Donor Internasional Janjikan Bantuan $6,7 Miliar untuk Suriah

Brussel, MINA – Donor internasional dalam Konferensi Brussel ke-6 menjanjikan 6,7 miliar dolar AS untuk mendukung Suriah yang dilanda perang dan negara-negara tetangga yang menampung jutaan pengungsi Suriah di tengah perang di Ukraina, dan ekonomi global yang terpukul keras oleh pandemi COVID-19.

Para donor dalam konferensi Brussel pada Selasa (10/5) itu menjanjikan, $4,3 miliar untuk tahun ini dan $2,4 miliar “untuk tahun 2023 dan seterusnya”, sementara lembaga keuangan internasional juga menjanjikan pinjaman $1,8 miliar. PBB telah mencari $ 10,5 miliar untuk tahun 2022.

Komisaris Eropa Oliver Varhelyi mengatakan, janji itu menyampaikan pesan politik yang sangat penting untuk seluruh kawasan.

“Terlepas dari semua perang di Eropa, terlepas dari pandemi, para donor sekarang mengirimkan sinyal yang sangat kuat ke Suriah, dan wilayah bahwa kami siap melakukan lebih dari sebelumnya untuk perdamaian negara itu dan membangun kembali negara itu,” kata Varhelyi seperti dikutip dari Al Jazeera, Rabu (11/5).

Konferensi tersebut, dihadiri oleh 55 negara dan 22 organisasi bantuan internasional, datang pada saat donor bantuan terus memburuk karena pandemi COVID-19, perang di Ukraina, dan dampak ekonomi global mereka.

Kepala Advokasi untuk Timur Tengah di Dewan Pengungsi Norwegia, Samah Hadid, mengatakan masyarakat internasional “tidak bisa berpuas diri”, karena kebutuhan terus meroket di Suriah, mengingat krisis yang semakin parah.

“Sementara dunia berpaling, kebutuhan kemanusiaan di Suriah meroket. Pendanaan diperlukan tetapi kami juga membutuhkan solusi jangka panjang untuk mengatasi berbagai krisis yang melanda negara ini,” katanya.

Namun, Josep Borrell, kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa, mengatakan , “kami tidak melupakan rakyat Suriah”.

“Tentu saja, Suriah dan penderitaan rakyatnya mungkin tidak lagi menjadi pusat berita. Ada kelelahan tertentu setelah 11 tahun, tetapi itu tetap ada di pikiran kita. Kami ingin dan kami perlu memastikan bahwa situasi ini tetap menjadi agenda utama internasional,” ujarnya. (T/R6/P2)

Mi’raj News Agency (MINA)