Gaza, MINA – Pembatasan yang diberlakukan oleh penjajah Israel terhadap masuknya pasokan medis ke Gaza telah menyebabkan kekurangan kritis yang sangat berdampak pada layanan kesehatan, menurut pernyataan yang dirilis pada Jumat (3/4) oleh Doctors Without Borders (MSF).
Dr. Randa Abu El-Khair Masoud, penasihat medis MSF mengatakan, organisasinya tidak dapat membawa pasokan medis apa pun ke Gaza sejak 1 Januari, meskipun kebutuhan kemanusiaan di wilayah tersebut sangat besar.
“Setiap hari, di rumah sakit dan klinik kami, kami melihat dampak pembatasan terhadap masuknya pasokan medis ke Gaza, Palestina. Kebutuhan di Gaza sangat besar, namun bantuan yang masuk tidak cukup karena otoritas Israel memblokirnya,” kata Masoud.
Ia memperingatkan, hampir 50 persen obat-obatan esensial untuk penyakit tidak menular, termasuk diabetes, hipertensi, gangguan tiroid dan penyakit pernapasan, berada pada tingkat yang sangat kritis.
Baca Juga: Ribuan Warga Argentina Turun ke Jalan Serukan Dukungan untuk Palestina
Karena kekurangan tersebut, MSF telah berhenti menerima pasien baru ke dalam program penyakit tidak menular mereka dan membatasi perawatan hanya untuk pasien yang sudah ada.
“Kekurangan perawatan yang tepat ini pasti akan menyebabkan kematian yang dapat dicegah di antara pasien yang menderita penyakit kronis,” katanya.
Organisasi ini juga menghadapi kekurangan pasokan medis dasar seperti kasa dan kompres, yang mempengaruhi layanan perawatan luka, terutama untuk pasien pasca operasi dan korban luka bakar.
Selama blokade sebelumnya antara Agustus dan September 2025, tim MSF terpaksa menggunakan kasa non-steril yang disterilkan secara bertahap, sebuah tindakan yang dianggap sebagai pilihan terakhir karena risiko infeksi.
Baca Juga: Antrean Panjang di Gaza Jadi Realitas Harian yang Hancurkan Kesehatan Mental
“Sekarang, kita hampir mencapai titik ini lagi,” peringatnya.
Kekurangan peralatan medis semakin membebani layanan kesehatan. Masoud mengatakan tidak ada peralatan baru atau suku cadang yang masuk ke Gaza tahun ini, yang menyebabkan seringnya terjadi kerusakan.
“Tim kami bekerja keras untuk terus memberikan perawatan, tetapi mereka berada di bawah tekanan yang luar biasa,” katanya.[]
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Krisis Tepung Ancam Ketahanan Pangan di Gaza
















Mina Indonesia
Mina Arabic