Dosa Persaksian Palsu

Oleh : Ali Farkhan Tsani, Redaktur Senior Kantor Berita MINA (Mi’raj News Agency)

Di antara dosa-dosa besar yang paling besar, yang harus kita waspadai, perhatikan dan kita hindari adalah persaksian atau perkataan palsu (qouluz zuur). Sampai-sampai Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menggabungkan persaksian palsu tersebut dengan dosa syirik dan durhaka kepada orang tua.

Ini seperti disebutkan di dalam hadits :

أَلَا أُنَبِّئُكُمْ بِأَكْبَرِ الْكَبَائِرِ ثَلَاثًا قَالُوا بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ الْإِشْرَاكُ بِاللَّهِ وَعُقُوقُ الْوَالِدَيْنِ وَجَلَسَ وَكَانَ مُتَّكِئًا فَقَالَ أَلَا وَقَوْلُ الزُّورِ قَالَ فَمَا زَالَ يُكَرِّرُهَا حَتَّى قُلْنَا لَيْتَهُ سَكَتَ

Artinya : “Perhatikanlah, maukah aku tunjukkan kepada kalian dosa-dosa besar yang paling besar?” Beliau mengatakannya sampai tiga kali. Para shahabat menjawab, “Tentu wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Syirik kepada Allah dan durhaka kepada kedua orang tua.”  Dan beliau duduk, sedangkan sebelumnya beliau bersandar. Lalu bersabda, “Perhatikanlah, dan perkataan palsu”. Beliau mengulanginya sampai kami berkata, “Seandainya beliau berhenti”. (HR Bukhari dan Muslim).

Jika dosa syirik itu berkaitan dengan Allah, dan durhaka berkaitan dengan kedua orang tua. Maka, persaksian palsu itu berkaitan dengan nasib seseorang atau beberapa manusia yang terdampak dari dosa tersebut.

Apalagi jika itu berlaku di dunia persidangan yang akan menentukan hukuman seseorang. Bisa jadi dengan persaksian palsu satu atau lebih orang, dapat menetapkan seseorang yang tidak bersalah menjadi terhukum. Atau malah sebaliknya, bisa juga menjadikan yang semestinya bersalah, menjadi bebas dari hukuman.

Dalam tinjauan psikologi, orang yang bersaksi atau memberikan keterangan palsu atau dusta, akan cenderung diikuti oleh kepalsuan dan kedustaan berikutnya. Hingga yang bersangkutan dapat dikatakan sebagai pendusta.

Dalam hal ini, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memberikan peringatannya:

إِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِى إِلَى الْبِرِّ، وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِى إِلَى الْجَنَّةِ، وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَصْدُقُ حَتَّى يَكُوْنَ صِدِّيْقًا. وَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِى إِلَى الْفُجُوْرِ، وَإِنَّ الْفُجُوْرَ يَهْدِى إِلَى النَّارِ، وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَكْذِبُحَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ كَذَّاباً

Artinya : “Sesungguhnya kejujuran akan membimbing menuju kebaikan, dan kebaikan akan membimbing menuju surga. Sesungguhnya seseorang akan bersungguh-sungguh berusaha untuk jujur, sampai akhirnya ia menjadi orang yang benar-benar jujur. Dan sesungguhnya kedustaan akan membimbing menuju kejahatan, dan kejahatan akan membimbing menuju neraka. Sesungguhnya seseorang akan bersungguh-sungguh berusaha untuk dusta, sampai akhirnya ia benar-benar tertetapkan di sisi Allah sebagai seorang pendusta.” (HR Bukhari dan Muslim).

Berkaitan dengan hal ini, Ibnu Hajar Al-Asqalani menjelaskan, berdasarkan hadits Nabi, tanda-tanda orang munafik di antaranya adalah dusta. Tandanya, dusta dalam perkataannya, dusta dalam amanahnya dan dusta dalam janjinya. Termasuk dusta dalam perkataan yaitu persaksian palsu.

Karena itu, persaksian palsu dikategorikan ke dalam dosa besar, digabungkan dengan dosa kemusyrikan kepada Allah dan dosa durhaka kepada kedua orang tua.

Bahkan persaksian palsu dampaknya jauh lebih besar, sebab berkaitan dengan ketidakadilan, penodaan kehormatan seseorang, hingga nyawa manusia yang dapat terancam.

Semoga kita dapat menghindarinya. Aamiin. (A/RS2/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)