Delapan Strategi Tingkatkan Peranan Iptek dan Inovasi di Indonesia

Jakarta, MINA – Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas), Bambang Brodjonegoro memaparkan delapan strategi untuk meningkatkan peranan iptek dan inovasi di  Indonesia agar menjadi salah satu pusat pengembangan di kawasan Asia dan dunia.

“Pertama, Pembentukan Sistem Nasional Iptek dan Inovasi, serta inisiatif Dana Inovasi; kedua, Peningkatan kapasitas institusi dan Pembibitan SDM Iptek; ketiga, Pengembangan teknologi berbasis potensi kewilayahan dan budaya; keempat, Pengembangan penelitian sosial-humaniora untuk menunjang inovasi dan produktivitas di masyarakat,” katanya pada seminar nasional bertema “Pembangunan Iptek untuk Kemajuan Bangsa,” di Gedung Bappenas, Jakarta Pusat, Kamis (30/8).

Ia melanjutkan, yang kelima, optimalisasi foreign direct investment (FDI) dan global value chain (GVC) sebagai sarana alih teknologi; keenam, pelembagaan Triple Helix; tujuh, pembangunan infrastruktur pendukung research and development (R&D) yang bernilai strategis; dan delapan, penciptaan ekosistem yang kondusif untuk menumbuhkan technopreneur dan startup.

“Dari strategi-strategi ini, Sistem Nasional Iptek dan Inovasi merupakan hal yang paling mendasar yang harus dimiliki oleh suatu negara yang ingin tumbuh dengan berbasiskan pada Iptek dan Inovasi,” ujarnya.

Lebih lanjut ia mengatakan, oleh karena itu, Indonesia perlu mengapresiasi inisiatif Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang saat ini sedang merancang Draf RUU Sisnas Iptek sebagai landasan pembangunan Iptek nasional di masa mendatang.

“Dengan adanya RUU Sisnas Iptek dan Inovasi sebagai payung hukum, pengembangan Iptek dan Inovasi dapat dilakukan secara lebih sistematis serta terintegrasi dengan aspek pendanaan. Kebijakan tersebut juga perlu didukung sinergi gerakan antara pemerintah, masyarakat dan dunia usaha untuk memperkuat kapasitas sumber daya manusia dan skema pendanaan,” paparnya.

Ia menambahkan, berdasarkan hasil studi literatur dan pengalaman dari negara-negara lain, terdapat komponen penggerak sistem inovasi nasional, seperti Kebijakan yang holistik, pendorong inovasi, pengembangan prioritas unggulan, pengembangan sumber daya manusia, infrastruktur inovasi, sinergi dan kolaborasi, serta evaluasi dan pengembangan yang berkelanjutan.

“Dengan adanya sinergi Triple Helix (ketiga pihak) tersebut dapat bersinergi untuk mengembangkan sistem inovasi yang berkontribusi pada peningkatan produktivitas dan perekonomian. Penciptaan inovasi melalui Triple Helix dapat memacu pertumbuhan dan daya saing ekonomi,” jelasnya. (L/R10/P1)

 

Mi’raj News Agency (MINA)