Dinamika Positif Hadhrami di Indonesia

Oleh : Ali Farkhan Tsani, Redaktur Senior Kantor Berita MINA (Mi’raj News Agency)

Pekan kemarin, tepatnya 22-23 November 2017, Hadhramaut Center bekerjasama dengan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Balitbang Kemenag) dan Menara Center mengadakan seminar internasional bertema Dinamika Keturunan Hadramaut di Indonesia.

Pada pengantar konferensi disebutkan, sektar 90% keturunan Arab yang berada di Indonesia berasal dari kota Hadramaut, Yaman Selatan atau disebut dengan  Hadhrami. Mereka berdatangan ke Nusantara pada sekitar abad ke-13 Masehi untuk berdagang sekaligus berdakwah.

Ada juga yang menyebutkan, sebelumnya para pedagang Muslim dari Gujarat, India, sekitar abad 4-11 Masehi sudah lebih dahulu datang ke Indonesia. Namun mereka juga masih keturunan Yaman Selatan, dari garis Abdul Malik Azmathkhan.

Keturunan Arab Hadhramaut di Indonesia banyak yang menjadi pejuang dan ulama terkemuka. Beberapa di antaranya adalah Wali Songo, Imam Bonjol, Sultan Hamid II (Perancang Lambang Garuda), Husein Mutahar (Penyelamat Bendera Pusaka), AR Baswedan, Ali Alatas, Alwi Shibab, hingga generasi saat ini Anies Baswedan. Para Habaib seperti Habib Rizieq pun memiliki garis keturunan Hadhrami.

Dalam konferensi juga disebutkan tentang dinamika orang-orang Hadhrami di Indonesia dalam berbagai bidang. Mulai dari sosial, budaya, pendidikan, ekonomi dan politik.

Berbagai literatur memang mennyebutkan, Hadhrami identik dengan sejarah migrasi, akulturasi, perdagangan dan penyebaran Islam, nasionalisme, dan juga globalisasi.

Secara historis, mereka telah mengenalkan gagasan modernisme dan reformasi Islam di Indonesia. Mereka juga menciptakan dan mengembangkan berbagai pendidikan Islam dan gerakan keagamaan seperti Al-Irsyad dan Jamiat al-Khair, yang memberikan kontribusi signifikan terhadap perjuangan bangsa Indonesia.

Konferensi menekankan, dalam situasi kekinian Indonesia, perlu terus diperkuat politik identitas dalam konteks globalisasi, untuk mencegah terjadinya konflik sosial dari perbedaan etnis maupun agama.

Identitas budaya orang-orang Hadhrami meliputi bahasa, musik, seni, sastra, makanan, dan pakaian; Identitas Sosial, meliputi pernikahan dan sistem kekeluargaaan serta hubungannya dengan masyarakat lokal. Ada juga kontribusi dan aktivitasnya dalam bidang perekonomian, bisnis, pendidikan dan penerbitan di Indonesia.

Simpul-simpul tersebut tentu dapat menjembatani dengan induknya di Yaman sana yang tengah dilanda krisis dan konflik dalam beberapa tahun terkini.

Forum Bisnis

Beberapa waktu lalu, Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Sana’a mengadakan forum bisnis di bidang perdagangan, pariwisata, dan investasi dengan para pengusaha Yaman.

Kegiatan itu dihadiri oleh para pengusaha Yaman yang berdomisili, antara lain di wilayah Ibukota Sana’a, Kota Aden, Hadramaut, Republik Yaman serta di Salalah, Kesultanan Oman, serta pejabat Indonesia.

Kuasa Usaha Ad Interim (KUAI) KBRI Sana’a, Sulthon Sjahril, dalam sambutannya menyampaikan yang menyampaikan gambaran umum tentang hubungan kedekatan sejarah dan diplomatik Indonesia dan Yaman serta menawarkan berbagai peluang dan potensi ekonomi Indonesia saat ini.

Dalam kerja sama ekonomi, tercatat neraca perdagangan bilateral Indonesia-Yaman dari 1990 hingga sekarang terus meningkat. Jika pada 1990 total perdagangan hanya berkisar 10 juta dolar AS (sekitar Rp135 miliar). Maka pada 2015 nilainya meningkat menjadi 89,3 juta dolar AS (Rp1,2 triliun).

Bahkan, di tengah situasi konflik saat ini, pada 2016 nilai perdagangan kedua negara terus meningkat hingga mencapai 158,9 juta dolar AS (Rp2,15 trilun).

Selain itu, dalam kerja sama investasi, para pengusaha Yaman telah menanamkan modalnya di Indonesia di berbagai sektor, antara lain di sektor properti, perkebunan, perikanan, dan kuliner.

Terlebih, era pemerintahan Jokowi sekarang sedang menggiatkan pertumbuhan dan perkembangan ekonomi, dengan berbagai upaya yang dilakukan. Salah satunya mengadakan forum bisnis untuk meningkatkan investasi pihak asing untuk menanamkan sahamnya di Indonesia dalam macam-macam bidang.

Kerukunan Beragama

Peran Hadhrami dalam hidupan berbangsa di Indonesia juga cukup terasa dalam kerukunan umat beragama.

Ini seperti dirilis Kabar24, pernyataan Ketua Yayasan Majma’ Insan Madani, Fikry Haznul yang mengatakan, pengusaha Yamani ikut berperan dalam ikut serta menjaga stabilitas negara serta keutuhan kerukunan umat beragama.

Menurutnya, hal itu juga berlaku bagi kalangan pengusaha lainnya, dalam ikut serta memengaruhi kebijakan pemerintah sekaligus menjaga kerukunan antar umat beragama di tengah masyarakat.

Habib Umar bin Muhammad bin Hafidz, seorang Ulama Besar yang juga  salah seorang Guru Besar dan Pendiri Darul Mustofa Hadramaut Tarim, Yaman, juga berharap para pengusaha Indonesia ikut menyampaikan pesan damai Islam.

Kita berharap peran-peran positif tersebut terus bergulir, menebar persatuan, kerukunan dan kedamaian. Hingga ke negerinya, Yaman negeri penuh hikmah. (A/RS2/RS1)

Mi’raj News Agency (MINA)