WARGA GAZA HADAPI AKSI GENOSIDA ISRAEL

Prosesi pemakaman korban agres Israel di Jalur Gaza, 10 Juli 2014. (Foto: Mohammed Al-Dwaihidi/MINA)
Prosesi pemakaman korban agres Israel di Jalur Gaza, 10 Juli 2014. (Foto: Mohammed Al-Dwaihidi/MINA)

Gaza City, 15 Ramadhan 1435/13 Juli 2014 (MINA) – Seorang dokter Palestina asal Gaza dr. Mona Qasim Alfarra menyatakan, seluruh penduduk Gaza menjadi sasaran hukuman kolektif  agresi militer  Zionis Israel ke wilayah tersebut yang menyebabkan jatuhnya banyak korban sipil di pihak rakyat Palestina.

“Ini bukan hanya soal kejahatan perang. Kami sedang menghadapi genosida nyata di Gaza,” tegas Mona dalam pesan yang dirilis melalui akun resmi Facebooknya sebagaimana dikutip Mi’raj Islamic News Agency (MINA), Ahad.

Dokter yang secara langsung bertugas di sebuah rumah sakit di Jalur Gaza itu mengaku bersama rekan-rekannya bekerja siang dan malam untuk memberikan layanan kesehatan dan dukungan psikologis, terutama bagi anak-anak.

Mona mengatakan, hingga saat ini eskalasi militer Zionis Israel ke berbagai wilayah Gaza belum reda. Serangan dilancarkan  sepanjang malam dan siang hari, menargetkan berbagai wilayah, serta muncul dari laut, udara dan darat.

Bahkan, seranganAngkatan Laut Zionis Israel menargetkan pantai Kota Gaza dan lebih jauh ke wilayah utara.

Dia mengungkapkan, serangan militer Zionis Israel yang terus berlanjut ke wilayah kantong Palestina yang terkepung itu dikhawatirkan menelan banyak korban jiwa dari warga sipil, terutama anak-anak dan perempuan.

“Agresi Israel belum berhenti. Jumlah korban meninggal dan terluka terus bertambah,” ujar Direktur Proyek Lembaga Rehabilitasi Anak Middle East Children’s Alliance (Meca) itu.

Hingga berita ini diturunkan, menurut laporan resmi Kementerian Kesehatan Palestina yang diterima Koresponden MINA di Gaza jumlah korban syahid di Gaza mencapai 166 jiwa sedangkan korban luka sudah mencapai angka 1.120 orang.

Mona menjelaskan, saat fajar menyingsing di Gaza, ratusan warga sipil yang membutuhkan perawatan kesehatan rutin tidak dapat mencapai pusat-pusat kesehatan.

Sementara itu, ratusan orang terluka, sebagian besar perempuan dan anak-anak, tidak dapat dibawa ke rumah sakit, menjalani perawatanoleh dokter dan staf medis lainnya yang bekerja di lingkungan yang mengerikan dan berbahaya, di bawah tekanan, dan dengan kekurangan parah obat-obatan dan pasokan medis lainnya yang diperlukan.(L/P02/EO2)

 

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)

Comments: 0