Demonstrasi Hari ke-10 di Lebanon

Pada hari kesepuluh demonstrasi di Lebanon, jalan-jalan diblokir oleh para demonstran yang kembali turun pada Sabtu, 26 Oktober 2019.

Mereka berhamburan ke jalan-jalan di seluruh negara itu untuk menentang upaya Hizbullah yang mereka nilai untuk menjinakkan gerakan itu.

Para demonstran – yang telah berduyun-duyun di jalan-jalan kota di seluruh Lebanon sejak 17 Oktober – menuntut penghapusan seluruh kelas politik dan menuduh banyak orang di berbagai pihak melakukan korupsi sistematis.

Namun, jumlahnya telah menurun sejak 20 Oktober, ketika ratusan ribu orang mengambil alih Beirut dan kota-kota lain dalam demonstrasi terbesar dalam beberapa tahun.

Pemimpin Hizbullah Sayyed Hassan Nasrallah pada hari Jumat meminta para pendukungnya untuk meninggalkan jalan-jalan.

Dia memperingatkan bahwa setiap pengunduran diri kabinet akan menyebabkan “kekacauan dan keruntuhan” ekonomi.

Dia juga mengatakan bahwa para demonstran telah dimanipulasi oleh “kekuatan asing” yang ingin meningkatkan kerusuhan.

Pernyataan yang disiarkan kepada publik itu muncul tak lama setelah para pendukungnya bentrok dengan demonstran antikorupsi di Beirut.

Pernyataannya menebarkan perpecahan di antara para pendukung Hizbullah, sebagian di antaranya masih melakukan protes pada Sabtu pagi.

Hassan Koteiche (27) dari kubu Hizbullah di Beirut, mengatakan, dia setuju dengan sebagian besar pidato “luar biasa” Nasrallah, tetapi ia memiliki beberapa keberatan.

“Ini tidak berarti kami menentang diskursusnya, tetapi ada perbedaan pendapat,” katanya kepada AFP.

“Hal utama yang saya tidak setuju adalah keyakinannya bahwa jika pemerintah atau parlemen jatuh maka kita tidak akan memiliki alternatif,” tambahnya.

“Itu tidak benar. Kami memiliki alternatif. Kami memiliki orang-orang yang mulia dan tidak korup yang dapat memerintah,” katanya.

“Kami akan tetap berada di jalanan”

Jalan utama tetap ditutup di seluruh negeri pada Sabtu pagi, ketika tentara mencoba membuka kembali rute-rute utama.

Di timur laut Beirut, lusinan demonstran membentuk rantai manusia untuk mencegah tentara menyingkirkan penghalang yang menutupi jalan di tepi laut.

Di pusat kota Beirut, pemrotes duduk bersila di jalur utama yang menghubungkan ibu kota ke daerah pinggiran dan sekitarnya, tetapi tentara kemudian membersihkan mereka dan membuka jalan.

Di dekatnya, banyak sukarelawan menyapu jalan-jalan dan mengumpulkan sampah setelah protes larut malam, saat orang-orang menari di jalan menikmati masa-masa protes mereka.

Demonstran yang tidur di tenda dekat Lapangan Martir mengatakan, mereka masih menentang, meskipun ada upaya oleh Hizbullah untuk menggerakkan demonstran.

“Kami akan tetap berada di jalanan,” kata Rabih Al-Zein (34) dari kubu Syiah Tirus, yang menyaksikan demonstrasi yang belum pernah terjadi sebelumnya selama sepekan terakhir.

“Kekuatan rakyat lebih kuat daripada kekuatan partai-partai,” katanya.

Ia menambahkan bahwa pendukung Hizbullah tidak akan membuat mereka tidak berdemonstrasi.

Partai-partai politik Lebanon yang sebagian besar sektarian telah salah langkah oleh sifat lintas komunal dari protes yang sebagian besar damai.

Demonstrasi kali ini mengibarkan bendera Lebanon dan bukannya warna-warna partisan yang biasanya diarak saat demonstrasi. Para pemrotes menuntut pengunduran diri semua pemimpin politik Lebanon.

“Semuanya berarti semua” telah menjadi slogan populer dalam demonstrasi kali ini.

 

Demonstrasi tandingan

Dalam beberapa hari terakhir, loyalis Hizbullah dan Gerakan Patriotik Merdeka (FPM) – sebuah partai Kristen yang didirikan oleh Presiden Michel Aoun – memobilisasi demonstrasi-demonstrasi di seluruh negeri, memicu pertikaian dengan para demonstran dan jurnalis.

Hizbullah yang didukung Iran adalah satu-satunya gerakan yang tidak dilucuti setelah 15 tahun perang saudara di Lebanon yang berakhir 1990.

Ratusan pendukungnya berkumpul di kubu kelompok itu di pinggiran selatan Beirut dan kota-kota selatan Nabatiyeh dan Tirus pada Jumat lalu setelah pidato Nasrallah. Mereka mengibarkan bendera partai.

Di pusat Beirut, mereka bentrok dengan pengunjuk rasa antikorupsi, mendorong polisi anti huru hara turun tangan untuk melerai perkelahian.

Di Nabatiyeh pada Sabtu, puluhan demonstran anti-pemerintah kembali ke jalan-jalan. Seorang pemrotes mengatakan, dia mengandalkan pasukan militer dan keamanan untuk melindungi mereka dari demonstran loyalis partai.

Di pinggiran utara Beirut, puluhan loyalis FPM menggelar demonstrasi tandingan untuk menyatakan dukungan mereka bagi presiden yang diperangi.

Lebanon mengalami perang saudara yang menghancurkan yang berakhir pada 1990 dan banyak dari pemimpin politiknya saat ini adalah mantan komandan milisi perang, kebanyakan dari mereka direkrut berdasarkan garis sektarian.

Kebuntuan yang terus-menerus di antara mereka telah menghalangi upaya untuk mengatasi ekonomi yang memburuk, sementara perang delapan tahun di negara tetangga Suriah telah memperparah krisis.

Data Bank Dunia mengatakan, lebih dari seperempat penduduk Lebanon hidup dalam kemiskinan. (AT/RI-1/P1)

Sumber: Nahar Net

Mi’raj News Agency (MINA )