MEDIA sosial pada awalnya diciptakan sebagai ruang silaturahmi tanpa batas. Orang bisa menyapa kerabat jauh, menjalin kembali persaudaraan yang terputus, bahkan menebar kebaikan lintas daerah dan negara. Namun seiring berjalannya waktu, fungsinya perlahan bergeser. Kini, ia lebih sering digunakan untuk pamer, membangun citra semu, dan menjadikan hidup sebagai panggung sandiwara. Ruh silaturahmi yang dulu begitu kental, seakan terkubur oleh derasnya arus pencitraan.
Yang lebih menyedihkan, banyak orang merasa harus “eksis” setiap hari, meski dengan cara menipu dirinya sendiri. Foto harus selalu tampak bahagia, meski hati sebenarnya porak-poranda. Kehidupan harus terlihat mewah, meski dompet menjerit di balik layar. Media sosial bukan lagi cermin kejujuran, melainkan topeng digital yang memaksa kita menjadi aktor dan aktris di panggung dunia maya.
Fenomena ini bukan hanya soal gaya hidup, melainkan penyakit jiwa yang serius. Bayangkan, berapa banyak orang yang rela berhutang hanya untuk bisa memamerkan sesuatu di media sosial? Berapa banyak yang mengukur kebahagiaan dari jumlah like, komentar, dan share? Inilah tanda nyata bahwa ruh silaturahmi telah direnggut, diganti dengan ilusi pengakuan semu.
Padahal, Rasulullah ﷺ telah mengingatkan bahwa riya’—memamerkan amal atau kehidupan demi dipuji orang—adalah syirik kecil. Ketika media sosial menjadikan pamer sebagai budaya, maka tanpa sadar kita sedang mengundang laknat spiritual: amal menjadi hampa, hati menjadi gersang, dan jiwa kehilangan arah. Apakah ini tujuan kita hidup?
Baca Juga: Menjarah: Akibat dari Keserakahan dan Ketidakadilan
Media sosial hari ini seolah berlomba menipu. Orang-orang hanya menampilkan sisi paling indah dari dirinya, tanpa pernah berani menampilkan luka dan keterpurukan. Akibatnya, yang melihat merasa rendah diri, merasa kalah, merasa tidak berharga. Lalu muncul lingkaran setan: satu orang pamer, yang lain ikut pamer, semua berlomba menciptakan kebohongan massal.
Yang lebih mengerikan, media sosial yang seharusnya mempererat silaturahmi justru menimbulkan iri, dengki, dan kesenjangan sosial. Bagaimana tidak? Setiap unggahan pamer harta atau kebahagiaan bisa menusuk hati orang yang kekurangan. Alih-alih menebar kasih sayang, kita malah menebar luka. Alih-alih menyambung persaudaraan, kita malah meretakkannya.
Jika ditelaah lebih dalam, budaya pamer di media sosial adalah bentuk modern dari kesombongan yang dulu diperingatkan dalam Al-Qur’an. Allah berfirman dalam QS. Luqman ayat 18: “Dan janganlah engkau memalingkan wajah dari manusia (karena sombong) dan janganlah engkau berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” Ayat ini seakan hidup kembali di era digital—kini kesombongan bukan lagi lewat langkah kaki, tapi lewat unggahan.
Lebih tragis lagi, sebagian orang menganggap wajar bahkan bangga dengan budaya pamer. Mereka berkata, “Kan hanya hiburan,” atau “Itu hak saya.” Padahal, kebiasaan ini perlahan membunuh rasa syukur. Seseorang yang sibuk pamer akan sulit merasa cukup, sebab hidupnya hanya tentang membandingkan diri dengan orang lain.
Baca Juga: Ketika Nabi Sulaiman Memperbarui Masjidil Aqsa
Kita harus berani mengakui: media sosial sudah banyak merusak nilai keikhlasan. Yang tadinya niat membantu, berubah jadi niat konten. Yang tadinya berniat berbagi ilmu, berubah jadi ingin viral. Yang tadinya ingin menyapa sahabat, berubah jadi ajang mencari validasi. Hati-hati, sebab ini bukan hanya soal moral, tapi soal keselamatan amal kita di hadapan Allah.
Namun bukan berarti media sosial sepenuhnya buruk. Ia hanyalah alat. Yang membuatnya kehilangan ruh adalah cara kita menggunakannya. Jika kembali ke niat awal—silaturahmi, dakwah, menebar kebaikan—maka media sosial bisa menjadi ladang pahala. Tapi jika terus digunakan untuk pamer, maka ia hanya akan jadi ladang dosa yang diam-diam menggerogoti hati.
Sudah saatnya kita berhenti menjadikan media sosial sebagai panggung pamer. Mari kembalikan fungsinya sebagai penguat ukhuwah, sarana menebar ilmu, tempat menyalurkan inspirasi, dan wadah berbagi motivasi. Jangan biarkan diri kita menjadi budak algoritma yang hanya mengukur harga diri dari angka-angka digital.
Pertanyaannya sekarang: mau sampai kapan kita terjebak dalam ilusi media sosial? Sampai kapan kita membiarkan ruh silaturahmi terkubur oleh budaya pamer? Mari berhenti sejenak, menutup layar, dan kembali menatap wajah orang-orang di sekitar kita. Sebab sejatinya, silaturahmi yang nyata bukan tentang postingan, melainkan tentang hati yang tulus dan tangan yang saling menggenggam.[]
Baca Juga: Fenomena Riya’ Digital: Bahaya Pamer Ibadah dan Gaya Hidup di Media Sosial
Mi’raj News Agency (MINA)