Direktur Koperasi212: Dana Zakat Perlu Dioptimalkan

(Ilustrasi: Baznas)

Jakarta, MINA – Direktur Eksekutif Koperasi212 Ahmad Juwaini menilai, pemberdayaan dana zakat sejauh ini belum begitu efektif. Ia menyarankan untuk merubah pola penyaluran dana zakat.

“Saya pikir pengaruh dana zakat untuk kesejahteraan baru sekitar 40 sampai 50 persen. Lembaga zakat harus mengubah program dari yang sifatnya hanya sekedar bagi-bagi uang atau konsumtif atau charity, digeser ke hal-hal yang lebih bersifat subtansial,” kata Ahmad kepada MINA, Rabu (17/1).

Hal itu, kata dia, bisa dilakukan dengan pemberdayaan ekonomi, dengan peningkatan kualitas pendidikan, misalnya yang tadinya tidak lulus SD, kemudian diberi beasiswa sehingga dia bisa menjadi lulus SD, lulus SMP, lulus SMA, dan kemudian setelah di perguruan tinggi dia bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, atau dengan dikasih modal usaha.

“Jadi hal-hal yang seperti itu secara tidak langsung ikut membantu dalam peningkatan kesejahteraan atau peningkatan pendapat masyarakat. Nah itu yang harus lebih banyak ditambahkan ke depan,” ujarnya.

Untuk mencapai hal itu, menurut dia, standar amil zakat mutlak harus ada. Sebab, itu untuk menjaga agar performa lembaga-lembaga zakat itu minimal sama atau bahkan lebih baik dari yang sebelumnya.

“Jadi kalau tidak dibuat standar, itu bisa terjadi penurunan performa karena tidak dikelola oleh orang-orang yang sebenarnya memenuhi persyaratan yang seharusnya dimiliki. Harus ada standar amil zakat,” katanya.

Ia berpesan agar lembaga zakat kembali kepada tanggung jawab utamanya sebagai lembaga zakat yaitu mendayagunakan dana zakat untuk mengentaskan kemiskinan, untuk membantu kehidupan orang-orang miskin.

“Ini harus betul-betul dimanifestasikan dalam spirit kelembagaannya, bukan sekedar aksesoris, kemudian akhirnya lembaga zakat itu kehilangan subtansinya sebagai lembaga zakat yang diamanati oleh masyarakat untuk membantu menolong orang miskin dan mengatasi kemiskinan,” tambahnya. (L/R06/R01)

Mi’raj News Agency (MINA)