Diapit Dua Patahan Sumatera, Banda Aceh Rawan Gempa

Banda Aceh, MINA – Muksin Umar Peneliti di Tsunami and Disaster Mitigation Researcn Center (TDMRC) Universitas Syiah Kuala Banda Aceh, menyebutkan kota Banda Aceh diapit oleh dua patahan Sumatera yang masih aktif, yaitu patahan segmen Aceh dan segmen Seulimuem.

Patahan segmen Aceh dan Seulimuem merupakan bagian dari patahan Sumatera dari Teluk Semangko di Lampung menerus sampai ke Provinsi Aceh. Dari Kecamatan Tangse kabupaten Pidie, patahan Sumatra terpecah menjadi dua segmen, satu segmen menerus sampai ke Indrapuri – Mata Ie – Pulau Breuh – Pulau Nasi.

Segmen ini dinamakan segment Aceh. Sementara Segment lain menerus ke Seulimuem – Krueng Raya – Sabang, dan dinamakan segmen Seulimuem.

Dalam keterangan tertulis yang dikeluarkan Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) menyebutkan, segment Aceh sudah 170 tahun tidak menghasilkan gempa bumi, sehingga berpotensi menghasilkan gempa bumi dengan magnitudo Mw 7, Selasa (2/1).

Segmen Seulimuem sendiri, menurut Buku Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia 2017, mampu menghasilkan gempa dengan magnitudo Mw 7.

Peneliti TDMRC Universitas Syiah Kuala dan juga dosen Teknik Geologi Fakultas Teknik Universitas Syiah Kuala, Ibnu Rusydy, M.Sc mencoba membuat model gempa bumi dari segmen Aceh dan Seulimuem serta memprediksi kerusakan bangunan yang akan terjadi di kota Banda Aceh dan jumlah korban luka-luka.

Untuk memprediksi tingkat kerusakan bangunan akibat gempa bumi yang bersumber dari segmen Aceh maupun segmen Seulimuem, Ibnu Rusydy melakukan pendataan jenis bangunan, jumlah lantai, peruntukan bangunan, kondisi geologi tanah dan air di Kota Banda Aceh, dan membuat model gempa bumi.

Menurut Ibnu Rusdy, Hal ini dilakukan, karena tingkat kerusakan bangunan sangat dipengaruhi oleh jenis konstruksi bangunan, jumlah lantai, kondisi geologi tempat bangunan berdiri, goncangan tanah akibat gempa bumi, dan pengaruh liquifaksi.

Ibnu Rusdy memperkirakan, apabila gempa bumi dengan magnitudo Mw 7 bersumber dari segmen Aceh, maka diperkirakan masing-masing bangunan di kota Banda Aceh akan mengalami kerusakan antara 40 hingga 80%.

Sementara jika terjadi gempa magnitude Mw 7 bersumber dari segment Seulimuem, maka masing-masing bangunan akan mengalami kerusakan antara 20 hingga 60%.

Selain kedua sesar tersebut, ternyata Aceh memiliki tiga sesar lainnya yang juga memiliki potensi terjadinya gempa, yakni sesar Lhokseumawe, sesar Nisam, sesar Bate yang membentang dari Betong Ateuh hingga Aceh Selatan, sesar Lampahan, dan sesar Pidie Jaya.

“ada sesar Samalanga Kabupaten Bireun, tapi ini masih perlu penelitian lanjutan untuk membuktikan hal tersebut,” kata Muksin Umar.

Selain potensi gempa yang terjadi di Banda Aceh akibat pergeseran sesar aktif, kota Banda Aceh juga berpotensi Likuifaksi, yang diakibatkan naiknya permukaan air tanah sehingga membuat kondisi tanah menjadi labil.

“Itu ada kaitanya dengan gempa, jika terjadi goncangan mengakibatkan naiknya air ke permukaan tanah dan mengakibatkan Likuifaksi, seperti yang terjadi di Palu,” sebut Muksin.

Melihat kondisi Kota Banda Aceh yang rawan terhadap gempa bumi dari patahan Sumatera segmen Aceh dan Seulimuem, BPBA mengeluarkan sejumlah rekomendasi seperti standarisasi pembangunan gedung, perumahan, dan jembatan harus mengikuti kaidah bangunan tahan gempa, merujuk pada SNI 1726-2012.

Studi bawah permukaan terkait kondisi tanah diantaranya metode seismik, geolistrik, N-SPT, dan CPT. Metode tersebut harus dilakukannya sebelum sebuah tempat dijadikan kawasan pembangunan.

Pendidikan kebencanaan harus terus digalakkan untuk murid sekolah (SD, SMP, SMA) guna memberikan pengetahuan kebencanaan sejak dini. Simulasi dan sosialisasi pengetahuan kebencanaan harus terus dilakukan untuk meningkatkan kapasitas dan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi bencana. (L/AP/R01)

 

Mi’raj News Agency (MINA)