Din Syamsuddin: Pendidikan Islam Belum Berkembang Secara Maksimal

Ketua Wantim MUI, Din Syamsuddin (Foto : Kurnia/MINA)
Ketua Wantim MUI, Din Syamsuddin (Foto : Kurnia/MINA)

Jakarta, 16 Jumadil Awwal 1437/24 Februari 2016 (MINA) – Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Din Syamsuddin menilai pendidikan Islam belum berkembang menjadi sarana sumber daya insani untuk umat dan bangsa yang maksimal serta berkarakter.

Wantim MUI tengah menggodok konsep pendidikan Islam di Indonesia agar dapat mengarah ke jenjang yang lebih maju.

Transfer ilmu Islam dari guru ke murid belum sampai pada penanaman akhlak,” kata Din dalam rapat Pleno ke-5 Wantim MUI Tema “Revitalisasi Pendidikan slam Problematika dan dan Solusi”. di kantor MUI, Jakarta, Rabu (24/2) Siang.

Din mengakui pendidikan Islam memang belum tampil maksimal. Terdapat sejumlah lembaga pendidikan Islam baik negeri atau swasta yang tergolong menjadi unggulan, dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi. Namun nilainya masih bersifat pengajaran.

Baca Juga:  Standardisasi Halal Global dan Keberagaman Muslim

“Pada dasarnya pendidikan Islam walaupun ada yang maju. Namun belum sampai pada tahap pendidikan Islam yang value-nya hanya bersifat pengajaran,” ujar Din.

Untuk itu, pihak MUI tengah mematangkan konsep revitalisasi di bidang pendidikan agar Islam dapat memberikan kontribusi lebih dalam kehidupan berbangsa dan bernegara sesuai dengan program revolusi mental pemerintah saat ini.

“Maka, dengan revolusi mental dari pemerintah kita dorong Islam ikut jadi bagian menentukan arah bangsa, dan konsep ini akan kita perbaiki”, ujarnya.

“Ada yang maju tapi belum menuju pendidikan dengan nilai watak pendidikan. Masih banyak guru berperan dengan pengajaran untuk transfer ilmu dari otak guru ke otak murid atau belum pada penanaman nilai dan watak, yang disebut dengan karakter atau akhlak,” imbuhnya.
Ia menambahkan, itu harus didorong bahkan bisa membekali peserta didik dengan ‘life skill’.
Saat ini pihak Dewan Pertimbangan MUI tengah membahas kurikulum yang tepat untuk pendidikan di Indonesia agar dapat menghasilkan output sebelum diserahkan kepada pimpinan MUI.

“Biasanya selesai rapat pleno MUI, rapat satu, dua kali rapat untuk membahas lebih lanjut, dan akan diserahkan ke pimpinan agar dapat diobrolkan ke ormas yang lain sebelum disetujui”. (L/P002/P4)

Baca Juga:  Standardisasi Halal Global dan Keberagaman Muslim

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)

Wartawan: kurnia

Editor: Ali Farkhan Tsani