Dampak Pandemi yang Guncang Kehidupan Daroji

(Foto: Eksklusif)

Depok, MINA – Malang menimpa Daroji (55). Pandemi bukan saja telah membuat mata pencarian keluarga hilang namun membuat keluarga mengandalkan pinjaman untuk sekadar beli sayuran.

Daroji tak membayangkan, betapa berat beban hidup yang kini dialaminya. Pandemi begitu berdampak dan mengusik keluarga kecilnya untuk bisa bertahan. Di atas tanah sewa ukuran 5 x 8 meter yang dibangun menjadi petakan sederhana, Daroji dengan keluarganya hidup dengan sangat sederhana. Baginya, jika hari ini dipastikan ada yang bisa dikonsumsi, itu sudah cukup istimewa.

Kepada tim Baitul Wakaf-BMH, sebagaimana keterangan tertulis yang diterima MINA, Rabu (6/5), Daroji bersama istrinya mengungkap kisah hidupnya bertahan di tengah pandemi.

“Ya Mas bisa dibilang, saat ini hidup itu susah banget. Awalnya jahit sepi, terus jadi udah lama jadi ojek online, tapi pas pandemi ini pernah pagi sampa malam hanya dapat satu order makanan. Kalau dihitung pulsa, bensin dan waktu saya rugi banget untuk keluarga saya ngga bisa ngasih apa-apa hari itu,” ujarnya saat ditemui di rumahnya di bilangan Depok, Jawa Barat baru-baru ini.

Daroji tinggal bersama dengan lima anggota keluarganya. Ada istri, menantu dan dua anaknya.

“Semula istri juga bantu dengan jualan sendal mas, tapi akhirnya habis untuk menutupi kebutuhan sehari-hari. Karena kitakan butuh makan, akhirnya habis juga modal kita untuk jualan sendal berikut dengan sendalnya,” ujar Warnit, istri Daroji yang turut menimpali seraya mengisahkan pengalamannya.

Saat ini kehidupan makin sulit, tak ada pilihan, Daroji berhutang untuk sekadar penuhi kebutuhan harian.

“Sekarang kalau untuk beli sayur saja mesti berhutang ke tukang sayur. Untung tukang sayurnya percaya. Tapikan kasihan, Mas tukang sayurnya kalau saya ngutang terus, tapi gimana ya kita butuh,” ujar Warniti lagi.

Daroji adalah potret keluarga yang pantang menyerah di tengah ujian hidup dan bertahan di tengah wabah. Berkali berganti usaha untuk sekadar bertahan. Pernah ada bantuan dari pemda, namun semua didahulukan untuk membayar hutang-hutangnya untuk menutupi kebutuhan harian.

Berburu Nasi Kotak untuk Berbuka dan Sahur

Kini tidak ada usaha yang bisa dijadikan mata pencarian. Menantu yang biasanya di rumah bersama keluarga, berprofesi sebagai pedagang kaki lima, nyaris tidak bisa berjualan lagi. Pemberlakukan social distancing dan PSBB membuatnya tidak bisa berbuat banyak.

Bulan Ramadhan setidaknya membuat Daroji bisa bernafas lega dan tak kehilangan harapan meski dalam episode berat untuk jalani hidup. Ia yakin rezeki pasti akan didapatkan selama masih diupayakan. Terutama saat bulan Ramadhan, pasti ada keberkahan.

Untuk menyiasati dan mencukupi saat berbuka dan sahur, Daroji biasanya keluar rumah sambil kembali menunggu order online jika ada. Pada saat itu, ia berharap bisa mendapatkan paket gratis yang disebar di jalanan agar bisa dibawa pulang untuk berbuka puasa dan jika ada disimpan buat sahur.

“Saya kalau dapat nasi kotak dua, saya simpen satu buat sahur bersama keluarga. Tapi kadang-kadang yah cuma dapat lontong doang. Ya, ini andalan saya mas untuk bisa ngasih buka puasa buat keluarga, saya sengaja nyari. Kalau ngga begitu ya gimana lagi,” tutur Daroji lagi.

Diakhir pertemuan, Baitul Wakaf-BMH menyalurkan Paket Hasil Tani, sebagai pemenuhan kebutuhan dan imunitas di tengah pandemi yang belum jelas berakhirnya.

Paket yang berasal dari petani pedesaan yang terdampak pandemi ini dibeli dengan harga layak oleh Baitul Wakaf dan disalurkan kepada korban terdampak lainnya seperti halnya keluarga Daroji setiap pekan selama Ramadhan.

Kisah keluarga Daroji adalah potret di tengah pandemi wabah yang melanda negeri. Masih banyak Daroji lain di sekitar kita yang juga bernasib sama bahkan lebih sulit.

Mari jadikan, tahun ini menjadi Ramadhan Produktif. Bulan Ramadhan yang tidak sekadar beribadah untuk diri sendiri tapi untuk orang-orang di sekitar kita yang terdampak pandemi agar mereka bisa tenang dalam beribadah.(R/R1/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)