

Namun, bagi keluarga-keluarga seperti Marin Gines, kesedihan dan berhari-harinya jenasah ayahnya terbaring di lantai kamar, hampir terlalu berat untuk ditanggung.

“Dia ayah dan suami yang baik,” katanya tentang ayahnya.

“Dia diperlakukan seperti binatang dengan cara itu,” tambahnya. “Saya merasa bersalah karena ayahku tidak bisa dimakamkan dengan layak.” (AT/RI-1/P1)

Sumber: Al Jazeera

Mi’raj News Agency (MINA)