COVID-19 Menjegal Era Globalisasi (Oleh Rifa Berliana Arifin)

Oleh: Rifa Berliana Arifin, Kared Arab MINA

Merebaknya virus COVID-19 di seluruh belahan dunia menjadikannya menjadi the only issue yang saat ini menjadi sangat penting diperhatikan masyarakat internasional.

Bahkan ISIS sekalipun menghentikan pergerakannya dan memilih stay at home, para pengikutnya dilarang masuk Eropa untuk menghindari COVID-19. Sampai ISIS pun buat himbauan semacam itu, maka malu lah sedikit dengan ISIS kalau anda masih ngeyel dan menganggap remeh bahaya COVID-19 ini.

Bisa dikatakan bahwa COVID-19 adalah wabah pertama dalam sejarah umat manusia yang penyebarannya begitu cepat dan mengglobal. Pandemi sebelumnya seperti Flu Spanyol (1918-1919), Flu Asia (1957-1958), Flu Hong Kong (1968-1970) dan H1N1 (2009-2010) tidak menjangkit semua negara.

Begitu berbeda dengan COVID-19 yang saat ini yang setidaknya telah masuk ke 160 dari 193 negara PBB.

Dari 160 negara ini, Indonesia berada di urutan ke-13 negara dengan jumlah angka kematian akibat COVID-19. Maka jangan anggap situasi ini tidak serius dan merasa lega, karena secara presentase Indonesia berada di urutan paling atas.

Sekarang ini tinggal 33 negara yang dilaporkan belum terjangkit COVID-19. Dan negara-negara ini sebagian besarnya jarang terdengar masyarakat dan tampil dalam kancah global :  (1) Korea Utara, (2) Laos, (3) Myanmar, (4) Tajikistan, (5) Turkmenistan, (6) Suriah, (7) Yaman, (8) ) Libya, (9) Mali, (10) Guinea-Bissau, (11) Sierra Leone, (12) Sao Tome & Principe, (13) Botswana, (14) Lesotho, (15) Komoro, (16) Mozambik, (16) 17) Malawi, (18) Burundi, (19) Sudan Selatan, (20) Belize, (21) Saint Kitts & Nevis, (22) Dominika, (23) Grenada, (24) Kepulauan Solomon, (25) Vanuatu, ( 26) Palau, (27) Mikronesia, (28) Kepulauan Marshall, (29) Nauru, (30) Kiribati, (31) Tuvalu, (32) Samoa dan (33) Tonga.

Sebagian besar mereka adalah negara termiskin dan terpencil di dunia. Myanmar dan Laos adalah dua negara termiskin di Asia Tenggara (ASEAN) dan masuk dalam kategori PBB sebagai negara paling minus dalam pembangunan (least-developed countries/LDC).

Negara-negara seperti Kepulauan Solomon, Vanuatu, Palau, Mikronesia, Kepulauan Marshall, Nauru, Kiribati, Tuvalu, Samoa dan Tonga adalah negara-negara Samudra Pasifik yang sangat jarang sekali dikunjungi para wisatawan. Mungkin itu menjadi sebab mereka bersih dari COVID-19 karena tingkat interaksinya dengan warga asing sangat rendah.

Yang cukup mengejutkan adalah Suriah, Libya dan Yaman. Ketiganya belum melaporkan kasus COVID-19, terutama Libya negara yang begitu dekat dengan Italia. Bisa jadi ini adalah anugrah bagi mereka. Sulit sekali dibayangkan apabila COVID-19 mulai menjangkit negara ini dengan kondisi infrastruktur yang minim sarana kesehatan dan umum seperti rumah sakit dan jalan sebagian besar hancur dalam perang saudara yang telah berlangsung bertahun-tahun.

Alasan utama negara-negara ini tidak terjangkit COVID-19 adalah karena mereka belum terintegrasi dalam system ekonomi global alias belum tersentuh system globalisme yang menerapkan perdagangan internasional, minim investasi, tidak ada pembangunan, mungkin karena mereka adalah negara miskin.

Ciri paling sederhana melihat suatu negara telah mencapai globalisasi adalah dengan melihat adanya McD dan Starbucks di negara itu. Dari 33 negara di atas tadi, sebanyak 31 negara tidak memiliki McD (kecuali Libya dan Samoa) dan semuanya tidak memiliki Starbucks. Ajaib bukan.

Bukan berarti McD dan Starbucks adalah biang penyakitnya. Karena negara yang memiliki McD dan Starbucks adalah negara yang ramah dengan investasi asing, turis, ekspatriat. COVID-19 adalah pandemi yang menyebar dari manusia ke manusia. Jadi negara yang kurang rentan terhadap manusia terutama orang asing akan lebih aman.

Meskipun sitem globalisasi adalah salah satu sebab utama terwujudnya kesejahteraan dunia, akan tetapi dengannya virus COVID-19 menyebar dengan cepat. SARS yang muncul pada tahun 2002-2003 disebabkan oleh coronavirus dan bermula di Cina, tetapi efeknya tidak seburuk COVID-19. Karena saat itu Cina baru saja akan memulai, belum sepenuhnya berintegrasi ke dalam sistem ekonomi global.

Tetapi dengan kebangkitan ekonomi Cina dalam 10 tahun terakhir ini, Cina menjadi negara dengan jumlah wisatawan dan pengunjung asing tertinggi untuk urusan bisnis. Dengan penyebaran virus yang sangat cepat di Hubei dan Zhejiang, akhirnya virus dibawa kembali ke negara masing-masing, terutama Eropa (Italia dan Perancis).

Ditambah lagi bahwa Eropa memiliki sistem bebas masuk Schengen yang memudahkan warganya bergerak dari satu negara ke negara lainnya tanpa perlu passport/visa. Maka tentu begitu mudah COVID-19 menyebar dari satu negara ke negara lainnya.

Sementara negara non Uni Eropa melaporkan kasus COVID-19 relatif sedikit: Serbia, Montenegro, Bosnia, Albania, Kosovo, Makedonia Utara, Belarus, Ukraina, Moldova, dan Rusia. Mereka terlebih dahulu menutup akses masuk tanpa perlu mempertimbangkan kebijakan Schengen atau non Schengen.

Seandainya COVID-19 ini bermula dari salah satu negara di Afrika seperti Kongo atau Ruanda mungkin ceritanya akan berbeda, tidak akan rusuh dan segaduh seperti saat ini. Akan tetapi karena ini berasal dari Cina maka negara-negara yang terintegrasi dalam sistem global sepatutnya tidak bergembira, karena Cina yang saat ini sakit akan dirasakan dampaknya oleh negara-negara lainnya. Termasuk Indonesia.

Cina menduduki peringkat kedua di dunia dengan size ekonomi terbesar. Penurunan aktivitas ekonomi di China juga telah menyebabkan jatuhnya harga minyak dunia. Dunia harus bersiap untuk menghadapi gejolak ekonomi dalam waktu dekat jika situasinya belum berubah.

COVID-19 telah merubah tatanan globalisasi yang telah eksis selama 30 tahun, dunia akan melihat kembali kebijakan-kebijakan bebas visa, perdagangan bebas yang selama ini dianggap bagus dan efektif.

Apakah paska COVID-19 dunia akan tertutup atau globalisasi akan tetap bertahan dengan segala konsekuensinya? (A/RA-1/P1)

Miraj News Agency (MINA)