HARI demi hari berlalu, dan tanpa terasa, kita kembali dipertemukan dengan bulan yang penuh rahmat ini—Ramadhan. Bulan di mana kita menahan lapar dan dahaga, bangun lebih awal untuk sahur, dan menjalani ibadah yang lebih panjang dari biasanya. Kadang terasa berat, kadang begitu menguji.
Namun, ada sesuatu yang ajaib tentang Ramadhan. Meski kebutuhan meningkat, dari menu sahur dan berbuka, hingga sedekah yang ingin diberikan, keberkahan selalu hadir. Rezeki terasa cukup, hati terasa lebih tenang, dan entah bagaimana, semangat berbagi semakin besar.
Di sebuah desa kecil yang jauh dari hiruk-pikuk kota, Ramadhan datang dengan tantangan tersendiri. Jalanan berbatu yang sulit dilalui, persediaan makanan yang terbatas, serta mayoritas penduduk yang harus bekerja keras di sawah dari pagi hingga petang. Puasa bukan perkara mudah bagi mereka.
Namun, di tengah segala keterbatasan itu, ada seorang guru mengaji yang mengajarkan arti sesungguhnya dari berkah Ramadhan. Ia memindahkan tempat belajar para murid ke masjid, menjadikannya lebih dari sekadar rumah ibadah—tetapi juga rumah ilmu dan kebersamaan.
Baca Juga: Ramadhan di Rantau, Penuh Kerinduan akan Kampung Halaman
Awalnya, tak banyak yang datang. Hanya beberapa anak yang masih ragu-ragu. Namun, seiring waktu, semakin banyak yang bergabung. Mereka belajar membaca Al-Qur’an, mendengarkan kisah-kisah Nabi, dan menyerap makna puasa lebih dalam.
Hujan yang turun tak menyurutkan langkah mereka. Meski harus melewati jalanan becek, mereka tetap datang. Hingga akhirnya, masjid yang dulunya sepi kini penuh dengan tawa anak-anak, lantunan ayat suci, dan kehangatan berbuka bersama.
Tak lama setelah kegiatan ini berjalan, ada sesuatu yang menggetarkan hati warga. Setiap hari, ada yang diam-diam meletakkan takjil di masjid. Awalnya hanya beberapa bungkus, namun lama-lama jumlahnya bertambah.
“Mungkin ada yang ingin berbagi,” pikir warga.
Baca Juga: Kenangan Manis Ramadhan: Dari Beban Ekonomi Hingga Ketenangan Itikaf
Namun, tak ada yang tahu siapa yang memulainya. Yang pasti, semakin hari, semakin banyak orang yang ikut berkontribusi. Ibu-ibu mulai memasak lebih banyak, pedagang menyisihkan sebagian dagangan mereka, bahkan para petani yang biasanya hanya berpikir tentang hasil panen, kini sibuk mencari cara untuk berbagi.
Keajaiban Ramadhan sungguh nyata. Dari sebuah niat kecil, lahir kebaikan yang lebih besar.
Tak hanya anak-anak yang belajar, para orang tua pun mulai ikut meramaikan masjid. Ada yang belajar membaca Al-Qur’an meski terbata-bata, ada yang mencoba shalat berjamaah lebih sering, dan ada pula yang sekadar duduk di serambi masjid, menikmati suasana yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya.
Dan di antara mereka, ada seorang guru mengaji yang memilih tetap tinggal di desa ini, meski jauh dari kampung halamannya.
Baca Juga: Telat Sahur Ramadhan Tahun Lalu, Semoga tak Terulang
“Mbak Guru, Lebaran nanti pulang kampung, kan?” tanya seorang ibu suatu hari.
Wanita itu tersenyum kecil.
“Enggak, Bu. Setelah ayah pergi untuk selamanya, saya merasa tak ada lagi yang menunggu di sana. Mungkin Ramadhan saya lebih berarti di sini.”
Hening sejenak. Namun, kemudian seorang warga berkata, “Kalau begitu, Lebaran nanti ke rumah saya saja. Kita keluarga di sini, kan?”
Baca Juga: Perjalanan Empat Pemuda Petani Nilam Aceh Timur ke Taklim Pusat 1446H
Dan begitulah, Ramadhan selalu punya cara untuk menghangatkan hati.
Tahun demi tahun, kita selalu bertemu dengan Ramadhan. Tapi pertanyaannya, apakah kita sekadar menjalaninya, atau benar-benar mengambil keberkahannya?
Mari jadikan bulan suci ini sebagai momen untuk memperbaiki diri. Tidak hanya dengan menahan lapar dan haus, tapi juga dengan lebih banyak berbagi, lebih sering bersujud, dan lebih tulus dalam berbuat kebaikan.
Karena Ramadhan bukan sekadar ibadah—ia adalah perjalanan hati. Dan siapa pun yang menjalaninya dengan sungguh-sungguh, akan menemukan keajaiban yang tak terduga.
Baca Juga: Tabligh Akbar Mengukir Hikmah Menguatkan Iman
Semoga tahun ini kita lebih kuat, lebih ikhlas, dan lebih dekat dengan-Nya. Amin. [Neni Reza]