Ditemukan Masjid Sembilan Kubah Berusia Ribuan Tahun di Afghanistan

Masjid Sembilan Kubah Afghanistan (krc.orient)

 

Oleh: Ali Farkhan Tsani, Redaktur Senior Kantor Berita MINA (Mi’raj News Agency)

Di sebuah daerah bernama Balkh, sekitar 20 km barat laut kota Mazar-e Sharif, utara Afghanistan, berbatasan dengan Uzbekistan, terungkap misteri sejarah kuno. Yaitu dengan ditemukannya salah satu masjid tertua di dunia, dengan struktur masih berdiri setelah ribuan tahun tertimbun.

Para arkeolog berusaha untuk mengungkap rahasia masjid yang diberi nama The Nine Domes Mosque (Masjid Sembilan Kubah), karena strukturnya menunjukkan masjid itu memiliki sembilan kubah.

Sisi-sisi dinding masjid setelah digali dan ditelusuri, dihiasi dengan sisa-sisa batu lazuli (biru lazuardi) yang berkilau.

Lapis Lazuli adalah batu indah yang banyak menjadi incaran penggemar batu akik. Batu ini terbentuk dari tiga mineral utama, yaitu : lazurite, kalsit dan pyrite.

Konon, batu jenis ini sudah dipergunakan dan dieksplorasi oleh masyarakat kuno Mesir, Mesopotamia, China,Yunani, dan Roma.

Para arkeolog menyimpukan, struktur kuno bangunan di provinsi Balkh dibangun pada abad ke-8, beberapa waktu setelah Islam masuk ke Asia Tengah. Namun waktu pastinya, juga siapa yang membangun dan pada masa kepemimpinan Islam siapa, masih menjadi misteri.

Para ahli sejarah mengatakan, Islam masuk ke Afghanistan sejak masuknya Asim bin Umar Attamimi pada masa khalifah Umar bin Khattab.

Kemudian pada masa pemerintahan Usman bin Affan, Islam telah memasuki kota Kabul. Pada tahun 870 M, pengaruh Islam telah menyebar di seluruh negeri, terutama pada kepemimpinan Sultan Mahmud Gaznavid, era Dinasti Abbasiyah.

Kembali ke Masjid Sebilan Kubah, pondasi utamanya berukuran 20 x 20 meter persegi.

“Ini adalah mukjizat, bangunan kuno masih kokoh berdiri meski sudah termakan waktu dan erosi,” kata arsitek Italia Ugo Tonietti, dari Universitas Florence, yang mengkhususkan diri pada konservasi warisan budaya kuno.

Masjid yang telah melewati waktu berabad-abad ini, yang dibangun di daerah yang gersang, merupakan salah satu bangunan Islam terbaik dan “sangat berharga dan sangat rentan,” kata Tonietti, seperti dikutip Arab News pada Sabtu (6/1/2018).

Waktu telah menjadikan sebagian besar warna memudar dari aslinya. Namun masjid tersebut menjadi perhatian yang memesona.

“Ini adalah mahakarya. Anda harus membayangkan bagaimana tampilannya, dihiasi sepenuhnya dengan batu lapis biru, beberapa bagian berwarna merah, semuanya dilukis, seperti taman surga di dalamnya, dengan langit di atas, dan kubah dengan hiasan putih dan biru,” lanjutnya.

“Daun pohon anggur yang halus menggores ke pilar menyerupai yang terlihat di Samarra”, kata Tonietti, mengacu pada ibukota Islam abad ke-9 pada masa Kerajaan Abbasiyah, yang terbentang dari Tunisia hingga Pakistan.

Samarra adalah sebuah kota di Irak, di tepi timur Tigris, Provinsi Saladin, utara Baghdad.

Pada abad pertengahan, Samarra adalah ibu kota Dinasti Abbasiyah, yang memiliki tata kota, arsitektur dan peninggalan artistiknya. Pada tahun 2007, UNESCO memasukkan Samarra sebagai salah satu Situs Warisan Dunia.

Nah, masjid di Balkh tersebut, diperkirakan dibangun pada awal tahun 794.

“Ini berarti bahwa masjid pada era Kekaisaran Abassiyah telah dipengaruhi oleh artistik Afghanistan, bukan sebaliknya,” kata Julio Sarmiento-Bendezu, Direktur Delegasi Arkeologi Prancis di Afghanistan, yang memimpin penggalian di lokasi tersebut.

“Masjid ini luar biasa dalam keindahan, konservasi, dekorasi dan pengetahuan yang dimilikinya,” katanya.

Masjid Sembilan Kubah Afghanistan (Archnet)

Misteri Bangunan

Arkeolog juga menyebut nama Noh Gonbad, untuk masjid tersebut, dalam bahasa Persia. Situs ini terdaftar di Monografi World Monuments Fund tahun 2007 dari 100 Situs Paling Terancam Punah di dunia.

Pada akhir 1960-an, seorang arkeolog Amerika Serikat yang bepergian ke wilayah tersebut, meminta warga setempat untuk membawanya ke sebuah masjid yang pernah dihancurkan oleh Genghis Khan, Kaisar Mongol yang mengancurkan seluruh wilayah itu pada awal abad ke-13.

Penduduk desa pun mengantarkannya ke sebuah bangunan kuno yang sepi dan setengah terkubur, sekitar 20 kilometer barat kota Mazar-i-Sharif.

Begitu ditemukan, tapi belum sempat digali, bangunan itu kembali merana, karena Afghanistan dilanda perang dalam beberapa dasawarsa.

Baru kemudian pada tahun 2006 penggalian dimulai di lokasi tersebut.

“Awalnya kami mengira itu adalah monumen yang terisolasi, tapi saat kami melanjutkan, kami melihat bangunan itu menempel pada struktur tua lainnya,” kata arkeolog Sarmiento-Bendezu.

“Pada akhir abad ke-8, ini adalah daerah Budha. Sepertinya bangunan ini dibangun di atas sisa-sisa biara.”

Para arkeolog pun menggali pondasi pilar dengan kedalaman 1,5 meter. Namun survei menunjukkan sisa-sisa yang lebih dalam.

“Ini adalah jendela yang terbuka untuk periode kuno, di sini kita dapat menemukan basis budaya berikutnya,” kata Arash Boostani, seorang arsitek dan insinyur Iran dari Universitas Teheran, yang ditugaskan oleh Aga Khan Trust for Culture (AKTC) untuk bekerja di situs ini.

Arash Boostani, seorang spesialis dalam melestarikan monumen bersejarah, mengatakan bahwa beberapa desain bunga di masjid itu telah diserap dari budaya lokal.

Bangunan yang telah terlindungi dari elemen atap logam, tetap rentan karena struktur bata dan tambal sulamnya rentan terhadap erosi.

Kubah masjid dan sebagian besar bangunan telah runtuh dari strukturnya karena pernah terjadi gempa pada tahun 819, kata Boostani.

Gempa bumi berikutnya, seratus tahun kemudian, sekitar tahun 900, mengguncang dinding luar dan sebagian besar dari 15 lengkungan.

Para ahli pun kini meregangkan jaring fiberglass untuk mendukung dua lengkungan utama yang retak, dan semen yang disuntikkan, tanpa mengubah hiasan gypsum aslinya.

“Tempat itu masih misteri,” kata Sarmiento-Bendezu. “Ada bangunan biara, masjid, dan kami juga menemukan perapian”.

Pada masa sebelum pembangunan masjid, sebagian besar masyarakat di wilayah Balkh, Afghanistan, dikenal sebagai orang Hindustan, pengaruh kekuasaan India.

Arkeolog juga menemukan potongan-potongan kubah yang cukup berat, menutupi makam di dekatnya.

Anehnya juga, warga setempat seringkali berziarah ke tempat itu. terutama para wanita datang untuk berkumpul pada hari Jumat dan menangis di dekat makam seorang yang mereka anggap suci, yang dikuburkan di sana pada abad ke-15. Namun  tidak jelas siapa orangnya.

Mereka hanya menyebutkan tempat itu sebagai kawasan Masjid Hadji Pyada alias Masjid Noh Gonbad alias Masjid Sembilan Kubah (The Nine Domes Mosque or Mosque of Nine Cupolas)

“Seperti semua penggalian, Masjid Sembilan Kubah mengajukan pertanyaan lebih banyak daripada yang mereka jawab,” kata arkeolog tersebut. (A/RS2/P1)

Sumber: Arab News, Peninsula, Wiki.

Mi’raj News Agency (MINA)