Dakwah Cerdas Era Digital

Oleh: Bahron Ansori, Wartawan MINA

Memasuki era digital, seorang dai atau pendakwah dituntut untuk menyesuaikan diri dengan cepat. Suka tidak suka, ia dihadapkan pada kenyataan gegap gempitanya kemajuan teknologi. Selain berfikir cerdas sebagai tuntutan dalam menentukan strategi dan arah dakwah, dai juga harus melangkah cepat untuk turut serta dalam dakwah digital.

Dakwah secara konvensional tentu berbeda jauh dibanding dakwah di era digital dengan menggunakan fasilitas teknologi komunikasi. Namun demikian, kita tidak bisa menutup mata, jika dakwah era digital ini pasti mempunyai kelebihan dan kekurangan. Sebelum lebih jauh bicara tentang dakwah era digital. Sebaiknya kita memahami dulu apa itu definisi dakwah.

Dakwah, berasal dari kata Arab; دعوة‎, da‘wah, “ajakan”. Dengan kata lain, dakwah  adalah kegiatan menyeru, mengajak dan memanggil manusia untuk beriman dan taat kepada Allah sesuai dengan akidah, akhlak dan syariat Islam secara sadar dan terencana. Tujuan utama dari dakwah adalah mencapai kebahagiaan di dunia dan di akhirat.

Dalam perjalanannnya, perkembangan teknologi dan media turut mempengaruhi kegiatan dakwah. Dulu, dakwah dilakukan secara konvensional. Kini, berubah ke arah digital. Kegiatan dakwah mengalami evolusi dalam ruang publik. Dakwah sebagai proses penawaran ajaran spiritual muncul dalam bentuk yang beraneka ragam. Keanekaragaman kegiatan dakwah ini didorong adanya unsur lain yaitu media dakwah.

Dalam disiplin ilmu komunikasi, media dipahami sebagai saluran (channel) yang digunakan oleh para pelaku dakwah (komunikator) baik individu maupun kelompok untuk menghantarkan pesan (message) kepada masyarakat (komunikan).

Dalam kehidupan masyarakat global, aktivitas dakwah ini dapat ditemui di ruang-ruang virtual dan dibalik bilik kamar mereka. Akses seseorang untuk memperoleh informasi religius atau dakwah kian mudah, terlebih jika orang tersebut memiliki akses ke internet.

Pengguna Internet

Bicara tentang objek dakwah di era digital ini, artinya bicara tentang pengguna internet. Karena semua teknologi yang dipakai manusia di era ini tidak pernah lepas dari internet. Untuk menakar seberapa jauh sasaran dakwah seorang dai, maka yang harus menjadi pertimbangan pentingnya adalah seberapa besar pengguna internet di Indonesia?

Menurut Ketua Umum Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) Muhammad Arif, saat menjadi pembicara di Indonesia Digital Outlook 2022, di The Westin, Jakarta, Kamis (9/6/2022), mengatakan pengguna internet di Indonesia terus bertumbuh dari tahun ke tahun.

Ia mengatakan, kini kurang lebih 77 persen penduduk Indonesia sudah menggunakan internet. Fantastis bukan? Dia menambahkan, sebelum pandemi angkanya hanya 175 juta. Sedangkan data terbaru APJII, tahun 2022 pengguna internet di Indonesia mencapai sekitar 210 juta. Artinya ada penambahan sekitar 35 juta pengguna internet di Indonesia.(sember:cnbcindonesia.com).

Digital dan Tradisional

Secara umum jenis media dakwah ada dua. Pertama media tradisional yakni berdakwah tanpa menggunakan teknologi komunikasi. Media tradisional dapat berupa seni pertunjukan Islami yang secara tradisional dipentaskan di depan publik sebagai hiburan dan memiliki sifat komunikatif.

Kedua, media modern yakni berdakwah dengan menggunakan teknologi komunikasi. Seperti berdakwah di televisi, radio, dan saat ini berkembang menjadi dakwah digital, melalui internet (media sosial, youtube, dan lainnya).(Mohammad Ali Aziz, lmu Dakwah (Jakarta: Kencana, 2004), 407).

Tidak hanya itu, perbedaan antara dakwah konvensional dengan e-dakwah (dakwah digital) ada pada keahlian da‟i, untuk dakwah konvensional hanya diperlukan keahlian pengetahuan agama, sementara untuk e-dakwah da‟i juga perlu menguasai pengetahuan tentang teknologi informasi.(Fathul Wahid, E-Dakwah, Dakwah Melalui Internet (Yogyakarta: Gaya Media, 2004), 37).

Artinya, dai dalam konteks e-dakwah bukan sekadar orang yang memiliki pengetahuan agama, akan tetapi orang yang membantu menyampaikan atau memiliki kemampuan teknologi informasi dan komunikasi juga terbilang da‟i. Jadi da‟i tidak hanya seorang diri, melainkan sebuah kelompok dengan keahlian masing-masing.

Fenomena dakwah digital mulai berkembang di Indonesia sejak tahun 1994. Hal itu bersamaan dengan dibukanya indonet sebagai internet service provider di Jakarta. Setelah itu penggunaan internet sebagai medium dakwah semakin berkembang, seperti: facebook, twitter, youtube, instagram, blogger.

Media tersebut dapat menyiarkan secara langsung aktivitas yang dilakukan oleh seseorang dan memudahkan masyarakat berinteraksi dan memberikan feedback terhadap pesan yang diterima (Ahmad Zaini, “Dakwah Melalui Internet”, dalam Jurnal At-Tabsyir, Vol. 1 No. 1 (Kudus: STAIN Kudus, Juni 2013), 93-108.)

Sasaran Dakwah Digital

Jika sebelum merebaknya era digital, bisa dikatakan yang menjadi sasaran atau obyek dakwah para dai adalah orang-orang tua di kampung-kampung. Dakwah dilakukan dari masjid ke masjid atau mimbar ke mimbar, majlis taklim ke majlis taklim. Tapi hari ini, sasaran dakwah menjadi lebih luas merambah ke kalangan muda atau generasi milenial.

Siapa generasi milenial ini? Generasi Langgas (Millennials) atau biasanya disebut juga generasi Y, Netters, dan Nexters merupakan generasi yang berkembang dimana banyak inovasi-inovasi ilmu teknologi informasi.

Menurut Haroviz (2012), generasi Y atau generasi millenial adalah sekelompok anak-anak muda yang lahir pada awal tahun 1980 hingga awal tahun 2000 an. Generasi ini juga nyaman dengan keberagaman, teknologi, dan komunikasi online untuk tetap terkoneksi dengan teman-temanya.

Sementara menurut Choi et al (dalam Onibala, 2017) generasi ini lebih fleksibel terhadap hal-hal yang baru dan segala kemungkinan yang mungkin terjadi, sehingga sering digambarkan sebagai generasi yang sangat nyaman dengan perubahan.

Ciri lain dari generasi milenial ini adalah internet menjadi lilngkungan hidupnya, di mana informasi tidak harus dicari melainkan datang sendiri ke smartphone mereka. Mereka tidak suka administratif yang berbelit-belit dalam birokrasi. Terlihat unproceduran, namun justru melahirkan banyak inovasi dan temuan baru untuk memenuhi keinginan manusia.

Dari uraian di atas, saatnya para praktisi dakwah (baca: dai) memaksimalkan segala potensi untuk menyampaikan pesan dakwahnya dengan memanfaatkan teknologi digital. Jika orang-orang yang nyinyir dengan Islam saja memanfaatkan teknologi digital untuk menyudutkan Islam, maka bukankah lebih baik umat Islam juga memanfaatkan teknologi digital untuk mendakwahkan keindahan Islam. Bismillah, bersama kita bisa.(A/RS3/R1)

 

Mi’raj News Agency (MINA)