Din Syamsuddin: Kerusakan Lingkungan Hidup Jadi Perhatian Bersama

Jakarta, MINA – Ketua Pengarah Komite Indonesia Bergerak Selamatkan Bumi (Siaga Bumi) Prof. Din Syamsuddin mengatakan, persoalan lingkungan hidup atau kerusakan lingkungan hidup ini menjadi perhatian bersama.

“Termasuk kalangan agamawan terutama dalam perspektif agama Islam kerusakan lingkungan hidup itu atau kerusakan ekologis, kerusakan ekologis krisis sejatinya adalah krisis moral,” kata Din Syamsuddin saat menjadi yang pemateri dalam Ngaji Lingkungan secara virtual, Jumat (12/6) malam, Jakarta.

Ngaji Lingkungan yang merupakan bagian dari program EcoMasjid yang digagas Lembaga Pemuliaan Lingkungan Hidup & Sumber Daya Alam Majelis Ulama Indonesia (LPLH&SDA MUI) ini disyiarkan secara live melalui channel YouTube EcoMasjid.

Din menegaskan, dengan krisis moral maka kerusakan demi kerusakan akan terjadi.

Ia menjelaskan, Surat Ar-Rum ayat 42 yang artinya, “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia sehingga akibatnya Allah mencicipkan kepada mereka sebagian dari perbuatan mereka agar mereka kembali.

“Saya kira apa yang terjadi pandemi saat ini adalah tidak terlepas dari kerusakan ekologis tersebut,” ucapnya dalam forum virtual yang diikuti pegiat dan pakar lingkungan serta mitra EcoMasjid seluruh Indonesia dan dimoderatori oleh Ketua LPLH&SDA MUI yang juga selaku Ketua Komite Penggerak Siaga Bumi, Dr. Hayu Prabowo.

Maka Islam mengajukan solusi dan dalam Islam banyak membahas ini tentang lingkungan hidup karena Islam sejatinya adalah peduli lingkungan hidup.

Ada sekitar 750 ayat Alquran yang membahas tentang lingkungan hidup itu dari 666 ayat itu yang berbicara tentang alam semesta. Pemeliharaan, pemulian alam dan lingkungan hidup, ujarnya.

Dia juga menjelaskan, hubungan manusia dengan alam semesta, hewan dan tumbuh-tumbuhan, semuanya dalam konteks sama-sama ciptaan Allah yang berjiwa.

“MUI menggunakan pemulian lingkungan hidup, karena tidak sekadar pelestarian, konsep ini adalah manusia sebagai subyek dan alam semesta sebagai obyek yang perlu dilestarikan,” pungkas Din. (L/R8/RS2)

Mi’raj News Agency (MINA)