Jakarta, 6 Jumadil Akhir 1438/5 Maret 2017 (MINA) – Dai Jama’ah Muslimin (Hizbullah) Ust Ahmad Rifai menegaskan bahwa kehidupan berjamaah telah diamalkan kembali sejak tahun 1953.
Ust Ahmad menyampaikan hal itu di depan ratusan jamaah yang menghadiri pengajian bulanan Jama’ah Muslimin (Hizbullah) di Masjid Nurul Jannah di Kapuk Muara, Kec. Penjaringan, Jakarta Utara, Ahad (5/3).
“Kehidupan berjamaah telah diamalkan kembali sejak 1953 yang dipimpin oleh Wali Al Fattah,” katanya.
Namun, menurut dai asal Tanjung Priok tersebut, khilafah yang diamalkan oleh Jama’ah Muslimin adalah yang mengikuti jejak kenabian berdasarkan sebuah hadis yang diriwayatkan sahabat Nabi Muhammad, yaitu Hudzaifah bin Yaman. Sedangkan cirikhas perjuangan jamaah ini adalah nonpolitik (tidak berorientasi kekuasaan)
Baca Juga: Banjir Kota Jambi Rendam Sekolah dan Rumah Warga
Jama’ah Muslimin (Hizbullah) yang menganut sistem jama’ah imamah (bersatu di bawah satu kepemimpinan seorang imam) mengamalkan sistem kepemimpinan yang sudah ada di dalam Al-Quran dan hadis yang kuat dengan mencontoh kepemimpinan Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya.
Sejak diumumkan kembali kepemimpinan dengan satu imam untuk seluruh dunia, Jama’ah Muslimin (Hizbullah) sudah dipimpin oleh tiga imam, pertama Wali Al Fattah, kedua Muhyiddin Hamidy, dan ketiga Yakhsyallahu Mansur.
Sejak pertama ditetapinya Jamaah Muslimin (Hizbullah) hingga sekarang, komunitas ini selalu menyerukan persatuan umat di bawa satu pemimpin untuk seluruh dunia.
Pada tahun 2006, Jama’ah Muslimin mendeklarasikan Pembebasan Masjid Al-Aqsha, masjid suci ketiga umat Islam di Palestina yang kini dikuasai oleh otoritas Yahudi Israel. Berbagai upaya mereka lakukan dalam upaya perjuangan membela masjid yang pernah dibebaskan oleh Khalifah Umar bin Khaththab dan Salahuddin Ayyubi itu, dari sosialisasi dalam berbagai acara pengajian dan seminar di berbagai kota di Indonesia hingga mengadakan konferensi internasional tentang Masjid Al-Aqsha. (L/RI-1/P1)
Mi’raj Islamic News Agency (MINA)