Diskusi Palestina dan Yaman di Jakarta Dukung Boikot Produk Israel

Para pembicara berfoto bersama seusai diskusi mengenai Palestina dan Yaman di Gedung Serbaguna Komplek RJA DRP RI, Jakarta, Sabtu. Foto: Rina/MINA

Jakarta, MINA- Setelah Amerika Serikat (AS) menentukan Yerusalem menjadi ibukota Israel secara sepihak, seruan blokade ekonomi terhadap Israel dan yang mendukungnya kembali mencuat di tanah air.

Pada banyak demonstrasi setelah keputusan kontroversial AS itu, masyarakat tanah air sepakat memboikot produk Israel akan menjadi hal nyata yang bisa dilakukan untuk membantu Palestina saat ini.

Pada sebuah diskusi yang diselenggarakan di Jakarta, Sabtu (30/12), perwakilan Komnas HAM Mimin Dwi Hartono yang menjadi salah satu pembicara mengatakan, boikot bisa menjadi salah satu cara yang dilakukan masyarakat internasional untuk menekan Israel dan kebijakannya yang merugikan Palestina selama ini.

“Gerakan Boikot dan Divesment internasional selama ini bisa jadi efektif dan menjadi langkah konkrit untuk membantu,” katanya mengacu pada gerakan BDS (Boycott, Divesment and Sanction) yang dilakukan aktivis dari berbagai dunia secara masif.

Hal sama diamini pengamat Timur Tengah Husein Ja’far yang juga hadir sebagai pembicara. Dia menuturkan sejarah keberhasilan boikot masif terhadap Inggris saat menjajah India.

“Kolonialisme Inggris di India runtuh karena kekuatan boikot yang dideklarasikan oleh Mahatma Gandhi, Amerika pun sekarang pendekatannya ke negara lain terkait Palestina ya dengan pendekatan ekonomi,” katanya kepada media.

Menurutnya, kekuatan ekonomi saat ini sangat kuat dimainkan para pemimpin dunia untuk menekan serta mendorong satu dan yang lainnya.

“Lobi Israel dan AS itu banyak berkaitan dengan ekonomi, memang ekonomi Israel sangat mencengkram kita. Dan banyak yang apatis terhadap ini (boikot), tapi logikanya harus cerdas, misalnya kita boikot makanan atau minuman yang ada alternatifnya,” tambahnya.

Di Eropa, keberhasilan BDS tidak diragukan, berbagai pertunjukkan, kuliah umum, seminar yang mendatangkan tamu dari Israel berhasil dibatalkan para aktivis. Bahkan, Dana pensiun terbesar ketiga di Denmark mengeluarkan bank-bank dan perusahaan Israel dari portofolionya.

Hasilnya, 2016 disebut Israel sebagai tahun terpahit akibat maraknya boikot skala kecil dan besar dari negara-negara Eropa.

Pada diskusi yang diselenggarakan Komite Solidaritas Palestina dan Yaman itu menghadirkan para pembicara dari latar belakang yang berbeda, mulai dari perwakilan Amnesty Internasional  Raafi Nurkarim Ardikoesoema, Aktivis Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) Nurfitri Muslim Taher, Peneliti Palestina Irman Abdurrahman, Pakar media Syafiq Basri Assegaf dan Perwakilan Komisioner Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR) di Indonesia Muhammad Isa.(L/RE1/P2)

 

Miraj News Agency (MINA)