Dareen Tatour, Temukan “Pena Ajaib” di Penjara Israel

Empat bulan setelah pembebasannya dari sebuah penjara Israel, penyair dan fotografer Palestina Dareen Tatour, menerima Oxfam Novib PEN Award untuk Kebebasan Berekspresi di Den Haag pada Januari 2019.

Oxfam Novib, afiliasi Belanda dari badan amal internasional Oxfam, mengatakan, pihaknya memberikan hadiah kepada Tatour untuk menyoroti meningkatnya penindasan terhadap suara-suara kritis di Israel dan wilayah Palestina yang diduduki.

Penghargaan itu pertama kali diberikan tahun 2001 kepada Penulis dan jurnalis Nikaragua Gioconda Belli dan jurnalis Italia Roberto Saviano.

Setelah tiga tahun masa penuntutan, penjara dan tahanan rumah, Tatour dijatuhi hukuman lima bulan Agustus lalu atas beberapa pos media sosial dan sebuah puisi berjudul “Tolak, umatku, tahan mereka”.

Dia dihukum oleh pengadilan Israel atas tuduhan “hasutan untuk melakukan kekerasan” dan “mendukung organisasi teroris”.

Kelompok kebebasan sastra PEN International mengatakan, Tatour telah menjadi sasaran otoritas Israel karena secara damai menggunakan haknya untuk kebebasan berekspresi, melalui puisi dan aktivisme, mereka menuntut agar semua tuduhan terhadapnya dibatalkan.

Tatour berbicara kepada The Electronic Intifada, ia selalu mempertahankan keikhlasannya, membela aktivitas media sosial dan puisinya sebagai bentuk protes terhadap kejahatan Israel.

Rasa Kemenangan

“Saya merasakan kemenangan atas pendudukan itu karena mereka berusaha membungkam suara saya dan mencegah saya menulis puisi,” kata Tatour ketika ditanya tentang upacara penghargaan, meskipun ia mengaku adanya “perasaan kontradiktif.”

“Tiba-tiba saya menemukan diri saya di depan orang-orang, melantunkan puisi. Itu berdampak kuat pada saya,” tambahnya.

“Saya tidak bisa memisahkan antara rasa sakit yang saya rasakan dari waktu saya di penjara dan kegembiraan berada di acara ini. Saya mencoba menyampaikan perasaan kepada orang-orang di ruangan ini,” katanya.

“Mereka membantu saya untuk berada di sana, dalam kemenangan itu,” dia memuji blogger Yoav Haifawi yang secara konsisten melaporkan proses peradilanya, dan PEN International, karena mendukungnya melalui cobaan berat.

“Dukungan mereka memperkuat saya untuk terus. Saya akan senantiasa bersyukur,” kata Tatour.

Perhatian internasional terhadap penganiayaan penyair Palestina yang relatif tidak berkurang, menjadikan Tatour sasaran serangan Israel terhadap kebebasan berekspresi.

Hal ini dia alami selama perjalanannya ke Belanda.

“Semua orang melewati pintu masuk utama tanpa masalah tetapi saya dijemput oleh seorang petugas wanita, yang mengambil kartu identitas saya dan mulai menginterogasi saya,” kenangnya ketika di bandara Tel Aviv.

“Saya tiba pukul 1:10 pagi, kemudian mereka bertanya kepada saya ‘jam berapa penerbanganmu.” Kataku jam 5 pagi. Petugas itu bertanya, ‘kenapa kamu se-pagi ini? Anda harus memiliki alasan untuk datang sepagi ini,”

Setelah banyak pertanyaan, Tatour kemudian menunggu temannya Ofra Yeshua-Lyth yang akan menemaninya dalam perjalanan.

“Setiap tujuh menit seorang petugas datang dan bertanya ke mana saya pergi,” kata Tatour.

“Saya ingin menarik uang jadi saya mencari ATM. Penjaga itu mengikuti saya sepanjang waktu. hingga Ofra datang,”

Ia menambahkan, hal itu tidak berakhir di sana. Di mesin sinar-X, staf keamanan tidak suka bahwa Tatour membawa peralatan kamera.

“Mereka menelanjangi saya. Mereka membawa saya ke kamar terpisah. Ofra diperintahkan untuk pergi,” ujarnya.

“Saya harus melepas jaket, sepatu, syal, semuanya,” kenang Tatour.

Mereka bahkan menyita jepit rambut yang digunakan Tatour untuk mengenakan jilbabnya.

“Sepanjang waktu aku takut mereka tidak akan membiarkanku pergi. Di dalam pesawat, saya punya perasaan bahwa saya bebas, tetapi saya masih merasa takut,” tambahnya.

Penyair dalam Bahasa Arab

Tatour, sekarang berusia pertengahan tiga puluh, ia telah menulis puisi sejak berusia 9 tahun.

“Saya merasa perlu untuk mengekspresikan apa yang saya rasakan di dalam diri saya dan meletakkannya di atas kertas,” ungkapnya.

“Suatu kali di kelas dua, guru bertanya akan jadi apa kami ketika dewasa. Sebagian besar siswa mengatakan dokter, pengacara, atau insinyur. Saya bilang saya ingin menulis. Saya ingat ini sebagai momen penting,” kata Tatour.

“Saya menulis tentang apa yang saya rasakan, apapun yang saya lihat dan apa pun yang menyentuh saya. Hidup saya sekarang adalah selembar kertas dan pena,” lanjutnya.

Tahun lalu, apa yang disebut sebagai Hukum Negara-Bangsa Israel, yang telah disamakan dengan undang-undang era apartheid di Afrika Selatan, menanggalkan bahasa Arab dari status resminya.

Itu adalah serangan langsung terhadap 1,5 juta warga Palestina yang merupakan warga negara Israel. Tetapi ketika ditanya dalam bahasa apa dia menulis, Tatour menjawab tanpa ragu : Bahasa Arab.

Menemukan Pena Ajaib

“Di penjara, kata Tatour, penjaga menolak permintaannya untuk menulis materi. Kalian, terutama Anda, tidak akan memiliki pena dan kertas,” kenangnya.

“Tapi aku menemukan pena ajaib,” kata Tatour dengan senyum lebar.

Ia bercerita, saat itu sedang sakit kepala parah di penjara Al-Jalameh. Penjaga memberinya tablet parasetamol kuning. Ia memegangnya di tangan dan membayangkannya sebagai pena.

Tatour pun menulis dengan tablet di dinding, tetapi dengan tidak meninggalkan jejak.

Ketika sakit kepalanya hilang, Tatour tetap menyimpan tablet di saku, karena ia merasa tablet itu menginspirasinya.

“Saya diselamatkan oleh tablet. Tablet itu adalah pena ajaibku,” ujarnya.

Kemudian, suatu saat ia merasa kedinginan dan mulai bermain dengan resleting sweaternya, secara tidak sengaja dia menarik slider dari resleting.

“Saya melihatnya dan mencoba menuliskan nama saya di dinding dengannya, Itu berhasil!” katanya.

Tatour menulis dua puisi di dinding yang diberi judul “Kesan feminis pertama yang bertato di dinding sel,” dan yang kedua, “Seorang penyair di balik jeruji besi”, keduanya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris.

Selama persidangannya, Tatour dipenjara tiga bulan sebelum dikirim ke tahanan rumah. Setelah dijatuhi hukuman lima bulan, ia dikirim kembali ke penjara untuk menghabiskan sisa dua bulan di balik jeruji besi.

“Aku kembali ke sel yang sama dan puisi itu masih ada di sana,” katanya sambil tertawa.

“Aku meminta sweter untuk mengulangi triknya dengan slider resleting untuk menulis di dinding, dengan pena ajaibku.”

“Saya menulis semua yang terjadi pada saya di dinding itu, dari saat saya memasuki penjara hingga ketika saya kembali dan tiga tahun tahanan rumah.

Ia pun menuliskan satu puisinya yang berjudul “Tolak, umatku, tolak mereka” di dinding sel. (AT/Ast/RS1)

Mi’raj News Agency (MINA)