Dakwah Progresif Menuju Kesatuan Pemahaman  Khilafah Alaa Minhajin Nubuwwah

Oleh: Ustaz Agus Priyono, Ketua Majelis Dakwah Pusat Jama’ah Muslimin (Hizbullah)

Pengertian Dakwah Progresif

Dakwah progresif dapat diartikan sebagai kegiatan dakwah yang terus meningkat dan mengembang dari waktu ke waktu. Laksana bola salju yang terus bergulir dari butiran kecil, membesar dan akhirnya menjadi bukit salju. Dakwah progresif dengan demikian berkembang secara geografis dari lokal ke internasional (fil ardh): lintas negara, lintas bangsa, lintas budaya dan lintas agama. Dari sembunyi-sembunyi hingga terang-terangan (terbuka).

Dakwah progresif telah dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, dari periode Makkah ke periode Madinah. Dari berdakwah seorang diri di Makkah hingga bergabungnya istri, sebagian kaum kerabat, hingga sahabat dan akhirnya kabilah-kabilah di seluruh Jazirah Arab.

Strategi Dakwah Rasulullah Periode Makkah

Tujuan da’wah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pada periode Makkah adalah agar masyarakat Arab meninggalkan kejahiliyahannya di bidang agama, moral dan hukum, sehingga menjadi umat yang meyakini kebenaran kerasulan Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam dan ajaran Islam yang disampaikannya, kemudian mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Dari Da’wah sembunyi-sembunyi ke Da’wah terang-terangan

a) Da’wah Secara Sembunyi-sembunyi Selama 3-4 Tahun

Pada masa da’wah secara sembunyi-sembunyi ini, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menyeru untuk masuk Islam, orang-orang yang berada di lingkungan rumah tangganya sendiri dan kerabat serta sahabat dekatnya. Mengenai orang-orang yang telah memenuhi seruan da’wah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tersebut adalah: Khadijah binti Khuwailid, Ali bin Abu Thalib, Zaid bin Haritsah, Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Ummu Aiman (pengasuh Rasulullah waktu kecil).

Abu Bakar Ash-Shiddiq juga berda’wah ajaran Islam sehingga ternyata beberapa orang kawan dekatnya menyatakan diri masuk Islam, mereka adalah: Abdul Amar dari Bani Zuhrah, Abu Ubaidah bin Jarrah dari Bani Haris, Utsman bin Affan. Zubair bin Awam, Sa’ad bin Abu Waqqas, Thalhah bin Ubaidillah.

Orang-orang yang masuk Islam, pada masa dakwah secara sembunyi-sembunyi, yang namanya sudah disebutkan di atas disebut Assabiqunal Awwalun (pemeluk Islam generasi awal).

b) Dakwah Secara Terang-terangan

Rentang waktu antara Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam merahasiakan perintah-Nya hingga Allah Subhanahu Wa Ta’ala memerintahkan beliau memperlihatkan perintah-Nya ialah 3 tahun—sebagaimana disampaikan kepadaku (Rasulullah)-. Perintah Allah agar Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berdakwah secara terang-terangan dapat dijelaskan sebagai berikut.

Ibnu lshaq berkata, “Kemudian Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam :

فَاصْدَعْ بِمَا تُؤْمَرُ وَأَعْرِضْ عَنِ الْمُشْرِكِينَ

“Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik. ”(Al-Hijr: 94).

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman kepada beliau :

وَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ الأقْرَبِين وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِمَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ

“Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat. Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman.” (Asy-Syu’araa’: 214-215).

Dakwah secara terang-terangan ini dimulai sejak tahun ke-4 dari kenabian, yakni setelah turunnya wahyu yang berisi perintah Allah Subhanahu Wa Ta’ala agar dakwah itu dilaksanakan secara terang-terangan. Wahyu tersebut berupa ayat Al-Qur’an Surat 26: 214-216.

Tahap-tahap dakwah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam secara terang-terangan ini antara lain sebaga berikut:

1) Mengundang kaum kerabat keturunan Bani Hasyim, untuk menghadiri jamuan makan dan mengajak agar masuk Islam. Walau banyak yang belum menerima agama Islam, ada tiga orang kerabat dari kalangan Bani Hasyim yang sudah masuk Islam, tetapi merahasiakannya. Mereka adalah Ali bin Abu Thalib, Ja’far bin Abu Thalib, dan Zaid bin Haritsah.

2)    Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengumpulkan para penduduk kota Makkah, terutama yang berada dan bertempat tinggal di sekitar Ka’bah untuk berkumpul di Bukit Shafa.

Pada periode dakwah secara terang-terangan ini juga telah menyatakan diri masuk Islam dari kalangan kaum Quraisy, yaitu: Hamzah bin Abdul Muthalib (paman Nabi shallallahu alaihi wasallam) dan Umar bin Khattab.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam juga menyampaikan seruan dakwahnya kepada para penduduk di luar Kota Makkah.  Sejarah mencatat bahwa penduduk di luar Kota Makkah yang masuk Islam antara lain: Abu Zar Al-Giffari, seorang tokoh dari kaum Giffar; Tufail bin Amr Ad-Dausi, seorang penyair terpandang dari kaum Daus; serta Dakwah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam terhadap penduduk Yastrib (Madinah).

Gelombang pertama tahun 620 M, telah masuk Islam dari suku Aus dan Khazraj sebanyak 6 orang; Gelombang kedua tahun 621 M, sebanyak 13 orang, dan pada gelombang ketiga tahun berikutnya lebih banyak lagi. Di antaranya Abu Jabir Abdullah bin Amr, pimpinan kaum Salamah.

Pertemuan umat Islam Yatsrib dengan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pada gelombang ketiga ini, terjadi pada tahun ke-13 dari kenabian dan menghasilkan Bai’atul Aqabah. Isi Bai’atul Aqabah tersebut merupakan pernyataan umat Islam Yatsrib bahwa mereka akan melindungi dan membela Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Selain itu, mereka memohon kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan para pengikutnya agar berhijrah ke Yatsrib.

Strategi Dakwah Rasulullah Periode Madinah

Dakwah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam periode Madinah berlangsung selama 10 tahun, yakni dari tanggal 12 Rabiul Awal tahun pertama hijriah sampai dengan wafatnya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, tanggal 13 Rabiul Awal tahun ke-11 hijriah.

Materi da’wah yang disampaikan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pada periode Madinah selain akidah Islam, juga masalah sosial kemasyarakatan. Rasulullah mencontohkan dan membangun masyarakat Islami.

Sasaran dakwah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pada periode Madinah adalah orang-orang yang belum masuk Islam seperti kaum Yahudi penduduk Madinah, para penduduk di luar kota Madinah yang termasuk bangsa Arab dan bukan bangsa Arab.

Setelah ada izin dari Allah untuk berperang, sebagaimana firman-Nya dalam surah Al-Hajj: 39 dan Al-Baqarah: 190, maka kemudian Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan para sahabatnya menyusun kekuatan untuk menghadapi peperangan dengan orang kafir yang tidak dapat dihindarkan lagi.

Secara umum tahapan strategi dakwah progresif Rasulullah di Madinah sebagai berikut:

  1. Membangun Masjid

Masjid yang pertama kali dibangun oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam di Madinah ialah Masjid Quba, yang berjarak ± 5 km, sebelah barat daya Madinah. Masjid Quba dibangun pada tanggal 12 Rabiul Awal tahun pertama hijrah (20 September 622 M).

Masjid kedua yang dibangun oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan para sahabatnya adalah Masjid Nabawi di Madinah. Peletakan batu pertamanya dilakukan oleh Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam dan peletakan batu kedua, ketiga, keempat dan kelima dilaksanakan oleh para sahabat terkemuka yakni: Abu Bakar ash-Shiddiq, Umar bin Khathab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abu Thalib.

a) Mempersaudarakan Kaum Muhajirin dan Ansar

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bermusyawarah dengan Abu Bakar radliyallahu anhu dan Umar bin Khatab radliyallahu anhu untuk mempersaudarakan antara Muhajirin dan Anshar, sehingga terwujud persatuan yang tangguh. Hasil musyawarah memutuskan agar setiap orang Muhajirin mencari dan mengangkat seorang dari kalangan Anshar menjadi saudaranya senasab (seketurunan), dengan niat ikhlas karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Demikian juga sebaliknya orang Anshar.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memberi contoh dengan mengajak Ali bin Abu Thalib sebagai saudaranya. Apa yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dicontoh oleh seluruh sahabat misalnya:

  • Hamzah bin Abdul Muthalib, bersaudara dengan Zaid bin Haritsah.
  • Abu Bakar ash-Shiddiq, bersaudara dengan Kharizah bin Zaid.
  • Umar bin Khattab bersaudara denga Itban bin Malik al-Khazraji (Anshar).
  • Abdurrahman bin Auf bersaudara dengan Sa’ad bin Rabi (Anshar).

b) Perjanjian Bantu-membantu antara Umat Islam dan Umat Non-Islam

Pada waktu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menetap di Madinah, penduduknya terdiri dari tiga golongan, yaitu umat Islam, umat Yahudi (Bani Qainuqa, Bani Nazir dan Bani Quraizah) dan orang-orang Arab yang belum masuk Islam.

Untuk menjamin hidup damai di kota Madinah, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam membuat perjanjian Piagam Madinah yang mengikat semua penduduk Madinah tersebut. Piagam ini mengandungi 32 fasal yang menyentuh segenap aspek kehidupan termasuk akidah, akhlak, kebajikan, kemasyarakatan, ekonomi dan lain-lain. Di dalamnya juga terkandung aspek khusus yang mesti dipatuhi oleh kaum Muslimin seperti tidak mensyirikkan Allah, tolong-menolong sesama mukmin, bertakwa dan lain-lain. Selain itu, bagi kaum bukan Islam, mereka mestilah berkelakuan baik bagi melayakkan mereka dilindungi oleh umat Islam Madinah.

Piagam ini mestilah dipatuhi oleh semua penduduk Madinah. Strategi ini telah menjadikan Madinah sebagai model masyarakat Islami yang adil, membangun serta berperadaban (bermoral).

Rasulullah selain sebagai seorang Nabi dan Rasul, juga tampil sebagai seorang pemimpin. Sebagai pemimpin umat, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah meletakkan dasar bagi setiap sistem kepemimpinan Islam (siyasah al Islamiyah), sesuai tuntunan wahyu Allah.

Dakwah Progresif menuju kesatuan pemahaman Khilafah Alaa Minhajin Nubuwwah

Lingkup Dakwah Progresif

Dakwah Khilafah ‘Ala minhajin Nubuwwah (Mengikuti Jejak Kenabian) pada dasarnya adalah usaha-usaha dakwah menegakkan syariah Islam secara kaaffah dengan ber-Jama’ah dalam kepemimpinan Khilafah ‘Ala Minhajin Nubuwwah melalui sosialisasi, seruan hingga amar ma’ruf nahi munkar di tengah umat manusia sedunia.

Landasan:

  •  Kewajiban mendakwahkan syariah Islam yang kaffah

”Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk ” (Qs. An-Nahl: 125).

  •  Mendakwahkan kewajiban berjama’ah dalam mengamalkan syariah Islam

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliah) bermusuh musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk” (QS.Ali Imran 103).

  • Mendakwahkan Khilafah di tengah umat sedunia

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الأمْرِ مِنْكُمْ

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan Ulil Amri di antara kamu”  (QS. An-Nisa: 59).

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

“Dan Tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam”  (QS. Al-Anbiya 107).

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلا كَافَّةً لِلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لا يَعْلَمُونَ

“Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui”  (QS. Saba 28).

 Medan Dakwah:

Mendakwahkan pemahaman konsep Khilafah di tengah umat saat ini memang berhadapan dengan konsepsi atau pemikiran yang berbeda, yang berkembang saat ini. Din Syamsuddin sebagaimana dikutip oleh Syarifuddin Jurdi (2010) menyatakan bahwa pemikiran politik Islam modern cenderung mengalami evolusi seperti disebut Muhammad Imara (bahwa Islam sebagai agama tidak menentukan suatu sistem pemerintahan tertentu bagi kaum muslimin). Din Syamsuddin menyebutkan tiga kecenderungan perbedaan evalusi pemikiran tsb, yaitu:  (1) kecenderungan yuristik yang memandang permasalahan kekhilafahan dari kacamata syariah (hukum Islam); (2) kecenderungan birokratik-administratif,  yang berhubungan dengan penerapan teori-teori birokrasi dan administrasi negara; (3) kecenderungan filosofis yang mendefinisikan ide para filsuf  yang mengemukakan konsep negara yang ideal.

Mendakwahkan konsep Khilafah ‘Alaa Minhajin Nubuwwah ke tengah umat pada saat ini juga merupakan tantangan da’wah progresif untuk menetralisir pemikiran politis yang tidak sejalan dengan tuntunan Allah dan Rasul-Nya.

Realisasi Dakwah Progresif

  • Pada masa Imam Wali Al-Fattaah

Sejak ditetapinya Khilafah Alaa Minhajin Nubuwwah tahun 1953, Wali Al-Fattaah dengan ikhwan Jama’ah Muslimin (Hizbullah) melakukan shilaturrahim kepada para Alim Ulama; menyiarkan telah ditetapinya Khilafah melalui RRI keluar negeri; konferensi pers di Jakarta tahun 1959 dengan mengundang wartawan dalam dan luar negeri; mengadakan Musyawarah Alim Ulama dan Zu’ama Organisasi-organisasi Islam Tingkat Puncak seluruh Indonesia di Masjid Agung Sunda Kelapa Jakarta tahun 1974 dengan mengundang para alim ulama se Indonesia; serta pengiriman asatidz untuk mendakwahkan Khilafah ke beberapa negara di dunia.

  • Pada masa Imam Muhyidin Hamidy

Kegiatan da’wah  yang dilakukan masa Imam Muhyidin Hamidy sebagai kelanjutan da’wah sebelumnya, juga dilakukan upaya da’wah progresif antara lain: Dicanangkannya pembelaan terhadap Al-Aqsha dengan motto: AL-AQSA HAQQUNA, dengan kegiatan Longmarch lintas daerah di beberapa provinsi di Indonesia; aktif dalam konggres dan pertemuan Lembaga-lembaga dunia khususnya dalam urusan bantuan kemanusiaan dan pembelaan nasib muslimin di Palestina di Indonesia, Malaysia, Yaman, Turki, Yordania dll.; Misi kemanusiaan dengan kapal Mavi Marmara di Turki dan Israel; pembentukan lembaga pembelaan Al-Aqsha bernama Aqsa Working Group (AWG) di Jakarta; memprakarsai Konferensi Internasional untuk Pembebasan Al-Quds dan Palestina di Bandung 14-15 Sya’ban 1433H/4-5 Juli 2012 yang dihadiri tokoh-tokoh Islam dari Indonesia, Palestina dan negara-negara Timur Tengah, Asia dan Afrika; serta berdirinya Kantor Berita Islam pertama di dunia, MINA (Mi’raj Islamic News Agency) pada tanggal 10 Dzulhijjah 1434H/26 Oktober 2012 dengan sekretariat di Kramat Lontar, Jakarta.

Kegiatan dakwah fil ardh selanjutnya meluas secara internasional dari semula hanya di Indonesia selanjutnya ke Malaysia, Thailand, Filipina, hingga Timur Tengah. Kegiatan dakwah juga didukung dengan pengiriman santri kuliah ke Sudan, Yaman, Mesir, Yordania, serta negara-negara lainnya seperti Australia, Amerika Serikat, Jepang dan lain-lain.

Di Indonesia kegiatan dakwah melalui tabligh-tabligh akbar terus dilaksanakan hingga ke berbagai wilayah dan provinsi serta pemanfaatan media radio, media sosial, dan website.

  • Pada masa Imam Yakhsyallah Mansur

Dakwah fil ardh pada masa Imaamul Muslimin Yakhsyallah Mansur melanjutkan kegiatan dakwah sebelumnya. Dengan ikhtiar dakwah dan pembinaan melalui program tarbiyah maupun shilaturrahim, kini banyak ihwan akhwat yang berbaiat dari Malaysia, Thailand, Filipina, Afrika Selatan hingga Inggris.

Upaya dakwah terus dilakukan pada berbagai kesempatan, baik oleh Imam sendiri maupun oleh para Asatidz. Rintisan dakwah progresif selanjutnya adalah terus memperluas dakwah khilafah lintas benua, seperti Eropa, Amerika, dan Australia.(R01/RS3)

 

Sumber Bacaan:

  • Khilafah ‘Ala Minhajin Nubuwwah: Jalan Keluar Penyatuan Kaum Muslimin. Wali Al-Fattaah, Jakarta. Cetakan pertama, 1990.
  • Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad SAW. Gema Insani Press, Jakarta, 2001
  • Muhammad Saw The Super Leader Super Manajer oleh DR. Muhammad Syafii Antonio. ProLM Center & Tazkia Publishing, Jakarta, 2009.
  • 3 Tahun MINA: Napak Tilas Perjalanan MINA oleh Tim Redaksi MINA. MINA Publishing House, Jakarta, 2015.
  • Sosiologi Islam Dan Masyarakat Modern: Teori, Fakta Dan Aksi Sosial. Syarifuddin Jurdi. Penerbit, Jakarta.  2010.

 

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)

*Tausiyah ini disampaikan Ustaz Agus Priyono dalam Tabligh Akbar Jama’ah Muslimin (Hizbullah) 1438 Hijriyah di Masjid At-Taqwa, Komplek Pondok Pesantren Al-Fatah Cileungsi, Bogor, 23 Sya’ban 1438/20 Mei 2017.