Cuitan Ayatollah Khamenei Lenyapkan Israel Tak Langgar Kebijakan Twitter

Teheran, MINA — Berbeda dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang sempat berselisih dengan Twitter, cuitan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Khamenei mengenai penghancuran Israel dianggap tidak melanggar kebijakan media sosial tersebut.

Pejabat kebijakan regional Twitter, Ylwa Pettersson sebagaimana dikutip Times of Israel, Jumat (31/7), menjelaskan bahwa cuitan Ayatollah Khamenei tidak melanggar peraturan. Sebab, cuitan tersebut dinilai sebagai “masalah kebijakan luar negeri”.

“Kami memiliki pendekatan terhadap para pemimpin yang mengatakan bahwa interaksi langsung dengan sesama tokoh publik, komentar tentang isu-isu politik saat itu, atau keributan kebijakan luar negeri pada masalah ekonomi-militer umumnya tidak melanggar aturan kami,” katanya.

Pettersson menanggapi pertanyaan dari aktivis pro-Israel Arsen Ostrovsky, yang bertanya mengapa Twitter memasang label khusus pada tweet Presiden AS Donald Trump yang mengatakan bahwa itu melanggar aturan perusahaan.

Sementara itu, banyak tweet dari pemimpin Iran tentang keinginannya menghancurkan Israel justru dianggap tidak melanggar kebijakan Twitter.

Pada 29 Mei, Twitter untuk pertama kalinya memasang label peringatan di cuitan Trump tentang kerusuhan saat aksi protes kematian George Floyd.

“Saya hanya ingin menyelaraskan pertanyaan [Ostrovsky]: menyebutkan genosida di Twitter tidak apa-apa, tetapi mengomentari situasi politik di negara-negara tertentu tidak oke?” tanya MK Michal Cotler-Wunsh, pimpinan pertemuan online tersebut.

“Jika seorang pemimpin dunia melanggar aturan kami, tetapi ada minat yang jelas untuk mempertahankannya, kami dapat menempatkannya di belakang pemberitahuan yang memberikan lebih banyak konteks tentang pelanggaran dan memungkinkan orang untuk mengklik jika mereka ingin melihat konten,” jawab Pettersson.

“Itulah yang terjadi pada tweet Trump, tweet itu melanggar kebijakan kami mengenai mendukung kekerasan berdasarkan konteks historis pada baris terakhir tweet tersebut dan risiko bahwa itu mungkin dapat menginspirasi kerusuhan dan tindakan serupa.” jelas Pettersson.

Tweet Trump 29 Mei berakhir dengan kata-kata: “Kesulitan apa pun dan kami akan mengambil kendali tetapi, ketika penjarahan dimulai, penembakan dimulai. Terima kasih!”

Selain label peringatan, Twitter juga menonaktifkan fitur “like” untuk postingan tersebut, tetapi memutuskan untuk tidak menghapus postingan tersebut.

Pettersson tidak berkomentar secara khusus tentang tweet yang menghasut yang dituliskan oleh pemimpin Iran.

Setelah pertemuan online tersebut, Cotler-Wunsh berkicau mengenai kebijakan Twitter yang seolah menerapkan standar ganda.

“Wow. Twitter baru saja mengakui bahwa tweet yang menyerukan genosida terhadap orang Yahudi oleh para pemimpin Iran tidak melanggar kebijakannya! Ini standar ganda. Ini antisemitisme.” tulis Cotler-Wunsh.

Ayatollah Khamenei berkicau di Twitter yang menyebutkan untuk melawan Israel dengan senjata namun tidak diberi tanda khusus oleh Twitter.

“Penghapusan rezim Zionis tidak berarti pembantaian Yahudi. Orang-orang Palestina harus mengadakan referendum. Sistem politik apa pun yang mereka pilih harus memerintah di seluruh Palestina. Satu-satunya obat pemecatan rezim Zionis adalah perlawanan bersenjata yang tegas.” tulisnya. (T/R2/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)